
jam alarm di kamar Elang berbunyi sangat keras. Ara yang tertidur sangat lelap terbangun walaupun matanya masih sangat berat untuk di buka. di lihatnya langit-langit kamar terasa berbeda, semua yang ada di sekelilingnya terasa asing. barang yang biasa dia taruh di meja tidak ada satupun, dia mulai bingung di mana dia tidur saat ini. dan saat Ara mulai menggerakan tubuhnya ada sesuatu yang terasa berat di atas perutnya. Saat kepala nya menengok ke samping,dia sangat terkejut ada Elang yang masih tertidur sangat lelap memeluk tubuhnya.
"Astagaaa." Ara membungkam mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak bersuara, dan sekarang dia baru sadar kalau ternyata dia tidur di kamar Elang.
"Kenapa aku bisa tidur di sini, kamu memalukan sekali Raa." Ara berusaha mengingat kejadian semalam yang membuatnya tidur di kamar Elang, namun yang dia ingat hanya main game dan setelahnya tidak ingat apa-apa. Dia bangun dari tempat tidur tanpa bersuara dan langsung pergi kekamarnya untuk bersiap pergi ke kantor.
"Huaammm." Elang mulai membuka matanya, dilihatnya sekitar. dia mulai bingung kenapa bisa tidur di ranjang karna semalam dia tidur di sofa bukan di ranjang. dia mencoba mengingatnya tapi tetap saja tidak ingat.
"Kapan kamu pindah ke kamarmu?" Elang bertanya pada Ara di meja makan. Ara yang mendengar pertanyaan dari suaminya terkejut.
"Ta tadi malam pak." dengan terbata-bata Ara menjawabnya. dia tidak jujur pada Elang.
"Apa semalam kamu yang membangunkanku untuk pindah di ranjang, karna seingatku, aku tidur di sofa bukan di ranjang." Elang penasaran kenapa dia bisa tidur di ranjang.
"Jadi pak Elang juga tidak tahu, untung saja, lalu kenapa dia bisa tiba-tiba di ranjang, masak hantu yang memindahkannya." Batin Ara.
"I iyaa, aku membangunkan pak Elang tadi malam, dan pak Elang pindah ke ranjang." Kini hati Ara terasa lega karena Elang tidak mengingat apa pun.
"Hemm pantas saja aku tidur di ranjang."
"Lain kali pak Elang bangunkan Ara saja,biar pak Elang tidak tidur di sofa."
"Tadi malam kamu terlihat tidur sangat nyenyak jadi aku tidak tega untuk membangunkannya."
"Terus kalau tidak tega harus tidur seranjang gitu, hadehh." Ara mengomel dalam hatinya.
"Ayo berangkat sekarang."
"Iyaa pak."
"Sepertinya mulai sekarang kamu harus hati-hati dengan Angel."
"Aku tahu pak, kemarin juga pasti dia sengaja mendorongku sampai terjatuh."
"Kamu tidak takut?"
"Kenapa harus takut, saya tidak takut pada siapapun."
"Baguslah kalau begitu."
"Kan pak Elang minta Ara untuk menjauhkan Angel dari kehidupan bapak, jadi mungkin ini sudah saatnya."
"Oke, kalau kamu berhasil, aku akan segera menceraikanmu, dan kamu akan hidup bebas menjalani hidupmu."
"Iyyaa bawelllll."
"Tuan non Angel hari ini meminta waktu untuk bertemu dengan tuan, untuk membahas masalah pekerjaan dengan klien kemarin."
"Apa klien kita juga kerja sama dengan Angel?"
"Iyaa tuan, mereka menggunakan nona Angel sebagai modelnya."
"Pertemuan nanti biarkan Ara yang menggantikanmu, kamu persiapkan berkas untuk meeting dengan klien dari B dengan Martin."
"Baik Tuan." Elang pergi memasuki ruangannya, dan melihat Ara sudah fokus di depan komputer.
"Apa yang kamu kerjakan?"
"Bukankah hari ini aku harus menggantikan Harry untuk menemanimu menemui klien yang kemarin, lebih tepatnya dengan Angel juga."
"Oh ternyata kamu sudah tahu."
__ADS_1
"Iyaa aku sudah tahu karna posisi aku di sini sebagai sekretaris kamu juga, jadi Harry sudah memberitahuku lebih dulu,jadi aku harus mempersiapkan semuanya."
"Baguslah lanjutkan." Ara mulai fokus lagi pada komputernya, membolak balikkan beberapa map, dan menanyakan sesuatu juga pada Elang.
"Mari pak berangkat sekarang." Elang yang sedari tadi fokus pada komputernya mensongakkan kepala mendengar ajakan Ara. dan betapa terkejutnya dia saat melihat penampilan Ara yang sangat cantik.
"Kenapa pak? apa ada yang salah dengan penampilan saya?"
"Tidak, apa kakimu sudah tidak sakit lagi memakai sepatu berhak tinggi ?"
"Owh sudah pak, sudah sembuh kok." Semua orang yang melihat penampilan Ara berbeda melongo tanpa bicara. bahkan Martin pun yang melihat sampai terpesona.
"Waahhhh kenapa hari ini kamu terlihat sangat cantik," Martin memuji kecantikan Ara.
"Berarti selama ini aku tidak cantik begitu?"
"Cantik tapi tidak secantik hari ini."
"Jangan pedulikan omongan mereka, kita berangkat sekarang."
"Iyaa pak." sesampainya di rumah makan Angel dan kliennya sudah menunggu di sana.
"Maaf kami datang terlambat." ucap Ara dengan lembut dan tenang.
"Tidak papa, silahkan duduk pak."
"Apa kah ini istri pak Elang?" tanya salah satu dari kliennya Elang.
"Iyaa pak, ini istri sekaligus sekretaris saya."
"Wahh ternyata pak Elang pandai dalam memilih wanita, istri pak Elang sangat cantik."
"Owh tentu saja, di sini juga ada Angel seorang model dan juga pemilik perusahaan MT group yang sangat besar."
"Terimakasih pak, memang sudah sepantasnya saya harus seperti itu,kalau tidak bagaiman perusahaan saya akan maju." jawab Angel dengan sombong.
"Apa bisa kita mulai sekarang, karna masih ada banyak hal yang harus saya selesaikan." Elang memotong obrolan mereka yang menurut Elang sama sekali tidak bermutu.
"Tentu saja pak." Ara mulai menjelaskan detail-detailnya mengenai perusahaan dengan tenang dan tegas, dan sesekali tersenyum. sekarang dia sudah sangat lihai menangani masalah pertemuan dengan klien. dengan keahlian berkomunikasinya yang baik, yang mampu menghipnotis siapa pun untuk bersedia bekerja sama dengan perusahaan membuatnya percaya diri sepenuhnya.
"Kalau begitu saya permisi pak." Setelah meeting selesai Elang pergi meninggalkan kliennya dengan menggandeng tangan Ara. Ara yang biasanya tidak masalah di perlakukan seperti itu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang, dan terlintas di fikirannya kejadian saat bangun tidur di saat Elang memeluk tubuhnya.
"Kenapa pipimu merah, apa kamu sakit lagi?" Elang menyadari pipi Ara merah merona.
"Tidak, aku hanya kepanasan saja."
"Bukankah Ac mobil sudah menyala."
"ohh tidak maksutku aku ......" belum selesai bicara Elang sudah memotong pembicaraan Ara.
"Nanti malam kita akan lembur kerja bareng lagi, kamu ke kamarku saja, karena Ac di ruang kerjaku rusak belum di perbaiki."
"kenapa harus di kamarnya lagi, nanti kalau tidur bareng lagi gimana?" Ara berbicara dalam hatinya,
"Sekaligus nanti ambil berkas-berkasnya di kantor dan bawa pulang ke rumah." imbuh Elang.
"Iyaa pak." Ara mendengus kasar, membayangkan apa yang akan terjadi. dan Elang yang memperhatikan tingkah laku Ara yang aneh membuatnya penasaran ingin bertanya, tapi di urungkan niatnya karena Hary sudah menelfonnyan lebih dulu.
Setibanya di kantor Ara langsung menemui klien yang lainnya, dan menyelesaikan kerjaannya yang lain. dan setelah semua selesai dia membaringkan tubuhnya di atas sofa di ruangan Elang. karna saat ini Elang sedang meeting di luar dengan Harry jadi Ara merasa bebas di ruangannya.
"Kenapa aku terus kebayang wajahnya, haa kenapa." Ara mengomel sendiri, kenapa di saat dia ingin bersantai merilekskan otot dan otaknya, malah terbayang saat Elang memeluk tubuhnya. dan saat mengingatnya ada perasaan aneh yang membuat suhu tubuhnya memanas.
__ADS_1
"Tidak, aku harus melupakannya,aku harus melupakannya.haaaaa." saat Ara menggulingkan badannya di sofa tiba-tiba Martin masuk begitu saja ke ruangannya. Martin yang melihat tingkah Ara tertawa lepas.
"Yeahhh sejak kapan pak Martin berdiri di sana." Ara terkejut melihat Martin sudah ada di sana dan sedang menertawakannya.
"Sejak kamu seperti orang gila haha." Martin masih saja menertawakan Ara.
"Kenapa kamu harus tertawa seperti itu?"
"Ya habisnya kamu lucu banget."
"Aku baru kali ini melihat pak Martin tertawa." Ternyata Martin yang di sangkanya dingin kejam tanpa ampun mempunyai tawa yang lepas seperti orang yang hidup tanpa beban, sangat jauh dari biasanya. dan tiba-tiba dia juga memikirkan Elang, apa Elang yang selama ini dia kenal sebenarnya seperti Martin, hanya covernya saja yang kejam, tapi sebenarnya hatinya baik,dan memiliki tawa seindah tawa Martin.
"Heh kanapa kamu bengong." Martin menyadarkan lamunan Ara.
"Ahh enggak, aku hanya kecapekan tidak bengong."
"Aku kesini hanya ingin memberitahumu kalau Elang pulang malam, jadi dia tidak bisa mengantarkanmu pulang."
"owh iyaa, berarti dia lembur dong."
"Kemungkinan begitu."
"Iyyeessss." Ara reflek bahagia di depan Martin.
"Kenapa kamu kesenangan?"
"Tidak aku biasa saja."
"Ya sudah, aku pergi dulu, dan mulai sekarang berhenti panggil aku pak, panggil saja Martin."
"Iyaa Martin." Martin meninggalkan ruangan Elang,begitupun juga dengan Ara. karna hari sudah sore dia harus pulang ke rumah sendirian.
"Raaa." terdengar dari kejauhan seseorang memanggilnya.
"Pak Anton."
"Kak Elang mana, apa kamu pulang sendirian?"
"Pak Elang masih meeting dengan klien di luar sama Harry."
"Kalau gitu aku antar pulang yaa."
"Nggak usah pak, Ara bisa naik taksi kok."
"Nggak papa Ra, ayooo." Anton langsung menggandeng tangan Ara dengan cepat, Ara yang mendapat perlakuan Anton secara tiba-tiba tidak bisa menolak.
"Pak, Ara kan bisa pulang sendiri,"rengek Ara.
"Aku nggak akan membiarkan kamu pulang sendirian, sudah masuklah." Ara memasuki mobil dan pulang bareng bersama Anton.
Hayyyy readerss terimakasih yaa
sudah mendukung Author
jsngan lupa selalu tinggalkan jejak kalian yaaa
semoga kalian semua di beri kesehatan dan dilancarkan semuanya
semogaa menghibur
terimkasihhhh 😍
__ADS_1