PERNIKAHAN DEMI UANG

PERNIKAHAN DEMI UANG
Api Cemburu Lagi


__ADS_3

Ara melihat ada sebuah bungkusan di meja kerjanya. lalu tanpa ragu di buka nya bungkusan tersebut, dan ternyata isinya nasi dengan lauk pauk yang sangat enak.


"Harry, ini punya siapa?" tanya Ara pada Harry yang sedari tadi sudah fokus di depan komputer. dengan wajah datar Harry menjawab


"Itu makanan untuk non Ara, tadi tuan Elang yang membawakan."


"Benarkah, tumben peduli." sambil tersenyum Ara langsung pergi ke ruangan suaminya.


"Permisi." sambil mengetuk pintu.


"Masuk saja."


"Hehe terimakasih pak, sudah repot-repot membawakan makanan untuk saya." sambil tersenyum lebar dan membungkukan badan tanda terimakasih. namun Elang masih tetap fokus di depan komputer lalu menjawab dengan ketus.


"Mama yang menyiapkannnya."


"Jadi bukan pak Elang?"


"Saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal seperti itu."


"huuuu dasar pria biadab, awas saja kalau tidur dekat-dekat denganku." batin Ara dengan mata menajam melihat ke arah Elang, seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.


"Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Elang mrnyadari tatapan Ara dan merasa terganggu.


"Tidak, terimakasih, permisi." sambil membungkukan badan dan pergi meninggalkan ruangan. Elang yang melihat tingkah Ara merasa kebingungan karena tidak biasanya Ara seaneh itu hanya karena hal kecil.


"Gadis aneh." gerutu Elang lalu melanjutkan lagi pekerjaannya. dia memang sangat pandai dalam mengalihkan masalah hatinya. walaupun kadang juga galau memikirkannya, tapi dia akan tetap profesional saat di kantor.


"Hay Ra,Harry " sapa Martin yang menghampiri meja Ara dan Harry.


"Hay Mar, ada apa?"


"Tuan kalian sedang sibuk nggak?"


"Ya begitulah. tiada hari tanpa di depan komputer."


"Itu suami kamu juga."


"Silahkan masuk saja, emang ada masalah apa sih?"


"Nggak, cuman mau minta tanda tangan saja."


"Owh begitu."


"Raa nanti siang makan bareng yukk, bosen aku makan sendirian."


"Iyaa siapp, ya udah buruan sana."

__ADS_1


"Okey." dengan bahagia Martin meninggalkan Ara dan pergi ke ruangan temannya sekaligus Bosnya itu. Martin dan Ara memang sudah kenal dekat, mereka sudah tidak sungkan lagi untuk bercanda ataupun makan bersama.


Ara yang melihat kedatangan Sesil, keponakan dari suaminya,langsung memasang senyum lebar. namun kedatangan Sesil bukan untuk Ara melainkan untuk Elang. dan Ara yang menengok ke meja Harry, ternyata Harry juga sudah tidak ada di sana, entah kapan perginya. dia sudah sama seperti atasannya, gesit dan seperti hantu yang tiba-tiba menghilang.


"Kapan dia pergi, barusan kayak masih duduk di sini." karena tidak mau kepo dengan urusan para pria, Ara melanjutkan bekerja lagi. namun di saat sudah mulai fokus, Ara teringat masalah keungan Sesil, apa mungkin Harry menyusul Martin masuk ke ruangan Elang untuk menyidang Sesil, tapi kalau iya itu tidaklah mungkin.


"Apa mungkin yaa, tapi kalau iyaa nggak mungkin juga, Elang bukan orang yang seperti itu." dan tidak lama Sesil keluar dari ruangan Elang dengan wajah yang sumringah.


"Sesil." panggil Ara.


"Iyaa. ada apa yaa"


"Emzz apa Harry tadi ada di ruangan Elang juga?"


"Tidak, hanya Martin saja."


"Oh ya sudah kalau gitu."


"Iyaa." dan tidak lama juga Martin keluar dari ruangan Elang.


"Ayoo Raa, aku sudah lapar."


"Iyaa aku ambil dulu hanphone aku." namun sebelum mereka berangkat ke kantin, dari kejauhan nampak seorang wanita yang tidak asing baginya. Angel. iyaa Angel. dia datang lagi ke kantor dan yang pasti untuk menemui orang yang ia cintai.


"Hay Raa." dengan santainya Angel menyapa Ara.


"Kalau kamu mau pergi, pergi saja Ra, aku ke sini untuk menemui Elang, bukan kamu." Ara langsung menyambungkan panggilan ke Elang.


"Pak ada Angel, mau menemui pak Elang."


"Suruh saja dia masuk."


"Silahkan, ayoo Mar aku juga sudah laper." Ara langsung mengajak Martin pergi dari sana.


"Sepertinya kamu lagi marah Ra"


"Tidak aku tidak marah." tapi ekspresi wajah Ara tidak bisa berbohong. sudah jelas terlihat kalau Ara sedang marah.


"Ouwh, gimana kalau kita makan di luar saja, bosen di sekitaran kantor mulu."


"Boleh juga, ide bagus. ayoo kalau gitu." Ara dan Martin langsung pergi ke parkiran dan melajukan mobilnya. setelah sampai di restoran yang tidak jauh dari sana, mereka langsung mencari tempat duduk dan memesan makanan. saat Ara melihat di sekitaran, dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal. di perhatikannya wanita tersebut, dan saat menoleh dia sadar ternyata itu temannya waktu masih bekerja di bagian marketing yaitu Tania.


"Tania." ucap Ara.


"Tan, Tania." tapi Tania hanya diam dan langsung pergi tapi Ara mengejarnya.


"Ara." Martin khawatir kalau Tania akan berbicara yang tidak-tidak. tanpa berfikir panjang Martin langsung menyusul Ara yang mengejar Tania.

__ADS_1


"Tan kenapa kamu menghindariku, aku berusaha mencarimu kemana-mana."


"Maaf Raa, aku sedang kerja. aku harap kamu mengerti." Tania yang melihat kedatangan Martin langsung gugup dan pamitan pergi.


"Permisi mbak." sambil menunduk.


"Tan, Tania." tapi Tania tetap saja tidak menghiraukannya.


"Siapa dia?" Martin pura-pura tidak mengenalia Tania.


"Dia Tania teman baikku, tapi sekarang dia berubah, aku nggak tahu salah aku apa."


"Ya sudah, ayoo ke sana lagi, makanannya sudah datang."


"Iyaa." mereka kembali lagi ke meja makan dan menikmatinya.


"Tadi kenapa kamu ikutan ke belakang?"


"Emmz aku hanya takut kalau terjadi sesuatu sama kamu, jadi aku mengrjarmu. karena bagaimanapun juga, kamu itu istri dari bos aku."


"Hilihh istri di atas kertas." Martin yang mendengar ucapan Ara langsung melototkan matanya.


"Jaga bicaramu. di manapun kamu berada,kamu sudah menjadi sorotan banyak orang. jadi jaga sikap kamu."


"Iyaa lupa, maaf."


"Jangan ulangi lagi."


"Iyaa bawell." merekapun menghabiskan makanan dan kembali lagi ke kantor. Ara juga sudah mulai sibuk lagi di depan komputer. karna tadi di beri banyak tugas oleh Harry. dia sudah mulai terbiasa dengan tumpukan map yang ada di mejanya. walaupun kadang terasa lelah. tapi tidak pernah sekalipun dia mengeluh, semua di lakukan dengan suka rela. bisa bekerja di tempat yang teduh dengan gaji yang tinggi membuatnya merasa sangat bersyukur.


"Harry apa ada lagi map yang akan di tanda tangani?"


"Tidak,semua sudah saya taruh di meja nin Ara."


"Baiklah kalau begitu." Map berjumlah 10 yang ada di mejanya, semuanya membutuhkan tanda tangan dari Elang.


"Aku sudah mengecek dan membacanya ulang, tinggal tanda tangan dari pak Elang saja."


"Silahkan nona."


"Okeeyy." dengan cepat Ara masuk ke ruangan Elang.


"Pak saya sudah mengeceknya ulang dan sekarang silahkan tanda tangan di sini."


"Dimana tanda tangannya?" dengan pura-pura tidak tahu Elang membuat Ara mendekat di sampingnya, sampai aroma parfum Ara yang manis seperti vanila tercium di hidungnya.


Jangan lupa selalu tinggalin jejak yaaa

__ADS_1


Terimakasih 🤗🤗🤗🙏😍😍


__ADS_2