
Jesslyn menghampiri sang ayah yang sedang terbaring tak berdaya di ruang unit gawat darurat. Melihat wajah pucat ayahnya membuat hatinya serasa diiris-iris. Dia benar-benar sedih melihat ayahnya yang tampak lemah itu. Membuat rasa takut seketika menggerayangi perasaannya, Jesslyn takut dia juga pergi meninggalkannya.
"Papa," seru Jesslyn dengan lirih. Dia meraih tangan Hans Valentino dan menggenggamnya dengan lembut. "Apa yang terjadi padamu, kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?" tanya Jesslyn dengan parau.
Hans Valentino mengusap kepala putrinya. "Jesslyn, putriku. Nak, Papa rasa waktu yang kumiliki sudah tidak banyak lagi. Papa, memiliki satu permintaan untukmu." Ucap Tuan Valentino dengan nada yang sangat pelan.
"Papa, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau akan baik-baik saja. Memangnya apa permintaanmu? Katakan, Pa. Aku pasti akan menurutinya," ujar Jesslyn dengan parau. Dia semakin takut setelah mendengar perkataan ayahnya.
Tuan Valentino tersenyum kecil. "Kau memang putri Papa, Jess. Papa, hanya ingin melihatmu menikah dan memiliki pasangan. Hanya itu permintaan Papa sebelum pergi, apa kau bisa mengabulkannya, Nak?" tanya Hans Valentino sambil menatap Jesslyn penuh harap.
Pupil mata Jesslyn membulat mendengar permintaan ayahnya. Dan seketika dia teringat pada kata-kata dokter, yang memintanya supaya mengabulkan apapun permintaan ayahnya meskipun ia sangat berat untuknya.
Jesslyn mengigit bibir bawahnya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang, menuruti permintaan ayahnya atau justru mengabaikannya.
Dia benar-benar bimbang antara menurutinya atau menolaknya. Karena jika menurutinya, maka dia akan kehilangan hidupnya. Tapi jika dia menolaknya, takutnya kondisi ayahnya semakin memburuk. Sepertinya dia memang tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan sang ayah.
Jesslyn mengambil napas panjang dan menghelanya. "Baiklah, Pa. Aku akan menikah seperti permintaanmu!!"
xxx
Tubuh ramping itu dalam balutan gaun pengantin cantik berwarna putih tulang. Wajah cantiknya dipoles i make up tipis terkesan natural.
Tidak ada kebahagiaan terlukis di wajah cantiknya, hanya kesedihan dan pasrah yang terlihat dari sepasang biner matanya. Padahal ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Bukankah seharusnya dia merasa bahagia? Namun yang dia rasakan malah sebaliknya.
"Kau bisa membatalkan pernikahan ini. Bukankah kau memiliki kesempatan untuk menolaknya," ucap seorang pemuda yang berdiri di samping kanannya.
__ADS_1
Gadis itu menoleh. Disampingnya, berdiri seorang lelaki tampan dalam balutan jas hitam rapi. Dia adalah calon suami gadis itu yang pastinya adalah Jesslyn. "Dan membiarkan kondisi Papa semakin memburuk?!" Jesslyn menyela cepat.
Laki-laki itu menghela napas. "Jadi kau ingin menerima perjodohan itu?" tanya laki-laki itu sambil mengunci mata Hazel milik Jesslyn.
"Lalu apakah aku memiliki pilihan untuk menolaknya?" Jesslyn menatap calon suaminya itu dengan tatapan bertanya. Gadis itu tersenyum kecut."Bahkan aku tidak memiliki pilihan." Lanjutnya menambahkan.
"Apa kau memiliki persyaratan untuk menerima pernikahan ini? Jujur saja aku sendiri juga belum siap untuk menikah dan berumah tangga. Tapi Kakek terlalu memaksa sehingga aku sendiri tidak memiliki pilihan lain. Jadi, katakan apa persyaratan mu. Selama aku mampu, apapun itu pasti aku menyetujuinya." Ujar laki-laki itu yang pastinya adalah Lucas.
"Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian ini. Pernikahan ini harus berakhir setelah 6 bulan. Kau bisa membacanya terlebih dulu dan aku harap dirimu tidak keberatan dengan persyaratan dalam kontrak nikah yang aku buat. Dan ada beberapa poin penting yang harus kau setujui, salah satunya adalah tidak boleh berhubungan badan." Tutur Jesslyn.
Jesslyn memberikan selembar kertas pada Lucas dan meminta dia untuk segara menandatanganinya. Untuk berjaga-jaga, dia membuat surat perjanjian tersebut. Dia tidak ingin mengalami kerugian apapun dalam pernikahan tersebut.
"Aku setuju. Persyaratan yang kau ajukan tidak begitu memberatkan dan sangat masuk akal. Sebaiknya kita masuk sekarang, mereka sudah menunggu di dalam." Ucap Lucas dan dibalas anggukan Oleh Jesslyn. Keduanya berjalan beriringan memasuki ruang inap Tuan Valentino.
.
.
Tuan Valentino dan Kakek Qin tersenyum lebar. Bahkan mereka berdua sampai menitihkan air mata, akhirnya acara pernikahan Jesslyn dan Lucas berjalan dengan lancar. Meskipun hanya pernikahan sederhana dan di rumah sakit, namun pernikahan mereka berdua tetap sah dimata hukum dan agama.
"Selamat untuk kalian berdua. Dan selamat datang dalam keluarga Qin, Jesslyn." Ucap Kakek Qin sambil tersenyum lebar.
Kakek Qin menyambut Jesslyn ke dalam keluarganya dengan hangat. Dia sangat bahagia karena akhirnya Lucas menikah, yang lebih membahagiakan lagi orang itu adalah cucu dari mendiang sahabatnya.
"Jesslyn, terimakasih kau sudah mengabulkan permintaan, Papa. Kau memang anak yang baik, Papa bangga memiliki putri sepertimu." Ucap Tuan Valentino sambil tersenyum lemah.
__ADS_1
Rasanya Jesslyn ingin menangis. Semua orang berbahagia dengan pernikahannya dan Lucas. Meskipun sangat berat dan menyesakkan, tetapi Jesslyn tetap harus menerimanya
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kalian pulang ke rumah. Kondisi Ayahmu juga sudah semakin membaik, di sini biar Kakek yang membantu menjaganya untukmu." Ucap Kakek Qin.
Pandangan Jesslyn lalu bergulir pada sang ayah. Pria itu menganggukkan kepala. Jesslyn menghela napas. Dia menganggukkan kepala kemudian pergi bersama Lucas, suaminya. Setelah keluar dari rumah sakit, maka kehidupan baru Jesslyn pun di mulai. Dia bukan lagi berstatus sebagai seorang single, melainkan istri orang.
.
.
Mereka tiba di rumah. Jesslyn benar-benar merasa asing dengan tempat dimana dia berada saat ini. Bukan apartemen pribadinya apalagi kediaman Valentino, melainkan kediaman Qin, tempat tinggal suaminya.
Lucas menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Kenapa hanya diam saja di sana. Ayo masuk,kau pasti lelah dan butuh istirahat." Ucap Lucas. Jesslyn tidak memberikan respon apa-apa, gadis itu hanya menganggukkan kepala kemudian melenggang masuk ke kediaman Qin bersama Lucas.
"Tuan Muda," sabut seorang pria setengah baya saat melihat kedatangan Lucas.
"Dia adalah istriku, Jesslyn. Untuk itu perlakukan dia dengan baik, sampaikan pesan ini pada semua pelayan dan jika ada yang berani mempersulitnya maka harus berhadapan langsung denganku," ucap Lucas dan dibalas anggukan oleh pria tersebut.
"Baik, Tuan Muda." Jawab pria paruh baya itu sambil membungkukkan badan.
Pandangan Lucas kemudian bergulir pada Jesslyn. Membuat mata berbeda warna milik mereka berdua saling bertemu dan bersirobok. "Ayo, aku antar kau untuk istirahat," ucap Lucas dengan nada datar, begitu pun dengan ekspresi dan mimik mukanya. Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi sama sekali.
Jesslyn hanya menganggukkan kepala, mereka berdua kemudian berjalan beriringan menuju lantai dua. Jesslyn terus menghela napas di tengah langkahnya. Yang terjadi hari ini seperti mimpi, dia sekarang telah berstatus sebagai suami orang.
xxx
__ADS_1
Bersambung.