
Setelah sampai di depan ruangan pak anton Ara langsung mengetuk pintu.
"Permisi pak."
jantung Ara sudah dag dig dug tidak karuan,tapi ketakutannya berhasil di sembunyikan dengan senyumannya yang menawan.
"Iyaaa, silahkan duduk." Anton mempersilahkan Ara untuk duduk.
"Apa kamu yang bernama Xabara Permata?" Anton bertanya pada Ara,karna dia tidak hafal semua nama bawahannya. namun Ara tidak menjawab pertanyaan Anton, dia malah melongo melihat ketampanan Anton. Anton adalah sepupunya Elang yang berumur 24 tahun.
"I i iyaa pak saya Xabara biasa di panggil Ara, ada apa ya pak sampai memanggil saya untuk datang langsung ke ruangan bapak?" Ara bertanya dengan pelan dan sangat tenang.
"Begini kamu tentu tahu kalau perusahaan sedang mendapat keuntungan besar, karena hal itu pemilik perusahaan akan mengadakan pesta, dan memberikan hadiah berupa uang 10 juta dan menaikkan jabatan bagi orang yang sudah berusaha keras memajukan perusahaannya, dan salah satu orang yang berhak mendapatkannya kamu, Ara." Anton menjelaskan dengan sangat rinci.
"Maksud bapak saya mendapatkan bonus uang dan jabatan saya akan di naikkan begitu?" Ara bertanya lagi untuk memastikan kebenaran yang baru ia dengar.
"Iyaa Raa, dan acaranya tinggal tiga hari lagi, saya harap kamu akan datang mengambil hadiahmu sekaligus menikmati acara pestanya." Ara yang mendengar jawaban Anton langsung berteriak keras.
"Yeeeesssss yessss haaaaaaa alhamdulillahh." Ara menjerit sambil menari kegirangan, sampai dia lupa kalau sekarang ada di ruangan atasannya.
"Aduhhh kenapa aku harus begini, jadi malu dehh." batin Ara kesal menahan malu.
"Maafkan saya pak, saya terlalu bahagia pak,maafkan saya." dia meminta maaf karena sudah bertindak konyol di depan atasannya.
"Iyaa nggak papa, santai saja." Anton menjawab sambil tertawa melihat tingkah Ara yang dengan percaya dirinya menari di depannya.
__ADS_1
"Iyaa pak, berarti nanti ada kemungkinan saya akan bekerja di kantor sini pak?" Ara bertanya karna jiwa keponya mulai muncul.
"Bisa kemungkinan iyaa, tergantung nanti posisi apa yang sedang kosong." Anton tersenyum lebar melihat pipi Ara yang merona merah dan lagi-lagi Ara menari dengan konyol di hadapannya dan itu sangat menghibur hati Anton.
"Haha maaf pak Ara reflek lagi hehe." Ara benar-benar tidak tahu malu,di hadapan atasannya dia berani melakukan hal yang sangat konyol.
"Pasti pak saya akan datang, kalau begitu saya permisi dulu pak, terimakasih." Ara langsung berpamitan keluar karna sudah tidak bisa menahan malu lagi. itu kebiasaan yang dia lakukan saat merasa bahagia.
"iyaa Ra silahkan." Anton hanya tersenyum melihat tingkah Ara yang begitu konyol, dia tahu kalau Ara gadis yang sangat polos. selama ini belum pernah ada wanita yang berani bertingkah konyol di depannya apa lagi dengan seumuran Ara yang masih 19 tahun.
Sepulang kerja Ara mendapat telfon dari rumah kalau ibunya sudah sakit parah dan harus segera di oprasi. dia kebingungan masalah biaya dan teringat ucapan Anton siang tadi di kantor. tanpa berfikir panjang lagi Ara langsung berlari kembali ke kantor untuk menemui Anton namun dia tidak menemukannya. dia terus berlari sambil sesekali menghapus air matanya yang terus keluar dari pelupuk matanya. Ara sudah kebingungan harus bagaimana lagi. air matanya sudah mengalir deras di pipinya, dia duduk bersimpuh pasrah di depan pintu kantor.
"Ara kamu kenapa?" ada seseorang yang memanggilnya tepat di samping dia duduk.
"Belum, saya tadinya mau pulang tapi temanku bilang kalau kamu mencariku, ada apa, kenapa kamu menangis?" entah kenapa Anton merasa hatinya tersentuh melihat Ara menangis, padahal sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal seperti itu pada wanita lain.
"Saya membutuhkan uang itu sekarang pak, ibu saya sedang sakit dan harus segera di oprasi kalau tidak nyawa ibu saya dalam bahaya." Ara menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Baiklah saya akan memberikan uang itu sekarang tapi ijinkan saya mengantarkan kamu pulang untuk memastikan kalau kamu tidak berbohong." Anton memperbolehkan Ara membawa uangnya namun dengan syarat dia harus mau di antarkan pulang oleh Anton.
"Tapi rumah saya jauh pak, rumah saya di kampung D pak." Ara memberitahu rumahnya pada Anton.
"Kebetulan sekali saya ada tugas di sana, baiklah kalau begitu ayoo kita berangkat sekarang." tanpa berfikir panjang, Ara yang mendengar ajakan atasannya langsung berjalan memasuki mobil ,yang sekarang dia fikirkan hanyalah ibunya.
Anton merasa nyaman di dekat Ara,dan padahal saja dia tidak ada pekerjaan di sana hanya saja dia sedang mengambil cuti selama 3 hari, entah kenapa ada dorongan kuat di hati Anton untuk mengantarkan Ara pulang.
__ADS_1
"Terimakasih pak saya sangat berterimakasih." Ara masih tidak menyangka bertemu orang sebaik Anton.
"iyaa Raa, apa aku boleh meminta nomer telfon kamu?" Ara terkejut mendengar ucapan Anton.
"Nggak ada maksud lain,karna kamu bawahan saya dan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri, hanya untuk memastikan keadaan kamu itu saja." Ara yang mendengar penjelasan Anton langsung memberi nomor telfonnya.
"Oh iyaa baik pak." akhirnya mereka saling bertukar nomor dan mengobrol di sepanjang jalan sampai Ara ketiduran karna merasa sangat kelelahan.
"Ra bangunlah, kita sudah sampai."
"Huaammm, iyaa pak, saya turun dulu ya pak, terimakasih sudah mengantarkan saya."
"Iyaa Ra, titip salam untuk bapak ibumu, semoga ibumu cepat sembuh."
"Iya pak, terimakasih." Ara meninggalkan Anton dan langsung berlari masuk ke rumah sakit. Anton pun juga menunggu di luar sampai Ara tidak terlihat lagi dan setelahnya dia baru pergi dari sana.
HAAAAYYYYYY READERS TERIMAKASIH SUDAH MAU MAMPIR KE NOVEL AKU,
MAAF YAA KALAU MASIH ADA TYPO
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, JANGAN LUPA JUGA BUAT VOTE NYA, TERIMAKASIHHHH
SEMOGA KALIAN ENJOYYYYYYY 🙏🙏🙏🤗😍
__ADS_1