PERNIKAHAN DEMI UANG

PERNIKAHAN DEMI UANG
Bahagia


__ADS_3

Martin memperhatikan Elang yang senyam senyum sendiri di pjokan mobil. aura bahagianya menambah ketampanan Elang semakin terpancar.


"Lu kenapa Lang, senyam senyum sendiri."


"Entahlah." sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


"Heran gua, sejak masuk mobil sampai sekarang kayak orang gila lu."


"Udah fokus nyetir saja, nggak usah ngurusin gue." mendengar jawaban Elang, Martin hanya menggelengkan kepala.


Sudah sekian lama Martin tidak melihat senyuman bahagia di wajah Elang yang seperti ini. dari semenjak kematian papanya, hatinya yang di selimuti rasa kecewa membawa aura gelap di wajahnya.


Turun dari mobil Elang masih tersenyum bahagia. seolah rasa kecewa yang ia rasakan selama ini lenyap dari hidupnya.


"Elang." panggil salah seorang wanita yang tak lain Angel, wanita yang masih saja belum menyerah untuk memdapatkannya.


"Ngapain dia di sini?" tanya Elang pada Martin


"Kan ada meeting Lang, makanya dia datang ke sini."


"Urus dia, jangan sampai bajuku kotor karena tersentuh kulitnya yang menjijikan."


"Okee."Martin berjalan di sebelah Elang.


Angel yang menghampiri mereka diabaikan begitu saja, Elang tidak membalas menyapa, dia langsung pergi meninggalkannya, dan Martin yang harus meladeni pembicaraan Angel.


"Selamat siang pak." sapa karyawan yang berpapasan dengan Elang.


"Siang." sambil tersenyum dengan penuh ramah.


"Kenapa tuh, tumben teman kamu baik, semalam mimpi apa dia." Angel tersenyum menyeringai walaupun dalam hatinya kesal.


"Mimpi masuk ke dalam l****g k******tan yang sangat ia inginkan selama ini." bisik Martin pada Angel.


"Maksud kamu?" Martin yang melihat Angel terkejut mengeluarkan tawanya dengan keras.


"Pasti kamu juga paham sendiri." lalu meninggalkan Angel di sana.


"Kamu bisa bahagia sekarang. tapi tidak dengan nanti Elang." batin Angel yang hatinya terbakar rasa cemburu.


Ara yang selesai makan siang kembali lagi ke kamarnya. dia merebahkan badannya yang masih terasa sakit semua. kejadian semalam terlintas di fikirannya yang membuat pipinya memerah. Elang mengajarinya dengan penuh kelembutan. bahkan setelah Ara merasakan kenikmatan, Elang tidak hanya sekali menjamah tubuhnya.


"Kenapa tadi malam aku seperti itu, itu bukan diriku." Ara mulai mencoba mengingat kejadian saat di club kemarin malam. dia ingat meminum sesuatu dan setelahnya tidak ingat apa pun dan di saat dia mulai sadar, dirinya sudah ada di kamar bersama Elang. jadi Ara pun tidak tahu kalau Alan membawanya ke hotel.


"Iyaa, pria itu, aku harus tanya pada Charoline, siapa tahu dia mengenalinya." Ara pergi ke kamar Charoline.


"Char."


"Masuk."


"Kamu lagi sibuk yaa?"


"Enggk, kenapa Ra?"


"Aku mau tanya."


"Tanya apa?"


"Kamu ingat nggak sama pria tadi malam yang duduk di sebelah aku terus ngasih minuman padaku?"


"Enggak Ra, aku nggak tahu siapa dia, soalnya wajahnya tidak begitu jelas."


"Owh iyaa pasti Martin tahu."

__ADS_1


"Kenapa Ra, sepertinya kamu sangat ingin tahu siapa dia."


"Enggak, nggak gitu kok."


"Emang apa yang terjadi Ra?" Charoline tidak tahu kalau Ara sempat tidak sadarkan diri dan di bawa Alan ke hotel.


"Nggak papa Char, aku ke kamar dulu yaa."


"Ehmmm." Ara pun kembali ke kamarnya. dia mencoba menghubungi Martin tanpa sepengetahuan Elang.


"Halo Mar."


"Kenapa Ra, suami kamu masih meeting,mau aku panggilkan dulu?"


"Nggak usah, aku mau tanya sama kamu, tolong jangan kasih tau Elang yaa."


"Tanya apa Ra?"


"Kamu kenal pria yang duduk di sebelahku waktu di clubbing nggak?"


"Enggak, aku nggak kenal, ya sudah aku sibuk." Martin langsung mematikan telfonnya.


"Martin, halo halo,Martin.!" Ara memanggil Martin tapi sudah tidak ada jawaban.


"Pasti ada sesuatu, kalau tidak nggak mungkin Martin seperti itu." ucap Ara sambil berfikir.


"Duh kepalaku sakit sekali." saat memijit kepalanya dengan pelan tiba-tiba teringat lagi kejadian yang membuat dirinya merasa malu sendiri. Ara bingung harus bagaimana kalau Elang sampai mengajaknya lagi. tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Ara juga merasakan bahagia.


"Kalau dia beneran ngajak honeymoon gimana ini, aku takut." rengek Ara.


"Hyooo ngapain kamu Ra,"


"Charoline, kamu ngagetin aja."


"Apa an sih Char, nggak jelas banget sih kamu."


"Kamu tuh yang gak jelas."


"Udah sana ahh aku mau tidur ngantuk."


"Ngantuk? emang tadi malam berapa ronde Ra haha."


"Char apa an sih."


"Ayoo jalan-jalan Ra."


"Nggak ahh, capek Char, udah sana pergi dulu, aku mau tidur ngantuk." saat Ara mendorong Charoline keluar dari kamarnya, terdengar suara mobil di depan rumahnya.


"Siapa Ra, masak kak Elang sudah pulang."


"Nggak tahu aku Char, mama ada nggak?"


"Nggak ada Ra, turun yukk,"


"Ya udah ayoo." Ara dan Charoline turun menuruni tangga, dan melihat sosok pria tinggi yang sangat tampan.


"Selamat siang nona." sapanya.


"Kamu, kamu pria yang kemarin kan,?"


"Iya nona."


"Silahkan duduk." Ara mempersilahkan duduk.

__ADS_1


"Terimakasih, ini bunga untuk nona." dengan tersenyum manis.


"Iya terimakasih, bunganya bagus. ada apa, kok kamu bisa tahu rumah aku?"


"Itu hal mudah nona, owh iya perkenalkan nama saya Alan, suami nona sudah mengenal saya."


"Iya aku Ara dan ini Charoline, apa kalian berteman?"


"Tapi kalau kalian berteman kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya dan juga kak Elang tidak pernah bercerita kalau punya teman bernama Alan?" tanya Charoline dengan nada jutek.


"Maaf, dulu saya tinggal di luar negeri, jadi aku tidak pernah datang ke sini." Alan menjawab dengan sopan dan tersenyum manis.


"Owh iya kamu mau minum apa, jus atau kopi?" tanya Ara.


"Tidak perlu, karena saya harus segera pergi dulu, ada hal penting yang harus saya urus."


"Owh iya sudah silahkan." Charoline menjawab dengan cepat.


"Titip salam buat suami nona, permisi." sambil menundukkan kepala.


"Iya nanti akan saya sampaikan, sekali lagi terimakasih untuk bunganya."


"Sama-sama nona." Alan meninggalkan rumah Elang dan para bodygardnya menunggu di depan. setelah tahu kalau rumah Elang tidak di jaga oleh bodygard, Alan langsung berencana mendatanginya. karena di sana hanya ada dua satpam yang menjaga, pastinya akan sangat mudah menyingkirkannya.


"Sampaikan pada atasanmu, aku datang untuk memberi ucapan setelah sekian lama tidak bertemu." Ucap Alan pada satpam tersebut.


"Dan satu lagi, bilang padanya kalau adikku tercinta masih belum memaafkannya." imbuhnya lagi lalu pergi dari sana.


Setelah Alan pergi pak' satpam pun langsung mengabari Elang kalau Alan datang ke rumahnya.


"Halo tuan."


"Ada apa?" jawab Harry, karena Elang tidak selalu memegang handpone, Harry yang selaku sekretarisnya, kapan pun selalu bisa di hubungi.


"Tadi Alan datang ke sini tuan, dia menemui istri tuan Elang."


"Apa semua sedang tidak baik-baik saja?"


"Non Ara baik-baik saja tuan, begitupun juga dengan non Charoline. dia tahu kalau rumah tuan Elang sedang tidak di jaga para bodygard, jadi dia datang dengan anak buahnya."


"Apa lagi yang dia lakukan?"


"Dia membawa bunga dan berpesan kalau adik nya belum bisa memaafkan tuan Elang."


"Okee, terimakasih, saya akan mengirim beberapa orang untuk berjaga di rumah."


"Baik tuan." Harry langsung pergi ke ruangan Elang untuk memberi tahu masalah Alan.


"Permisi tuan."


"Ada apa?"


"Maaf tuan, tadi Alan datang ke rumah tuan." Elang yang mendengar ucapan Harry langsung berhenti kerja, sorotan matanya berubah menjadi menyeramkan.


"Bagaimana kedaan Ara dan Charoline?"


"Mereka baik-baik saja tuan, hanya satpam yang terluka karena berusaha menghalangi mereka untuk masuk."


"Urus semua pekerjaan, aku akan pulang lebih cepat."


"Baik tuan." Harry langsung menjalankan perintah dari atasannya.


Hayy readers twrimakqsih sudah setia mampir ke novel aku, jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🤗🤗🤗😍😍🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2