
"Kalian duluan saja. nanti saya menyusul." ucap Elang melangkah menyusul Ara.
"Baik tuan."
Sampai di meja kerjanya Ara duduk sambil memegangi kepalanya sesekali mengusap wajahnya yang terasa panas.
"Astagaaa kenapa kamu bodoh sekali Ra." hari ini dia mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang.
"Ara." panggil Elang yang berdiri di samping meja Ara.
"Pak Elang, maafkan saya pak." dengan wajah malu dan merasa bersalah.
"Masuklah ke ruanganku."
"I iya pak." berjalan di belakang Elang.
"Duduklah."
"Ada apa pak?" dan tiba-tiba Elang mendekat dan menangkup kedua pipi Ara yang semakin memerah.
"Kita suami istri dan sudah sewajarnya kita melakukannya." mendekatkan wajahnya dan menghadiahkan kecupan ringan di b***r Ara.
"Pak Elang." sambil menggelengkan kepala dan menjauhkan diri dari Elang.
"Ini sudah kewajibanmu sebagai istri."
"Tapi pak ....." belum selesai bicara Elang sudah membungkamnya dengan ciuman di b***rnya yang terasa hangat. Ara tidak menolak dan malah menikmati sentuhan-sentuhan lembut yang di berikan oleh Elang. saat Elang mulai menyentuh buah dadanya Ara membelalakan mata, tubuhnya menegang seperti sebelumnya, pijitannya yang pelan membanjirkan senyar kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. buah dada Ara terasa kenyal dan menyenangkan bagi Elang lalu ia berbisik dengan nada penuh sensual di telinga Ara
"Tidurlah di kamar sini, aku mau meeting dulu." nafas hangat Elang terasa hangat di permukaan kulit Ara.
"Hemm." Ara gelagapan dan langsung memundurkan diri sedangkan Elang pergi meninggalkannya sendirian.
Harry mencoba memberi tahu Elang kalau ada lipstik di bibirnya sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"Maaf tuan." Elang yang menyadarinya langsung mengusap bibirnya memakai tissue. hati Angel terasa sakit saat melihatnya, itu sudah jelas menandakan kalau Elang habis ciuman.
"Tidak mungkin mereka melakukannya." batin Angel sedangkan di sisi lain Martin hanya tertawa geli melihat ulah temannya sendiri.
"Harry ada apa dengan tuanmu itu?" sambil tertawa lirih. Harry tidak mrnjawab, hanya memberi isyarat menyuruhnya diam.
Selesai meeting Angel langsung mendekat dan bergelayut di lengannya Elang.
"Permisi." menjauhkan diri dan melepaskan tangan Angel.
"Makan siang yuk, kan meetingnya sudah selesai." ajak Angel.
"Maaf saya mau menemani istri saya makan siang, permisi." meninggalkan Angel yang sudah kesal karena di tolak oleh Elang.
Elang melewati meja kerja Ara, namun Ara tidak ada di sana. dia menduga kalau Ara tidur di kamar sebelah ruang kerjanya. saat di buka ternyata benar, Ara tidur dengan nyenyak di sana. Elang membaringkan tubuhnya di sebelah Ara lalu memeluknya dari belakang.
"Pak Elang." ternyata walaupun dia sedang tidur nyenyak pergerakan Elang membangunkannya dari tidurnya.
"Tidurlah." sambil menciumi pipi Ara yang mulus. Ara membalikkan badan menghadap ke Elang.
"Pak aku mau tanya?"
"Tanya apa?"
"Emzzzz kenapa pak Elang melakukan ini semua padaku?"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Emzzz yaa ini."
"Aku tidak tahu pasti. yang jelas aku selalu nyaman setiap dekat denganmu, dan setiap kali di sampingmu aku selalu ingin bersatu denganmu." Ara yang mendengar ucapan Elang barusan merasakan panas di sekujur tubuhnya, bahkan pipinya juga memerah.
"Kamu tenang saja, kalau kamu hamil aku akan bertanggung jawab sepenuhnya."
"Maksud pak Elang?"
"Bicaranya nanti saja." tanpa menunggu waktu lama Elang langsung menyerang Ara yang masih terasa ngantuk tapi Ara tidak menolak sama sekali, tubuhnya selalu menerima perlakuan Elang terhadapnya. seolah ada sengatan listrik yang menjalar di tubuhnya.
"Aku tidak akan melakukannya sekarang, tapi suatu saat aku pasti akan melakukannya." bisik Elang di telinga Ara yang terasa panas.
Selesai bermesraan Ara dan Elang kembali bekerja lagi dengan aura yang sumringah tanpa beban, seolah kebahagiaan hanya milik mereka berdua.
"Raa." panggil Anton.
"Iyaa kenapa Ton?"
"Tadi kamu kemana, kok nggak ikut rapat?"
"Owh tadi aku istirahat di kamar pak Elang, gimana hasil rapatnya?"
"Lancar tidak ada masalah, apa tadi sebelum rapat kamu bertemu dengan kak Elang?" Ara mengingat semua dan dia tidak ingin orang tahu apa yang sudah mereka perbuat.
"enggk. kenapa?"
"Ohh syukurlah, oh iyaa kapan kita nonton?"
"Lain kali sajalah Ton, aku lelah, aku duluan yaa."
"Iyaa Ra." Anton sudah merasa kalau Ara mulai berubah. tidak biasanya dia menolak ajakannya.
"Harry tolong bantu aku menyelesaikan laporan ini yaa,"
"Terimakasih ya."
"Sama-sama nona." sambil membungkukkan badan.
"Harry Elang di mana?" tanya Angel yang berdiri di depan meja Harry.
"Ada keperluan apa anda mencari tuan Elang."
"Aku mau memberikan buah ini untuknya."
"Silahkan di tunggu sebentar, saya akan menghubungi tuan Elang terlebih dahulu."
"Okeee siapp."
"Tuan non Angel datang ke sini, apa tuan ingin menemuinya?"
"Ada keperluan apa?"
"Membawakan buah untuk tuan."
"Suruh dia pergi dan perintahkan Ara mengantarkannya ke ruanganku."
"Baik tuan."
"Non Angel maaf, tuan Elang sedang tidak ingin di ganggu ,biarkan saja buahnya di sini."
"Emang dia sibuk ngapain?"
__ADS_1
"Silahkan nona bisa pergi." Harry terang-terangan mengusir Angel dari sana.
"Oke saya akan pergi." dengan kesal Angel pergi dari sana dan Ara yang sibuk mengetik tertawa sendiri.
"Non Ara Tuan ingin anda yang mengantar ke ruangannya."
"Haa aku,"
"Iyaa nona."
"Baiklahh." dengan rasa khawatir dan cemas takut di apa-apain oleh Elang Ara melangkahkan kaki ke ruangannya.
"Permisi pak."
"Masuk."
"Ini buahnya pak."
"tolong kupaskan buahnya untuk saya."
"Tapi pak."
"Cepat." dengan langkah berat Ara mengambil pisau dan mengupas beberapa buah yang di inginkan oleh Elang. saat dia memasukkan buah ke dalam mulutnya dengan cepat Elang memajukan bibirnya untuk menggigit buah yang di makan oleh Ara.
"Pak.!"
"Kenapa?"
"Nanti ada orang pak."
"Nggak akan ada yang berani memasuki ruanganku, tanpa seijinku."
"Pak Ara mau pulang, udah sore."
"Apa kamu lelah?"
"iya, permisi pak." tapi Elang tidak melepaskannya begitu saja. tubuh Ara di gendong di bawa ke kamarnya. di baringkan dan langsung men****inya tanpa henti. tubuh Ara mulai menegang lagi, dan di rasakannya di bawah sana ada sesuatu yang terasa keras.
"Pak ini di kantor."
"Sebentar saja." Elang benar-benar merasa seperti muda lagi yang baru pertama kali merasakan kenikmatan dari seorang wanita. dia sangat menginginkan keintiman dalam hubungan mereka berdua sebagai pasangan suami istri pada umumnya.
"Ehhmm." Ara mengerang kenikmatan saat Elang dengan ahli memainkan tubuhnya yang sangat sensitif.
"Keluarkan suaramu. jangan kau tahan." Ucap Elang yang masih asyik bermain di gundukan buah Ara. bermain dari atas ke bawah lalu naik lagi dan seterusnya. sampai akhirnya Elang menyentuh daerah paling sensitif Ara dengan pelan. Ara hanya membuka memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang tiada tara.
Elang memasukkan tangannya ke dalam celana Ara, dan yang benar saja, Ara benar-benar sudah sangat b****h.
"Pak sudah."
"Apa aku boleh melakukannya di sini?"
"Jangan pak, nanti saja di rumah." Ara takut kalau ada seseorang yang masuk ke ruangan.
setelah semua selesai mereka membersihkan diri dan pulang ke rumah.
Hayyy readers maaf telatt yaaa
Terimakqsih dukungannya
sekali kagi jangan luopa di tinggalkan jejak yaa
__ADS_1
Terimakasihh 🤗🤗🤗😍🙏