
Sudah seminggu Elang di luar negeri. semua kegiatan berjalan sebagaimana mestinya, dia sibuk mengurus pekerjaanya di sana dan Ara juga sibuk mengurusi pekerjaan yang ada di kantor. keseharian Ara hanyalah bekerja dan bekerja. karena hal itulah sekarang dia sudah bisa membiayai semua kebutuhan keluarganya. keberhasilannya dalam karir bisa di katakan sangat bagus walaupun dia harus bekerja di tempat suaminya. pernikahannya yang hanya sementara, membuatnya harus memanfaatkan kesempatan tersebut kalau sewaktu-waktu Elang menceraikannya dan dia tidak akan sampai hidup di jalanan.
"Kenapa juga aku memikirkan dia." ucap Ara dengan kesal, yang sudah larut malam belum juga memejamkan mata. ternyata rencananya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. semakin hari rasa rindu itu semakin menyiksa, di tambah lagi Elang tidak menghubunginya sama sekali, dan hanya Harry saja, itupun untuk menanyakan masalah pekerjaan kantor.
"Kenapa malam itu dia menciumku, apa yang dia inginkan, bukankah dulu sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu." Ara berfikir keras apa yang sebenarnya di fikirkan oleh Elang namun juga tidak mendapatkannya, sampai akhirnya dia terbayang akan kejadian saat malam itu.
Di waktu yang bertepatan saat dia tersenyum sendirian Elang masuk ke kamar dengan pelan, dan ternyata Ara tidak menyadari kehadirannya. Elang yang melihat ekspresi istrinya yang tersenyum sendiri menyuarakan suara.
"Heemmmm!"
"Kyaaaaa.! siapa kamu, jangan macam-macam atau kamu akan di hukum oleh suamiku." di dalam kamar yang hanya remang-remang Ara tidak mengenali wajah Elang, sampai khirnya dia mengendus aroma parfum yang biasa di pakai Elang.
"Pak Elang ya?"
"Siapa lagi, apa kamu fikir aku ini penjahat." sambil menyalakan lampu dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Salah sendiri, untung tidak aku pukul pakai sapu." Ara kesal dengan suaminya yang masuk tanpa mengetuk pintu. setelah berdebat suatu hal yang tidak penting Ara menyiapkan pakaian tidur untuk Elang dan menunggunya sampai selesai mandi. setelah selesai,Elang merebahkan badannya di ranjang.
"Bagaimana kerjaan di kantor, apa ada masalah?"
"Tidak, semua berjalan lancar." Memang setelah Ara menjadi sekretatis ke duanya, urusan kantor menjadi teratasi, bahkan kantor juga mulai ada peningkatan yang sangat pesat, hubungan mereka bisa di katakan saling menguntungkan.
"Owh ya sudah, tidurlah." jawab Elang dengan ketus. namun dalam hatinya, dia sangat ingin memeluk, menyentuh, tapi di tahannya keinginan tersebut.
"Kemarin lusa Angel menemuiku."
"Lalu?"
"Dia bilang, akan merebutmu dariku." Ara bercerita tentang Angel.
Flashback On
Matahari bersinar sangat terik, Ara masih duduk di rumah makan, selesai menemui kliennya. dan di saat bersamaan Angel juga datang di sana dan langsung duduk di sebelah Ara.
"Angel." sapa Ara yang melihat Angel sudah ada di sampingnya.
"Hay senang bertemu denganmu."
__ADS_1
"Mau makan siang ya."
"Iyaa, dan aku melihatmu di sini." dengan senyum sinis lalu berucap lagi
"Mumpung kamu di sini, ada suatu hal yang harus kamu tahu." dengan nada tidak suka.
"Ada apa?" dengan nada menantang.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja, memberikan orang yang aku cintai pada orang yang tidak tepat sepertimu. aku pasti akan mengambilnya darimu."
"Aku kira hal penting apa." Ara berusaha mengejek Angel. dia berusaha menyembunyikan rasa yang menyesakkan dadanya, agar Angel tahu kalau Elang tidak akan semudah itu meninggalkannya.
"Owh jadi Elang tidak penting dalam hidupmu."
"Bukan begitu, bagiku itu bukan hal yang penting, karena aku tahu seperti apa Elang. walaupun aku dan dia belum lama kenal, aku tahu persis sifatnya." jawab Ara penuh percaya diri.
"Kita lihat saja nanti, apa kau lupa aku juga pernah mengisi hatinya yang kosong, dan dia pasti masih sangat mencintaiku, setelah apa yang sudah kita perbuat di setiap malamnya." Angel benar-benar mengumbar aibnya sendiri.
"Aaaa jadi begitu. memang sih dia sangat pandai di atas ranjang, pantesan banyak wanita yang menyukainya." walaupun terasa terbakar cemburu Ara tetap menahannya dengan menjawab penuh kesombongan.
"Tepat sekali, dan tentunya aku tidak akan rela dia menjadi milikmu." dengan nada ketus dan amarah Angel memaki Ara.
"Oke, kita lihat saja, jangan panggil aku Angelia Undersone kalau aku tidak bisa mendapatkan Elang lagi."
"Kasihan aku, hidupmu berantakan hanya karena suami orang." dengan senyuman yang elegan Ara berucap lagi
"Cantik, tapi yaaa beginilah." Ara menghadapi Angel dengan tenang.
"Wanita j****g awas kamu. kamu akan menanggung akibatnya." dengan kesal dan marah Angel pergi meninggalkan Ara yang masih duduk santai di sana.
"Hiiiihhh wanitaa gilaaa.!" Ara sangat geram dengan Angel. sekarang dia sudah tidak lagi bersandiwara baik di depan Ara tapi sudah terang-terangan akan merebut Elang darinya.
Flashback off
Setelah bercerita panjang lebar tiba-tiba Elang menggeser tubuhnya mendekat ke Ara.
"Pak Elang mau ngapain?" Ara menyilangkan tangannya di dada untuk benteng perlindungan diri.
__ADS_1
"Diamlah." Elang memeluk tubuh Ara dengan erat. lalu berucap lagi
"Apa kamu mengkhawatirkan hal itu?"
"Tidak. hanya saja aku tidak suka cara dia yang seperti itu."
"Lalu?"
"Dia kan bisa menikahimu setelah kita bercerai."
"Jadi kamu tidak masalah kalau aku menikah dengan Angel." Ara yang mendengar ucapan Elang, hatinya terasa sakit, dan matanya berkaca-kaca.
"Kenapa?" Elang menyadari wajah sedih Ara.
"Huaamm aku ngantuk mau tidur dulu, kamu geser ke sana, jangan dekat-dekat denganku." Ara langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Elang dan memejamkan mata sedangkan Elang yang sudah di usir tidak menjauh sejengkalpun, malahan semakin di eratkan pelukannya.
"Ara."
"Hemm." Elang mendekatkan bibirnya di telinga Ara dan menghadiahkan ciuman kecil di sana.
"Pak Elang." Ara terkejut dengan perlakuan Elang. begitupun juga dengan tubuhnya yang langsung merespon ciuaman yang seperti sengatan listrik.
"Diamlah." ciuman demi ciuman di berikan oleh Elang, Ara hanya bisa diam dan memejamkan mata.
"Aku ingin mempunyai anak darimu." tambah Elang. Ara yang mendengarnya langsung membelalakan mata.
"Maksud bapak apa? jangan aneh-aneh pak."
"Kita ini suami istri, apa aku salah meminta hakq pada istriku sendiri." dengan nafas yang panas dan suara yang berat Elang mengutarakan keinginannya.
"Tapi pernikahan kita .." belum selesai bicara Elang sudah membungkamnya dengan c****n yang panas. Ara berusaha melepaskan tangannya yang di genggam erat oleh Elang. namun usahanya sia-sia, cengkraman Elang justru semakin kuat. setelah menyadari Ara kehabisan nafas Elang melepaskan ciumannya, memberi waktu jeda sejenak untuk Ara menhirup udara. di pandangnya wajah Ara yang memerah dengan penuh hasrat. keinginannya sudah tidak tertahankan lagi, dia sangat ingin menyatukan diri dengan istrinya.
"Pak Elang.!" lagi-lagi Elang tidak memberikan kesempatan untuk Ara berbicara. dengan pelan di cecap b***r istrinya yang mungil, bahkan di hisap dengan kuat sampai-sampai Ara merintih kesakitan.
"Maafkan aku." sambil melepaskan baju nya dan melemparnya ke lantai. sekarang posisi Elang sudah ada di atas Ara. dan wajah Ara semakin memanas, ada perasaan aneh yang sangat sulit dia cerna, antara takut, gelisah, bahagia, semua bercampur menjadi satu. Elang mendekatkan wajahnya lagi dan menikmati bibir istrinya yang terasa sangat manis itu.
Hayyyy readers jangan lupa tinggalin jejak kalian yaa
__ADS_1
jangan lupa juga kasih vote yaa
Terimakasihhhh🤗🤗🙏😍😍😍