
Sepulang kerja Ara melakukan kegiatannya seperti biasa. Susi yang tidak menyukai menantunya itu merasa sangat kesal kalau setiap hari harus melihat wajahnya. dia sangat ingin membuat Ara pergi jauh dari kehidupan putranya, tapi apalah daya, kekuasaan Elang lebih tinggi di bandingkan dirinya. bahkan Elang tidak akan segan-segan mengusirnya kalau sampai ketahuan menyakiti Ara.
"Araa." panggil Susi.
"Kenapa tiba-tiba tante Susi memanggilku, ada angin apa sampai dia membutuhkanku." batin Ara.
"Iyaa tante." Ara keluar dari kamarnya dan menghampiri Susi.
"Ada apa tan?" tanya Ara.
"Aku mau bicara hal penting kepadamu."
"Bicara apa tante?" dengan sikap Susi yang tiba-tiba lembut dan tidak seperti biasanya, Ara curiga kalau ibu mertuanya mempunyai niat yang tidak baik. entah menyuruhnya meninggalkan putranya atau akan mencelakainya.
"Maafkan sikap tante selama ini ya Ra, tante sudah sangat jahat sama kamu, bahkan tante sudah berusaha memisahkan kamu dengan Elang, maafkan tante Raa." dengan sandiwaranya yang luar biasa, Susi berbicara dengan penuh penyesalan dan deraian air mata.
"Apa lagi yang akan dia lakukan padaku." batin Ara.
"Maafkan tante Raa hikshikshiks."
"Iya nggak papa kok tan, Ara sudah memaafkan tante jauh sebelum tante minta maaf padaku."
"Aku harus hati-hati ini." batin Ara. dia takut kalau ini awal dari rencana buruk dari Susi.
"Apa kamu memaafkan tante Ra, dan melupakan semua yang sudah tante perbuat selama ini?"
"Iya tante, Ara sudah memaafkan tante kok."
"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus memanggil tante dengan sebutan mamah yaa."
"Tante yakin?"
"Iya Raa, kamu sudah menjadi istri dari anak tante, jadi kamu juga sudah menjadi anak tante."
"Iyaa mah, makasih yaa mah." Ara memeluk Susi dengan erat, tapi dia tidak begitu percaya dengan permintaan maaf Susi.
"Iyaa Raa." Susi juga memeluk Ara dengan erat.
"Kita lihat saja gadis bodoh, kamu pasti akan segera di tendang dari rumah ini." batin Susi sambik tersenyum menyeringai.
"Ada apa ini?" suara Elang terdengar keras di telinga mereka berdua.
"Elang, sini nak, duduklah."
__ADS_1
"Ada apa, kenapa kalian saling berpelukan?" Elang penasaran apa yang sedang di bicarakan oleh istri dan mamahnya itu.
"Begini Lang, mamah menyesal selama ini sudah jahat sama kalian, terlebih sama istri kamu, Ara, jadi mamah ingin memperbaiki semuanya." dengan tangisan sandiwara Susi mencoba meyakinkan Elang.
"Benarkah?"
"Iya Lang, mamah mau kita seperti dulu lagi."
"Berarti mamah sudah tidak perlu lagi tinggal di sini."
"Mamah masih ingin tinggal di sini untuk memperbaiki semuanya, terlebih pada Ara."
"Iyaa mah, Ara ngerti kok, mamah boleh di sini sampai kapan pun mamah mau."
"Hanya satu bulan saja, setelahnya mamah harus kembali ke rumah mama lagi." ucap Elang dengan tegas.
"Apa kamu tidak memaafkan mama?"
"Sudah. tapi tidak dengan cara membiarkan mamah tinggal di sini."
"Baiklah mamah akan menuruti keinginanmu."
"Kalau sudah Elang mau ke kamar."
"Ara tinggal dulu yaa maah."
"Iyaa Raa." setelah Ara sudah tidak terlihat lagi, Susi tersenyum puas. ini kesempatannya untuk menjauhkan Ara dari putranya. semua usahanya tidak akan di biarkan gagal begitu saja. harta yang dia inginkan harus menjadi miliknya. Angel dan Elang harus menikah supaya Susi bisa menguasai perusahaan papanya Angel.
"Kamu mau kemana?" Elang bertanya pada Ara yang terlihat membawa bantal dan selimut.
"Mulai sekarang aku akan tidur di sofa, tidak seharusnya kita tidur satu ranjang." dengan ketus Ara menjawab sambil merebahkan badannya di sofa. Elang yang mendengar ucapan istrinya terasa sakit hati.
"Terserah kalau gitu." Elang juga membaringkan badannya di kasur dan mencoba tidak mempedulikan Ara.
Dan tanpa membutuhkan waktu lama Ara sudah tertidur dengan pulas sedangkan Elang masih belum bisa tidur. Elang masih memandangi tubuh Ara dari ujung kaki sampai kepala. dari wajahnya terlihat sangat kelelahan. Elang bangun dari tempat tidurnya dan mulai mendekati Ara.
"Gadis kecil bodoh." sambil mencolek hidung Ara yang mancung.
"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padamu." Elang berbicara sendiri sambil membelai wajah Ara.
"Kenapa aku sangat ingin menyentuhmu gadis kecil." dengan pelan Elang m*****m kening Ara lalu turun ke mata pipi dan saat b***r Elang hampir menyentuh bibir Ara yang mungil, Elang menghentikannya. di perhatikannya bibir Ara yang kemerahan,dan setelah puas melihatnya, Elang meng*****kan b****nya di bibir Ara yang lembut dan hangat. ada hasrat yang tak bisa di tahannya. Elang sangat ingin menyentuh,m*****k, dan be***tu dengan tubuh istrinya. tapi di tahannya rasa itu, karena bagaimanapun juga pernikahan mereka hanya di atas kertas bukan pernikahan sungguhan. Elang mengambil posisi di belakang Ara dan mendekatkan tubuhnya ke Ara, karena sofanya juga tidak terlalu muat untuk mereka berdua. Elang mulai memejamkan matanya dan menciumi aroma Ara yang sangat menenangkan jiwanya.
"Pak Elang kenapa tidur di sofa sih." Ara terkejut melihat suaminya sudah ada di sampingnya.
__ADS_1
"Diamlah, nggak usah berlebihan."
"Maksud pak Elang apa coba, tiap malam tidur sama aku, kenapa pak Elang seperti ini." Ara kesal dengan sikap Elang yang tidak bisa di ajak kompromi. bukannya menjawab tapi malah masuk ke kamar mandi. karena Elang sendiri juga masih ingin tahu lebih dalam lagi seperti apa perasaannya pada Ara.
"Pak Elang, hahh b**ng**k, di ajak ngomong malah kabur, ya Tuhan." ada rasa kesal di hatinya, dan selalu bertanya seperti apa dirinya di mata suaminya.
Setelah mandi dan berdandan Ara langsung berangkat ke kantor lebih dulu katena dia tidak ingin berangkat ke kantor bareng dengan suaminya.
"Kenapa Ara berangkat ke kantor duluan, apa ada hal penting sampai tidak sarapan?" tanya Susi di meja makan.
"Iyaa." Elang menjawab dengan wajah cemberut.
"sepertinya mereka sedang bertengkar nih, kesempatan bagus buat Angel." batin Susi.
"Owhh begitu, bik siapkan bekal untuk Ara yaa, biar nanti di bawa Elang ke kantor sekalian masukkan ke mobil yaa."
"Iya nyonya."
"Aku berangkat dulu." pamit Elang.
"Makannya tidak di habiskan Lang?"Tanpa menjawab Elang langsung pergi meninggalkan meja makan untuk berangkat ke kantor.
sesampainya di kantor, Elang di hidangkan pemandangan Ara yang sedang duduk bareng dengan Anton sambil memakan roti lapis dan di suapi oleh Anton.
"Harry bawa bekalnya Ara ke mejanya."
"Baik tuan." Elang berjalan menghampiri Ara yang sedang tertawa cekikikan dengan Anton.
"Jaga sikap kalian, kalau kalian tidak ingin di bilang berselingkuh, terlebih kamu Anton."
"Ohh iya kak. tenang saja aku tidak akan merebut Ara selagi setatusnya masih sebagai istri kak Elang."
"Terserah." tanpa ngomong panjang lebar Elang langsung pergi meninggalkan Ara dan Anton. dan Ara yang melihat sikap suaminya yang tidak mempedulikannya membuatnya sangat frustasi.
Hayy readers Author mengucapkan banyak terimakasih yaa
karena kalian sudah setia mendukung Author untuk terus berkarya
tinggalin jejak yaa🤗🤗😍
dan semoga kita semua selalu berada di lindungannya 🙏🙏🙏
terimakasihh 🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏😍
__ADS_1