PERNIKAHAN DEMI UANG

PERNIKAHAN DEMI UANG
Ternyata


__ADS_3

Bangun tidur Ara melihat Elang ada di sampingnya, dia tidak bicara apapun dan langsung bangun, mandi, sholat lalu setelahnya membantu pelayan memasak. perlakuan Elang pada dirinya itu sebuah kesalahan, dia takut kalau nanti akhirnya jatuh cinta dan Elang pergi meninggalkannya. hal itu sangat menyakitkan bagi Ara. karena tidak mungkin juga, jika seorang Elang yang kaya raya mempunyai banyak perusahaan di berbagai kota, jatuh hati pada seorang gadis miskin seperti dirinya.


"Kamu mau masak apa cuman mau gaya doang.!" bentak Susi yang melihat Ara sedang melamun.


"Astagaa, maaf tante."


"Dasar wanita tidak berguna."


Ara tidak menjawab makian Susi, dia tetap lanjut memasak, karena tidak ada faedahnya juga meladeni omongannya. Susi memang sangat pandai dalam mematik api kemarahan dan menjatuhkan mental lawannya, tapi Ara tidak akan mudah terpancing dengan hal itu, seberapapun buruk makian Susi, dia akan tetap berdiri tegak tanpa menunduk. dia selalu teringat ucapan Elang, setiap ada orang yang memakinya jangan sampai memberinya peluang untuk menindasnya, apa lagi sampai menyentuhnya. kalimat itu sudah tertanam di otak Ara.


"Bik tolong selesaikan ini dulu yaa, saya mau ganti baju dulu."


"Iyaa non."


"Dasar wanita tidak punya sopan santun." omel Susi yang melihat Ara pergi meninggalkannya begitu saja.


"Pak Elang sudah siap."


"Sudah, jam berapa kamu bangun, kenapa saat aku bangun kamu sudah tidak ada?"


"Setengah Lima tadi pak. pak Ara mau bicara."


"Nanti saja pulang kerja, sekarang sudah siang tidak ada waktu lagi, cepat ganti bajumu."


"Iyaa." Ara menjawab dengan ketus.


Elang tahu kalau Ara istrinya pasti akan mempertanyakan alasan kenapa setiap malam dirinya selalu di pindahkan tidur di ranjang. untuk sekarang Elang lebih memilih menghindarinya, karena dia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya, tidak mungkin juga kalau dia sudah jatuh cinta pada gadis kecil yang seharusnya menjadi adiknya bukan istrinya. tapi hatinya tidak bisa menyangkal hal itu. setiap dekat dengan Ara, jiwanya terasa tenang dan menyenangkan. bahkan terkadang ada rasa ingin menyentuh yang sangat sulit ia kendalikan.


"Pagi Lang." sapa Susi.


"Pagi Ma."


"Kamu sarapan dulu yaa, mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Ara yang melihat ucapan Susi memanyunkan bibirnya, karna tadi Ara sendiri yang memasak bukan mamanya.


"Iyaa ma, Sayang kamu nggak sarapan dulu?" tanya Elang pada Ara.


"Enggak, tadi aku sudah makan, kamu makan dulu aja, aku tunggu di mobil." Elang yang biasanya tidak melihat Ara seperti itu mulai bingung.


"Aku berangkat dulu."

__ADS_1


"Iyaa hati-hati yaa Lang."


"Iya." Elang masuk ke dalam mobil dan melihat Ara yang sedang membolak balikan beberapa map.


"Kenapa, apa ada masalah?"


"Tidak, aku hanya ngecek laporan keungan dari sesil, sepertinya ada yang mengganjal, nanti coba kamu cek lagi."


"Coba aku lihat." Elang mengambil map yang ada di tangan Ara


"Kamu tahu siapa Sesil itu?"


"Tidak, emang dia siapa, adik Angelkah?"


"Bukan, dia adik Anton, adik sepupuku juga."


"Lalu ? "


"Orang tua mereka dulu hampir bangkrut tapi perusahaannya selamat, karena aku investasi sangat besar di perusahaannya. jadi sekarang pemegang saham terbesarnya aku. tapi semakin lama, mereka merasa aku akan mengambil alih perusahaannya, dari situlah semua berubah."


"Berubah gimana pak?"


"Mungkin pengen jadi seperti kamu, kuat dalam dunia bisnis."


"Pemikiranmu terlalu sederhana, ini perusahaan besar, bukan toko kecil, sudah pasti mereka akan mencari tahu masalah keuangan dan semuanya, untuk membuatku bangkrut dan mengambil alih perusahaanku."


"Gak mungkinlah, mereka terlihat baik kok."


"Ara Ara, jangan terlalu polos kalau kau ingin menjadi pengusaha sukses, dunia bisnis tidak mengajarkan hal seperti itu, kalau kau lemah dan lengah semua akan hancur dan hilang begitu saja." Ara mendengar ucapan Elang dengan seksama. dia menemukan alasan kenapa Elang berubah menjadi kejam dan sampai rela melakukan ini semua. hal itu hanya demi memperlihatkan dirinya paling kuat dan tidak bisa di tindas oleh siapapun.


"Jika sudah waktunya tiba, kita akan mengumpulkan semua buktinya, dan aku akan menjebloskannya ke penjara." Ara hanya diam tanpa kata, dia tidak menyangka kalau sebuah keluarga bisa saling menyerang seperti itu.


"Sepertinya otak kamu sudah mulai pintar, kamu bisa menemukan kejanggalan kecil dalam perusahaan yang belum tentu orang lain menyadarinya."


"Hemm syukurlah kalau teryata aku sudah mulai pintar."


"Jangan bilang pada siapa pun, yang tahu masalah ini hanya Harry, Martin dan juga kamu, kalau kamu sampai berani bilang pada Anton, aku sendiri yang akan membuat hidupmu hancur tanpa sisa." tiba-tiba wajah Elang berubah menjadi sangat menyeramkan, yang sampai membuat bulu kuduk Ara bediri.


"Iyaa tenang saja, aku bisa jaga rahasia kok."

__ADS_1


"Silahkan tuan." Harry membukakan pintu mobil untuk Elang dan Ara pun berjalan mengikuti mereka di belakang.


"Ara." panggil Martin.


"Astaga Martin !." Ara terkejut dengan kehadiran Martin yang secara tiba-tiba. Ara dan Martin selama ini sudah kenal dengan akrab, Martin tidak perlu berpura-pura kejam lagi di depannya.


"Jaga sikap kalian, jangan seperti anak kecil." Ucap Elang dengan tegas.


"Harry, bawa laporan keungan yang sudah kamu kumpulkan ke ruanganku."


"Baik tuan."


Selama ini Elang memang sudah tahu kalau Sesil keponakannya menggelapkan banyak uang. namun Elang hanya diam. dia sadar kalau tidak memiliki bukti yang sangat kuat, akan susah memasukkannya ke dalam penjara.


"Ini tuan."


"Ra bawa sini laporan keuangan yang tadi."


"Iya pak."


"Harry, nanti kamu datangi perusahaan yang di pegang oleh pamanku, minta semua laporan keuangan yang ada di sana, kalau mereka menolak bunuh saja mereka."


"Pak Elang, nggak usah segitunya juga, kita nggak perlu membunuhnya, mereka juga manusia, mereka seperti itu karena takut kalau perusahaannya akan di ambil alih."


"Mereka di sana hanya bekerja, pemilik perusahaan yang seharusnya itu aku, pemegang saham terbesar, bukan mereka. kalau saja mereka tidak memulai, aku juga tidak akan seperti ini." Aura Elang menggelap, dia sangat tidak menyukai penghianatan.


"Harry jangan diam aja dong, kenapa semuanya jadi seperti ini" Ara mulai khawatir.


"Nona tuan Elang seperti ini hanya untuk melindungi perusahaan mendiang papanya, tuan tidak ingin perusahaan yang di bangun dari 0 hancur begitu saja."


"Tapi tidak begitu juga, nggak perlu pakai kekerasan, itu perbuatan yang tidak baik."


"Nona anda tidak tahu selicik apa paman tuan Elang, anda cukup diam dan bekerja di sini dengan tenang."


Ara tidak menyangka kalau Elang suaminya, yang dia fikir tidak sekejam orang bilang, ternyata memang sangat kejam. dan dia baru tahu juga kalau ternyata Elang mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang gelap. bahkan ternyata selama ini Elang juga selalu membunuh siapa saja yang sudah menghianatinya tanpa sisa. dan dia juga sangat ahli dalam memanipulasi bukti.


Hayy reeaders terimakasih sudah sempatin mampir di karya pertamaku, maaf yaa kalau masih belepotan


selalu tinggalkan jejak yaa

__ADS_1


terimakasihhh 🤗🤗😍😍💪💪🙏


__ADS_2