
Ara melamun duduk di tepi ranjang rumah sakit. dia masih mempertimbangkan tawaran Elang yang sudah di bicarakan tempo hari. satu sisi Ara tidak ingin melakukannya karna baginya pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, selain itu dia juga belum siap untuk menikah di usianya yang masih sangat muda namun di sisi lain Ara juga memikirkan nasib kedua orang tuanya yang hidup di jalanan, dia ingin melarikan diri namun itu sangatlah tidak mungkin dan tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.
"Kenapa mbak menangis?" tanya salah satu suster yang memasuki ruangannya.
"Ahh suster, saya kira tadi pak Elang yang datang, saya tidak papa kok, hanya sedang merindukan orang tuaku saja." Ara langsung menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Ohh maafkan saya mbak, tadi saya kira mbak sedang istirahat, jadi saya buka saja pintunya."
"Iyaa nggak papa kok." jawab Ara
"Kenapa mbak menangis. tadi pak Elang tidak datang ke sini tapi sekretarisnya yang datang menanyakan kondisi mbak, dan setelah itu pergi begitu saja." suster yang memeriksa Ara sebenarnya tahu masalah yang sudah menimpa Ara, karna berita saat dia di fitnah sebagai pelakor sudah tersebar di dunia internet.
"Owh benarkah?" Ara mulai tenang karna Elang tidak menjenguknya hari ini dan tidak harus membicarakan masalah pernikahan.
"Iyaa mbak, mungkin mbak besok sudah bisa pulang." imbuhnya suster
"Owhh iyaa terimakasih sus."
"Iyaa sama-sama mbak. sabar yaa mbak Tuhan pasti memiliki rencana yang lebih indah. saya awalnya juga mengira kalau mbak memang merebut pak Elang, tapi setelah pak Elang menjelaskan yang sebenarnya, semua orang percaya, dan tidak ada satu orang pun yang berani membicarakan hal yang tidak baik tentang mbak Ara." suster mencoba menenangkan Ara yang sedari tadi terlihat gelisah.
"Owhh iyaa sus." Ara tidak menyangka kalau Elang memiliki sisi baik yang mau menjaga nama baiknya juga.
"Mbak beruntung loh bisa mendapatkan pak Elang, karna dari sekian banyak wanita tidak ada yang bisa menaklukkan hatinya, bahkan ibunya juga menjodohkannya dengan seorang model wanita kaya raya, namun pak Elang menolaknya dan lebih memilih mbak Ara." suster tersebut tidak tahu kalau mereka hanya sandiwara.
"Benarkah, suster kok bisa tahu?" Andai suster mengetahui yang sebenarnya pasti dia tidak akan berbicara seperti itu.
"Siapa sih mbak yang tidak kenal pak Elang, pria yang cerdas, tampan dan sangat kaya rayaa, wahh idaman banget pokoknya." suster memuji Elang.
"Owh begitu, iyaa sus." Ara sekarang lebih merasa tenang mendengarkan penjelasan suster tersebut setidaknya dia tidak menikah dengan pria mantan pidana.
"Kalau begitu saya permisi dulu mbak, selamat beristirahat." pamit suster.
"iyaa sus." Ara sangat lega mendengar namanya yang sudah tidak di cap lagi sebagai pelakor. Ara juga baru sadar kalau Elang melakukannya demi menjaga nama baik perusahaan mendiang papanya, bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja dan selain itu Elang juga akan menanggung semua kebutuhan keluarga Ara termasuk membiayai sekolah adiknya sampai lulus kuliah, dan menurutnya itu sudah lebih dari cukup untuk membayar pengorbanannya.
Di Rumah Elang
"Kakak kenapa terlihat lesu?" Charoline bertanya pada Elang yang sedari tadi terlihat seperti tidak memiliki tenaga.
"Apa ada masalah yang memberatkan fikiran kakak?"
"Kenapa kamu sangat sotoyy gadis jelek, tidak ada, kakak hanya kecapekam saja memikirkan masalah kantor." jawab Elang
"Sudahlah kak, kakak jangan berbohong." Charoline sangat hafal dengan sifat kakaknya, walaupun ada masalah tersulit pun di kantor pasti kakaknya tidak akan semurung itu.
"Dasar gadis bodoh, kepo banget sama masalah orang." Elang menjewer pipi Charoline yang tembem, karna baginya meledek adik kesayangannya adalah hal yang sangat menarik.
__ADS_1
"Awwwwww sakiitttt kaaaakkkk.!" bentak Charoline yang pipinya sudah terasa panas.
"Ya sudah kakak mau mandi dulu, udah sore, kamu cepat mandi sana, baukk taukk, jangan cuman ngepoin urusan orang mulu." ledek Elang sambil meninggalkan adiknya yang duduk di tepi ranjangnya.
"Kau ini yaaa, dasar kakak jelekkk, nyebeliiin." Ara sangat kesal pada kakaknya yang tidak pernah jujur setiap kali di tanya tentang masalahnya. Elang selalu saja menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Setibanya di rumah sakit Elang langsung menuju ruangan Ara. dia harus membicarakan masalah pernikahannya dengan gadis kecilnya,sebelum Angel mengetahui semuanya dan merusak rencana Elang yang sudah di rancang dengan baik.
"Martin apa ada masalah tentang kesehatan gadis itu?" Elang bertanya pada Martin.
"Tidak ada pak bos, dia sudah berangsur membaik dan besok juga sudah di ijinkan untuk pulang." jawab Martin.
"Ya sudah, kau pulang saja, siapkan untuk besok, dan jangan lupa besok kamu menggantikanku memimpin rapat." perintah Elang.
"Siapp pak boos, kalau begitu aku akan pulang sekarang, daaaa pak boos." Martin langsung pergi begitu saja dan Elang langsung membuka pintu kamar Ara, namun Ara sudah tertidur sangat nyenyak.
"Bangunlah." Elang mencoba membangunkannya dan sekejap Ara langsung sadar dengan suara Elang.
"Kk kenapa bapak datang selarut ini?" Ara mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukankah ada hal yang harus kita bicarakan mengenai pernikahan kita, yang tentunya kamu juga tidak akan bisa menolaknya."
"Tentu bapak juga sudah tahu jawabannya, karna saya menolak pun hasilnya tetap sama, dan kalau saya nekad bunuh diri yang ada orang tua saya yang akan menanggung semuanya"
"Kamu cerdas juga ternyata."
"Apa kamu mencoba meminta belas kasihan pada saya?" tanya Elang yang mulai kesal dengan jawaban Ara.
"Belas kasihan? saya tidak membutuhkan belas kasihan dari bapak, karna setelah semuanya selesai kita bisa bercerai dan tentu saya akan terbebas dari bapak."
"Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni ucapanmu yang tidak bermutu, besok saya sendiri yang akan mengantarmu pulang, dan acara pernikahan akan di adakan besok lusa, saya harap kamu bisa melakukannya sebaik mungkin."
"Bapak tidak perlu mengajarkan apa yang seharusnya saya lakukan." jawab ara dengan ketus.
"Kenapa bapak tidur di sofa?" Ara kaget melihat Elang yang bukannya pulang malah tidur di sofa.
"Lalu? apa kamu ingin saya di bilang pria yang tidak bertanggung jawab, membiarkan calon istrinya sendirian di rumah sakit?"
"Hiizzzz dasaaaarrrrr." umpat Ara
"Sudahlah cepat tidur, besok kamu harus bangun pagi."
"Besok kita harus fiting Baju pernikahan, jadi cepatlah tidur." imbuh Elang.
"Apa bapak juga akan mengadakan pesta pernikahan?"
__ADS_1
"Tentu saja, apa kamu fikir seorang saya harus melakukan acara pernikahan yang sederhana dan tertutup?"
"Lalu, apa kita akan menikah sungguhan?." Ara ganti bertanya.
"Apa kamu bodoh, kamu fikir semua orang akan percaya kalau kita menikah sungguhan, pasti mereka yang tidak menyukaiku akan berusaha mencari kesalahan kecil untuk menjatuhkanku, dan tentunya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." jawab Elang
"Lalu kita akan melakukan pernikahan secara agama dan hukum,?" tanya Ara
"Tentu saja, mereka akan beranggapan kita bersandiwara kalau tidak melakukannya."
"Kalau boleh tahu kenapa bapak melakukan ini semua?" Ara mulai penasaran alasan kenapa Elang melakukan hal tersebut mengingat Elang seorang milyader muda.
"Apa kamu ingin mengetahuinya?"
"Tentu saja, saya harus tahu kenapa bapak memintaku untuk bersandiwara menjadi kekasih bapak, dan sekarang malah menjadi semakin rumit." namun ternyata Ara sudah merasakan ngantuk yang luar biasa, sampai pada akhirnya dia tertidur.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya sekarang?" Elang bertanya pada Ara namun lama tidak ada jawaban.
"Heeyy gadis keciill, apa kamu sudah tidur?" Elang memanggilnya lagi namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Dasaarrr gadisss bodohhh." Elang mulai mengantuk dan menyusul Ara dalam dunia mimpinya.
"Halo tan?" Angel menjawab telfon dari Susi.
"Halo Ngel, apa kamu sudah mendengar berita kalau Elang mempercepat pernikahannya?" tanya Susi
"Sudah tan, tapi biarkan saja mereka menikah."
"Apa kamu sudah gila melepaskan Elang begitu saja?"
"Tenang saja tante, biarkan saja wanita itu menikmati Elang sejenak, dan setelahnya Angel akan merebut Elang dari tangannya, bagaimanapun caranya." Angel sudah menyusun rencananya. dia benar-benar sudah di butakan oleh cinta.
"Apa kamu yakin,?"
"Tentu saja yakin Tante, kita lihat saja, aku akan membuat hidupnya seperti di neraka."
"Okee, tante percaya sama kamu, tante juga tidak sudi kalau wanita sialan itu harus melahirkan penerus keturunan keluarga ini." tutur Susi.
"Ya sudah kalau begitu, jaga diri baik baik yaa Ngel."
"Iyaa tan." mereka menyudahi pembicaraannya. Charoline yang mendengar pembicaraan mereka berdua sangat terkejut, dia mengira mamanya sudah berubah namun ternyata tidak.
Hayyyy readerrsssss terimakasih sudah mau mampir, maaf yaa kalau masih banyak typo,
jangan lupa tinggalin jejak kalian yaaa
__ADS_1
semogaa menghiburrrrr
Terimakasihh 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗😍