Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Nomor Asing


__ADS_3

Semarak kehidupan di perkotaan tidak hanya bergema di siang hari, ketika seluruh penghuninya berpacu dengan waktu untuk mengais rejeki. Di malam hari, ketika para penghuni kota selesai dengan pekerjaannya, mereka pun melepas lelah.


Semarak lain kehidupan perkotaan dimulai. Pusat perbelanjaan, restoran, dan berbagai tempat hiburan lainnya diramaikan para penghuni kota yang hendak berkumpul bersama teman dan keluarga atau mereka yang sekedar melepas kepenatan.


Gemerlap lampu kota memeriahkan kehidupan malam, larut dalam hiruk pikuk dalam temaram. Di sebuah ruangan di gedung perkantoran, tampak seorang lelaki tampan namun minim ekspresi berdiri berhadapan dengan sebuah dinding kaca, kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celana hitamnya.


Suara decitan pada pintu sedikit menyita perhatiannya. Lelaki itu menoleh dan seorang wanita menghampirinya. "Mia, kau datang?" kemudian dia beranjak dan menghampiri wanita itu 'Mia'.


"Aku datang mengantarkan makan malam untukmu. Nick, kemari lah dan kita makan sama-sama," ucapnya Mia dan dibalas anggukan oleh pria itu.


Mia rela menunda makan malamnya hanya untuk makan malam bersama Nicholas, suaminya. Begitu besar rasa cinta yang dimiliki oleh Mia untuk Nick, cinta Mia untuknya begitu tulus sehingga membuat Nicholas tidak tega untuk menyakitinya, meskipun dia tidak pernah mencintai Mia, namun sebisa mungkin Nick menjaga perasaannya karena dia takut menyakiti hatinya.


"Apa kau belum makan malam?" tanya Nick, Mia menggeleng. Nick menghela nafas. "Kau tidak perlu menungguku untuk makan malam. Mulai sekarang, aku tidak ingin mendengar alasan apapun, pokoknya kau tidak boleh menungguku. Meskipun aku tidak ada, kau tetap harus makan. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit karena telat makan," ucap Nicholas menegaskan.


Mia tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Ya, baiklah aku berjanji." Jawabnya dengan senyum yang sama.


Meskipun hanya sekedar perhatian kecil yang dia dapatkan, namun hal itu lebih dari cukup untuk membuat Mia bahagia. Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya, dan senyum lebar Mia membuat Nicholas ikut tersenyum juga.


"Oya, Mia... Akhir pekan ini kau ada acara di Boutique tidak? Teman lamaku mengundang kita untuk makan malam di rumahnya, dan aku sangat harap kau bisa meluangkan waktumu dan ikut pergi bersamaku." ucap Nicholas, dia sangat-sangat berharap Mia bisa ikut pergi bersamanya.


"Aku tidak bisa memastikannya, akan ku usahakan untuk bisa pergi denganmu." jawab Mia. Dia tidak bisa berjanji pada Nick, namun sebisa mungkin akan Mia akan mengusahakannya untuk ikut pergi bersama suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak bisa aku bisa pergi sendiri."


"Akan ku usahakan," Mia menyela ucapan Nicholas. Tidak bisa membuat suaminya kecewa.


Nick mengangguk. "Aku mengerti. Tapi jika memang tidak bisa tidak perlu di paksakan juga, aku bisa mengerti kok." Ucap Nick sambil menepuk kepala berhelaian hitam milik Mia. Dia sangat memahami kesibukan istrinya di Boutique. Dan Nicholas tidak akan memaksa Mia untuk ikut bersamanya, jika dia memang tidak bisa.


"Nanti saja kita bahas lagi. Makanannya sudah semakin dingin, sebaiknya kita makan sekarang." ucap Mia dan dibalas anggukan oleh Nicholas.


Selanjutnya makan malam mereka lalui dengan tenang, tidak ada lagi obrolan antara Nick dan Mia, keduanya sama-sama diam dalam kebisuan. Sama-sama terlahir d tengah keluarga berada, mereka berdua tentu mengerti tata Krama ketika sedang makan. Tanpa suara, dan tanpa obrolan.


xxx


Cklekkk...


"Aku membawakan makan malam untukmu. Kau pasti sudah lapar," ucap Jesslyn sambil meletakkan nasi dan lauk di atas meja. "Letakkan ponselmu, ayo makan malam dulu."


Lucas mengangguk. Dia meletakkan ponselnya lalu menghampiri Jesslyn kemudian duduk berhadapan dengannya. "Kenapa tidak memanggilku turun saja, kenapa harus dibawa kemari? Lagipula keadaanku tidaklah suara itu, memang agak sedikit pusing tapi sekarang sudah jauh lebih baik."


"Aku takut kau tiba-tiba pusing lalu terjatuh. Makanya aku membawa makan malam kita kemari. Maaf, karena aku memesannya dari luar, jujur saja aku tidak pandai memasak." ucap Jesslyn penuh sesal.


Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa dan aku tidak mempermasalahkannya, mau masakanmu sendiri ataupun memesan dari luar, bagiku itu sama saja karena sama-sama mengenyangkan, jadi kau tidak perlu mempermasalahkannya." tutur Lucas. Jesslyn mengangguk.

__ADS_1


Tiba-tiba Jesslyn terdiam. Dia teringat akan sesuatu. Sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari bibir ranumnya. "Oya, Lu. Apa aku memberikan nomor ponselku kepada orang lain? Seharian ini ada nomor asing yang terus saja menghubungiku, dan itu membuatku sangat terganggu." Ujar Jesslyn.


Lucas menggeleng. "Tidak. Memangnya apa yang dikatakan orang itu padamu?" tanya Lucas memastikan.


Jesslyn menggeleng. "Tidak satupun panggilannya ada yang aku terima, semua panggilan yang masuk dari nomor itu aku tolak. Aku benar-benar terganggu, aku sudah bertanya pada Kakek tapi dia tidak tahu. Aku coba bertanya pada Papa tapi nomornya sibuk terus. Kira-kira siapa, ya?" Jesslyn berpikir dengan keras, dia terus bertanya-tanya siapa orang yang terus-terusan menghubunginya dan itu sangatlah mengganggunya.


"Kalau begitu kita tukaran nomor saja. Kau pakai ponselku, untuk sementara ponselmu biar aku yang memegangnya. Aku akan menyelidiki si penelpon itu dan membereskannya." ujar Lucas.


"Lalu bagaimana jika ada panggilan penting yang masuk? Pasti banyak rekan bisnismu tang kebingungan karena ponselmu tiba-tiba tidak bisa dihubungi."


Lucas menggeleng. "Tidak. Aku memiliki dua ponsel, pribadi dan bisnis. Rekan-rekan Bisnisku sudah pasti menghubungi nomor Bisnis, bukan pribadi. Hanya orang-orang terdekatku saja yang mengetahui nomor itu, jadi kau tidak perlu cemas orang-orang akan mengganggumu." Ujar Lucas.


Akhirnya Jesslyn setuju untuk bertukar ponsel dengan Lucas, sampai dia berhasil mengetahui siapa orang yang terus menghubunginya dan menggangunya.


Tiba-tiba keheningan menyelimuti kebersamaan pasangan suami-istri tersebut. Diam-diam Lucas terus menatap istri kontraknya tersebut. Pernikahan mereka sudah berlangsung selama tiga bulan, artinya hanya tersisa tiga bulan lagi. Setelah kontrak pernikahan itu berakhir, mereka berdua akan menjadi orang asing. Baru membayangkannya saja entah kenapa malah membuat dada Lucas terasa sesak.


Sadar sedang di perhatikan. Jesslyn menoleh dan membuat mata berbeda warna mereka saling bertemu dan bersirobok. Saling mengunci selama beberapa detik, sebelum akhirnya Jesslyn sendiri yang mengakhiri kontak mata tersebut.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Jesslyn mengakhiri keheningan. Dia melihat piring Lucas telah kosong. Selanjutnya dia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Jesslyn melenggang keluar membawa piring dan beberapa wadah kosong untuk kemudian di bereskan di dapur. Ia dan Lucas baru saja menyelesaikan makan malamnya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2