
Sudah tiga hari di rumah sakit kini kondisi Ara berangsur membaik. dokterpun juga sudah mengijinkannya untuk pulang. selama di rumah sakit Elang yang selalu menemaninya, dan sesekali Elang juga menginap di sana. bahkan untuk menjaga ruangan Ara agar tetap aman,dia memerintahkan beberapa bodygardnya untuk berjaga bergantian. dia hanya takut kalau Angel atau beberapa orang yang tidak menyukainya akan menyakiti Ara.
"Ayoo Raa kita pulang." Ajak Charoline
"Ayoo Char." Ara menerima ajakan Charoline.
"Hari ini kak Elang ada meeting sama klien penting jadi dia tidak bisa menjemputmu."
"Iyaa nggak papa Char, lagian kan ada kamu."
"Iyaa, awas hati-hati masuk mobilnya."
"Iyaa Char, owh iyaa gimana kabar tante Susi, sudah lama banget aku tidak melihatnya."
"Mama baik kok, yeahh seperti biasa, dia bersenang-senang dengan temannya."
"Owh begitu."
"Kenapa Ra, kamu pengen ketemu sama mamah?"
"Pengen sih Char, tapi kamu tahu sendiri mamah kamu tidak suka sama aku."
"Jangan di ambil hati yaa Ra, mamahku sebenarnya baik kok, dia berubah lebih parah seperti itu setelah kematian papahku, di tambah lagi kak Angel yang selalu ngomporin mamah."
"Iya Char aku paham kok."
"Tenang saja Ra, pasti nanti mamah bakalan nerima kamu sebagai menantunya, sabar dulu ya Ra."
"Lagian juga sebentar lagi aku akan di ceraikan sama pak Elang." Batin Ara,
"Iyaa Char."
Lama berbincang di dalam mobil, mereka tidak sadar sudah sampai di depan rumah. pelayan yang melihat kedatangan istri tuannya langsung menyambutnya. Charoline juga membantu Ara istirahat di kamarnya dan setelahnya dia pulang ke rumah. Ara yang sudah lelah langsung membersihkan badannya dan tidur dengan lelap.
"Tuan non Ara sudah pulang, dia sedang istirahat di kamarnya."
"Iya bik, terimakasih." sebelum pergi ke kamarnya Elang menengok Ara terlebih dahulu.
"Huaammm Pak Elang." ternyata kehadiran Elang mampu menyadarkan alam bawah sadar Ara.
"Apa kamu sudah makan?"
"Belum pak, pak Elang baru pulang yaa?"
"Iyaa, ya sudah aku akan bilang sama pelayan untuk mengantarkan makanan kesini."
"Pak Elang tidak makan,?"
"Tidak, aku sudah makan di luar tadi. Aku mandi dulu."
"Iyaa pak." Ara menganggukkan kepala,dia tidak menyangka kalau Elang suaminya yang biasanya cuek dingin, tiba-tiba berubah menjadi baik.
Hari minggu, Elang tidak pergi ke kantor, dia hanya bekerja di rumah saja. tapi Elang tetap bangun pagi untuk melakukan aktifitasnya yaitu olahraga. di sisi lain walaupun matahari sudah naik ke atas Ara masih belum bangun. bahkan pelayan yang sudah membersihkan kamarnya, tidak membuat Ara terbangun.
"Bik apa Ara belum bangun juga?" tanya Elang pada pelayannya yang baru keluar dari kamar Ara.
"Belum Tuan, non Ara masih tidur. tadi malam dia tidak bisa tidur tuan."
"Emangnya kenapa?"
"Tadi malam non Ara keasyikan main game tuan, malahan saya di suruh buatkan rujak sama non Ara."
"Rujak?"
"Iyaa tuan. saya juga tidak di ijinkan tidur, saya di suruh menemaninya tuan, bahkan tadi malam saya juga tidur di kamar non Ara, maafkan saya tuan."
__ADS_1
"Ya sudah lanjutkan lagi bik kerjanya, nanti siapkan makanan yang enak ya bik, temanku akan datang ke sini."
"Iyaa tuan siap."
Elang pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya dan menyiapkan beberapa berkas untuk acara pembukaan Mall barunya. dan tidak lama bel rumahnya berbunyi, pelayan yang medengar langsumg membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Tuan Elang ada di ruang kerjanya tuan."
"Iya bik terimakasih ya." ucap Martin.
"hihhiihhihihihi." Martin mengecilkan suaranya untuk menakuti temannya yang selalu saja fokus setiap di depan laptopnya.
"Nggak usah kayak orang gila, tidak lucu." Ucap Elang dengan ketus.
"Lang lang, heran aku sama kamu, orang kok nggak ada humorisnya sama sekali."
"Gimana persiapan buat acara minggu depan, apa semua sudah di siapkan?" bukannya menjawab ucapan Martin, dia malah bertanya masalah pekerjaan.
"Sudah. semua sudah beres. kemana Harry, apa dia tidak kesini?"
"Tidak, aku menyuruhnya untuk menemui klien yang baru saja datang tadi pagi."
"Lang lang. tega banget yaa kamu ini, kamu di rumah, sedangkan sekretarismu bekerja di luar."
"Itu sudah tugasnya, lagian aku menggajinya juga tidak sedikit, sesuai dengan kinerjanya."
"Terserahlah, owh iyaa di mana istrimu, kok nggak kelihatan."
"Dia masih tidur, mana laporanmu sama berkas hasil rapat yang kemarin."
"Heuuhhh." Martin memberikan beberapa map pada Elang. selesai membicarakan masalah pekerjaan Elang mengajak Martin untuk makan siang.
"Hoammm." Ara yang baru bangun tidur dan masih memakai piyama dengan rambut yang acak-acakan berjalan ke meja makan, tanpa menyadari adanya Martin. merekapun saling bertatapan melihat Ara yang tidak tahu malu berdiri di sana.
"Baru bangun?" Ucapan Elang mengagetkan Ara yang sedang menikmati minumannya di meja makan.
"Kamu lucuu sekalii Raa hahahaha." Martin melihat Ara yang terkejut tertawa terbahak-bahak.
"Pak Martin di sini juga, maaf ya pak, tadi Ara tidak sadar kalau pak Martin ada di sini hehe." Ara melihat Martin sambil meringis
"Iyaa nggak papa, apa kamu sudah sembuh?"
"Sudah pak, kakiku sudah tidak terlalu sakit, sudah lumayan enak buat jalan."
"Aaa begitu, kenapa kamu nggak makan sekalian, makan bareng aja."
"Tidak pak,Ara mau mandi dulu, permisi pak." Ara meninggalkan mereka berdua di meja makan. setelah makan Martin bersantai melihat tv di rumah Elang. dan tiba-tiba bel rumah Elang berbunyi lagi. Martin yang mendengarnya langsung membukakan pintu.
"Anton."
"Kak Martin."
"Tumben kamu datang kesini."
"Iyaa kak, aku mau menjenguk Ara, kemarin waktu di rumah sakit aku tidak sempat menjenguknya."
"Owh begitu."
"Iyaa kak, Kak Elang ada kak?" dan tidak lama Elang muncul turun dari tangga.
"Kak Elang."
"Tumben kamu datang kesini."
"Iya kak, aku mau menjenguk Ara, apa dia sedang istirahat?"
__ADS_1
"Ara ada di kamarnya." dan tidak lama, Ara juga muncul dengan mengenakan dress selutut tanpa make up hanya memakai lipstik tipis saja. Ara terlihat sangat cantikk natural. bahkan Elang yang selama ini tinggal serumah dengannya baru menyadari kalau Ara benar-benar cantik.
"Pak Anton,"
"Iyaa Raa, aku ke sini mau menjengukmu, maaf yaa waktu kamu di rumah sakit aku tidak menjengukmu."
"Iyaa nggak papa kok pak." Martin memperhatikan cara memandang Anton pada Ara berbeda. dia menyadari kalau Anton menyimpan rasa pada Ara.
"Lang kenapa kamu membiarkan mereka duduk sedekat itu?" memang setelah Ara muncul dan duduk di sofa, Anton langsung pindah duduk di dekat Ara.
"Biarkan saja, Anton itu sepupu aku." Elang ganti berbisik pada Martin.
"Tapi lihatlah, mereka sangat dekat apa kamu tidak cemburu?"
"Tentu saja tidak."
"Ya sudah kalau gitu, aku pulang dulu, aku tidak akan membiarkan Anton nempel terus pada istrimu, bisa bahaya."
"Maksudmu apa?" Elang tidak faham dengan ucapan temannya, saat dia ingin bertanya lagi, Martin sudah pamitan mau pulang.
"Lang aku pulang dulu,"
"Iyaa, tapi...." sebelum Elang melanjutkan ucapannya tiba-tiba Martin juga mengajak Anton untuk pulang.
"Ton kamu nggak pulang sekalian, biarkan Ara istirahat dulu, dia kan baru pulang dari rumah sakit." ucap Martin.
"Iyaa kak, ya udah Raa aku pulang dulu yaa, kapan-kapan aku akan datang ke sini lagi, cepat sembuh ya."
"Iyaa terimakasih ya pak."
"Iyaa Raa." Anton dan Martin meninggalkan rumah Elang bersamaan. walau sebenarnya Anton masih pengen ngobrol banyak dengan Ara.
"kamu dekat sekali dengan Anton."
"Iyaa, kami berteman dekat,pak Anton baik, jadi kami berteman."
"Kapan hari kamu bilang nggak punya teman, tapi ternyata kamu berteman dengan Anton."
"Sudahlah nggak usah di bahas. owh iyaa gimana pak Harry, apa pekerjaannya lancar?"
"Tentu saja. hari ini dia sedang menjemput klien kita yang baru datang dari luar negeri."
"Ya ampun kasihan banget pak Harry, aku sudah membebankan pekerjaanku padanya."
"Nggak usah lebay, fokus dulu pada kesembuhan kakimu, setelah sembuh gantian kamu yang akan handle pekerjaan Harry."
"Haaaa kok gituu siih"
"Pak Elang, Pak ." Elang tidak menggubris panggilan Ara, dia terus saja menaiki tangga ke kamarnya.
"Pak Elang nggak punya telinga yaa?"
"Kenapa kamu mengikutiku?"
"Bodo amatt siapa suruh tidak menjawab."
"Diam di sana jangan banyak bicara, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu." Ara rebahan di ranjang Elang sambil main game.
"Raa tolong ambilkan map di laci sebelahmu." Tapi Ara tidak menjawab.
"Raa?" di panggilnya Ara lagi, namun tidak ada jawaban juga. lalu di tengoknya ke belakang ternyata Ara sudah tertidur. Elang mematikan hanphone Ara dan menyelimutinya. setelahnya Elang melanjutkan lagi menyelesaikan pekerjaannya.
Hayyyy readers Author mengucapkan terimakasih nih karna selalu dukung author untuk terua berkarya
jangan lupa selalu tinggalin jejak yaa, like komen dan juga vote
__ADS_1
semoga menghibur
terimakasihhh 🤗🤗🤗😍😍🙏🙏🙏