Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Belajar Memasak


__ADS_3

"Baiklah, aku akan ke sana sekarang,"


Jesslyn mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi ke kamar mandi. Dia berencana untuk belajar memasak dari Sunny, Jesslyn tidak ingin menjadi istri yang tidak berguna karena tidak tahu bagaimana caranya memasak yang benar.


Meskipun pernikahannya dan Lucas hanya sebatas pernikahan kontrak. Namun Jesslyn tetap ingin menjadi istri yang sempurna untuknya. Setidaknya dia meninggalkan kesan baik setelah mereka berpisah.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Lucas melihat Jesslyn yang sudah rapi dan bersiap untuk pergi.


"Ke rumah, Sunny. Aku berniat untuk belajar memasak darinya," jawab Jesslyn sambil membetulkan tali heelsnya.


Lucas memicingkan matanya. "Belajar memasak?" Jesslyn mengangguk. "Untuk apa? Kenapa kau harus repot-repot belajar memasak segala, bukannya kita bisa memesan dari luar? Saat free, aku bisa memasak untuk kita berdua." Ucapnya.


"Mana bisa begitu!! Sebagai seorang istri, aku juga ingin bisa memasak dan menyiapkan sarapan serta makan malam untukmu. Setidaknya sebelum kontrak nikah ini berakhir dan kita benar-benar berpisah, aku bisa memberikan yang terbaik untukmu, supaya kau tidak lupa jika dulu ada seseorang yang pernah sangat memperhatikanmu." Ujar Jesslyn sambil menarik sudut bibirnya.


Tiba-tiba matanya memanas. Wanita itu berbalik badan untuk menyeka air matanya yang menggenang di pelupuknya. Jesslyn tersenyum, kemudian dia berbalik badan. "Sunny, sudah menungguku, aku pergi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Sesak menghimpit dada Lucas. Entah apa sebabnya, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman ketika Jesslyn membahas tentang kontrak nikah mereka yang hampir berakhir. Tiga bulan, hanya tersisa tiga bulan lagi. Entah apa sebabnya, Lucas merasa tidak rela jika pernikahannya dan Jesslyn harus berakhir.


"Jesslyn, tunggu!!" seru Lucas dan menghentikan langkahnya. Kemudian dia mengayunkan kedua kakinya bergantian dan menghampiri wanita itu.


Jesslyn menoleh dan menatap Lucas dengan bingung. "Ada apa?"


Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa, aku akan mengantarkan mu ke sana," ucapnya sambil melewati Jesslyn begitu saja.

__ADS_1


Jesslyn kembali menoleh dan menatap punggung Lucas yang semakin menjauh dengan bingung. Kemudian dia menyusul suami kontraknya tersebut dan mereka berjalan beriringan.


"Bukankah kau harus pergi ke kantor untuk bekerja? Kenapa malah ingin mengantarku? Aku pergi sendiri saja, lagipula banyak kendaraan umum, kok. Aku pergi dengan taksi saja," Ucap Jesslyn.


Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa, kebetulan hari ini aku sedikit malas untuk pergi ke kantor. Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu." Ucap Jesslyn dan dibalas anggukan oleh Jesslyn. Jesslyn tidak bisa menolak niat baik Lucas, lagipula itu akan menghemat waktu dan uang.


.


.


Empat puluh menit berkendara. Mereka berdua tiba di kediaman Lee. Jesslyn menoleh pada Lucas yang duduk di balik kemudi. "Sebaiknya kau ikut turun dan masuk ke dalam. Aku akan memperkenalkan mu pada sahabatku itu," ucap Jesslyn. Dia mengajak Lucas untuk masuk ke dalam, Jesslyn berencana untuk mengenalkan Lucas pada sahabatnya tersebut.


Lucas melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya dan mengangguk. "Baiklah,"


Mereka turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam. Rumah itu tampak sepi karena hanya Sunny sendiri yang menempatinya, dua orang tuanya berada di luar negeri dan Sunny merupakan anak tunggal, itulah yang membuatnya terkadang merasa kesepian.


Melihat sikap Jesslyn, membuat Lucas berpikir jika dia sudah sering datang ke rumah ini, buktinya dia bersikap seolah-olah berada di rumahnya, bahkan dia tidak terlihat sungkan sama sekali.


Tampak seorang wanita bertubuh mungil dan bermelon besar menghampiri mereka berdua, dan wanita itu pastinya adalah Sunny. "Kau sudah datang, aku sudah menunggumu dari tadi Ngomong-ngomong siapa pria tampan yang datang bersamamu itu? Apa dia kekasihmu? Ngomong-ngomong dia mirip sekali dengan, Tuan Muda Qin Sunny," ujar Sunny setengah berbisik.


Jesslyn lupa jika Sunny belum tahu bila dirinya sudah menikah. "Bukan, tapi dia suamiku. Bukan hanya mirip saja, karena dia adalah Tuan Muda Qin, Lucas Qin." Tutur Jesslyn dan membuat pupil mata Sunny membulat sempurna.


"What, suamimu? Kau tidak sedang demam lalu mengarang cerita bukan? Serius, kau dan dia sudah menikah?!" tanya Sunny memastikan.

__ADS_1


Jesslyn mengangguk membenarkan. "Ya,"


"Kapan, di mana dan kenapa kau tidak memberitahuku?" Sunny menatap Jesslyn dengan tatapan bertanya. Dia membutuhkan sebuah jawaban yang valid.


"Itu tidak penting. Karena ada hal lebih penting yang harus kita lakukan sekarang!! Cepat ajari aku memasak!!" rengek Jesslyn memohon.


"Astaga, aku sampai lupa. Ayo pergi ke dapur. Pertama-tama kau harus menyiapkan minuman untuk suamimu dulu. Aku siapkan bahan-bahannya terlebih dulu," ucap Sunny dan di balas anggukan oleh Jesslyn.


Sementara itu, Lucas yang mendengar jelas obrolan mereka hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. sikap Jesslyn ketika bersama sahabatnya berubah 180°. Dia bukan lagi wanita pendiam yang tidak banyak bicara, sisi lain yang tidak pernah Lucas lihat pada diri Jesslyn, dia lihat hari ini.


Pandangan Lucas tak lepas sedikitpun dari sosok Jesslyn yang sedang menghampirinya sambil membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat cangkir berisi cairan hitam, kopi. Jesslyn tahu betul apa yang dia sukai dan tidak sukai, itulah Kenapa dia lebih memilih membawakannya kopi panas dibandingkan minuman lainnya seperti jus atau teh hangat.


"Kopimu. Apa kau bosan?" tanya Jesslyn sambil menatap langsung ke mata hitam Lucas. "Jika kau bosan, kau boleh pulang duluan, mungkin aku agak lama di sini."


Lucas tampak berpikir. "Setelah aku habiskan kopiku. Jika sudah selesai, hubungi aku, ku jemput kemari." Ucap Lucas dan di balas anggukan oleh Jesslyn.


Setelah menghabiskan kopinya, Lucas meninggalkan kediaman Sunny. Dia akan kembali lagi nanti untuk menjemput Jesslyn. Setelah kepergian Lucas, di kediaman Lee hanya menyisakan Jesslyn dan Sunny. Sunny sedang mengajari Viona memasak di dapur.


"Ahhh," pisau di genggaman Jesslyn terlepas begitu saja saat tanpa sengaja menggores ujung jarinya. Hal itu membuat Sunny sangat panik saat melihat darah keluar dari ujung jari telunjuk Jesslyn yang tergores.


"Astaga, kenapa malah jadi begini? Harusnya kau itu hati-hati. Sebaiknya cuci darahnya sampai bersih terus kita obati lukanya." Ucap Sunny dan di balas anggukan oleh Jesslyn.


Sunny menghela napas. Baru juga mulai, Jesslyn malah terluka. Dia benar-benar ceroboh dan tidak berhati-hati. Sepertinya sahabatnya itu memang tidak berbakat dalam hal memasak, buktinya baru saja mulai malah membiarkan ujung jarinya terluka. Dan kegiatan belajar memasak pun di hentikan detik itu juga.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2