Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Dipta


__ADS_3

Sampai saat ini aku masih tidak percaya laki-laki yang baru keluar dari rumah sakit dengan enteng meminta bertemu dengan mobil kesayangannya di rumah Dipta yang berada di pusat kota.


“Aku bener-bener khawatir, Sha. Mobil itu dia apa-apain!”


Aku menilik ekspresi mas Dhika sesaat sebelum mobil yang kukemudikan masuk ke jalan perumahan elite. Dia nampak betul-betul khawatir seolah sudah tidak peduli kakinya berakhir entah ke mana.


“Lebih khawatir mobil di apa-apain Dipta daripada khawatir sama aku? Iya?” Tanganku terjulur, mencubit lengannya dengan kesal.


“Aku bela-belain kerja setengah hati cuma buat jemput kamu. Eh... ini bukannya istirahat malah... Kamu mikirnya gimana sih mas?” ucapku dengan intonasi ngegas.


“Risha, babe...” Mas Dhika melepas sabuk pengamannya selagi mobil belum berhenti.


“Kamu dan mobil itu adalah kekasih hidupku. Jadi sabar dulu kali. Cuma sebentar sampai ada kesepakatan sama Dipta!”


Mataku tak kuasa berputar-putar. Emang dasar jiwa-jiwa begajulan yang nggak ada kapoknya.


“Ya iyalah aku sabar, bertahun-tahun aku sudah terlatih lihat kamu lebih sering ngurus mobil daripada jalan sama aku!”


“Ah, babe... habis ini kita jalan deh sambil cari makan siang terus minum obat.”


“Terus tidur siang? Kacau kamu mas!”


Aku menarik rem tangan dengan kekuatan berlebih di depan pagar rumah yang tak secuil pun sanggup mempertontonkan bagian depan rumahnya. Rumah Dipta di pagari tembok setinggi tiga meter di tambah dengan besi runcing setinggi setengah meter untuk memagari rumah anti maling itu.


Mas Dhika menahan pergelangan tanganku sebelum aku mendorong pintu mobil.


“Jangan marah, Sha. Kamu kan bisa nunggu aku tidur di kamarku.”


“Jangan mimpi!” Aku bersungut sembari melepas tangannya dengan paksa.


Mas Dhika terkekeh geli sambil menyebutku si kolot karena dari SMA sampai mau nikah aku masih menjadi sosok wanita anti mesra-mesraan dalam tanda kutip.


Aku menurunkan kursi rodanya sebelum membantu mas Dhika keluar dari mobil.


“Nggak usah lama-lama mas. Kondisimu beda dari terakhir ketemu bestie. Ntar di olok-olok lagi, nggak terima aku!”


Mas Dhika menatapku lekat-lekat sembari mendudukkan tubuhnya di kursi roda.

__ADS_1


“Dari jaman SMA pengen banget cium bibir kamu, Sha. Gemes.”


Aku mendorong kursi roda seraya ingin memukul kepalanya. Bukannya ngasih rayuan mesra biar hati tenang dari resah yang enggan sirna, ini malah... Ingin ku benamkan wajahnya di ketek bapaknya biar tahu rasa.


Aku tersenyum sambil mendengar mas Dhika menyapa satpam yang berjaga.


“Bang Sat, Dipta ada?” serunya.


Bang Satrio melongok dari dalam pos satpam dengan mata yang membelalak setelah menyaksikan mas Dhika di kursi roda dari kaca.


“Kenapa mas?” ucapnya setelah mendorong pintu gerbang.


Mas Dhika yang menggunakan celana olahraga panjang tanpa sepatu di salah satu kakinya membuat Bang Satrio mengernyit.


“Anu bang, biasalah...” Mas Dhika nyengir. “Panggilin Dipta aja bang kalau ada.”


“Ada mas. Bentar... bentar...” Bang Satrio menatap kaki mas Dhika sambil menjureng sebelum pergi dari hadapan kami.


Aku mengajak mas Dhika ke bawah pohon bungur yang sedang berbunga merah jambu keunguan yang indah saat mekar bersama-sama tak jauh dari garasi rumah.


Tak lama, pintu utama rumah yang bercat putih berkilau terbuka. Dipta yang kukenal seusia mas Dhika memasang ekspresi terkejut. Teman SMA kami itu menuruni telundakan sembari menggelengkan kepalanya.


“Kamu pasti cari mobilmu! Gila...” Dipta berjongkok, dan duduk di pembatas taman dan konblok. Dia menatapku sekilas yang duduk semeter darinya.


“Elo rese banget banget, Dip. Jangan si merahlah, bapakku nggak ngerti histori mobil itu.” kata mas Dhika setengah merajuk.


“Barter sama mobilku yang lain kek. Masih ada si putih sama si monster.”


Dipta menggeleng seakan tidak mengerti isi hati sahabatnya.


“Nggak mungkin elo masih mau ngepot-ngepot di sirkuit, Dhik. Kondisimu—”


“Ngerti aku, Dip.” Mas Dhika menjelaskan bagaimana kerja kerasnya menjadikan mobil itu super star di hatinya karena si merah yang di jual itu adalah salah satu mobil yang mati-matian mas Dhika modifikasi agar memenuhi kualifikasi lomba drifting untuk pertama kali.


Dipta menghela napas. Dari apa yang terlihat di sorot matanya dan bahasa tubuhnya. Dipta tampak setuju tidak setuju dengan ucapan mas Dhika.


“Ginilah, kemarin bokapmu bilang waktu ketemu di parkiran rumah sakit buat beli si merah. Awalnya aku males Dhik, tahu kamu sebucin itu sama mobilmu yang itu. Cuma keluargamu trauma lihat kamu di amputasi gini. Dia takut elo apes lagi, makanya dia jual ke aku biar udah nggak ada di garasi rumahmu, elo bisa sekali dua kali lihat lah si merah di sini.”

__ADS_1


“Itu sama aja papa kurung mimpiku, Dip.” Mas Dhika menundukkan kepala. Parasnya menjadi sedu sedan.


Dipta menepuk-nepuk pundaknya dengan empati yang bisa kulihat dari sorot matanya.


“Jangan nangis lah bro... anjir malu sama Risha.”


Mas Dhika menoleh ke arahku. Terpaksa aku nyengir walau hati ingin mengejeknya sampai puas.


“Pinjem deh, Dip. Sehari aja, kamu pakai mobilku dulu.” katamu memberi kelegaan hati mas Dhika.


“Gampang, Ris. Sini deh kunci mobilmu biar aku masukin ke garasi.”


Aku menarik gantungan kunci yang terselip di celana jinsku.


“Tapi kamu yakin bisa bawa si merah?”


“Bisalah, Dip. Tiap Minggu aku di doktrin dia buat balapan mobil sama ngepot-ngepot.”


“Emang keren sih elo... Tunggu bentar gue keluarin si merah...” selorohnya sambil menurunkan topi mas Dhika sampai menutupi sebagian wajah.


Mas Dhika mendengus. “Jangan di jual, Dip. Ntar gue beli lagi. Apa barter aja sama mobilnya Risha, mayan tuh Honda jazz.”


Aku menabok lengannya sambil ngegas. “Enak aja! Minta minum sekalian deh, Dip. Haus aku ngurus ni orang.”


Dipta terbahak-bahak sambil mengajakku ke dalam rumahnya yang besar.


“Putusin aja deh Dhika, Ris. Kamu pantes dapat lebih.”


“Enak aja kamu nyuruh-nyuruh, Dip. Dikata putus adalah jawaban dari segalanya. Tak segampang itu lah. Aku masih punya hati.”


Dipta kembali tergelak. “Emang elo calon-calon malaikat tanpa sayap. Ngiri gue pengen punya cewek kayak elo.”


Aku menanggapi serius ucapannya dengan candaan. Sejak SMA pacarnya tajir-tajir semua dan kaya raya, namun semuanya memang hanya main-main saja baginya. Kalau sekarang dia pingin punya pacar kayak aku, nggak mungkin, langka woy, cuma satu doang di bumi ini kecuali kalau dia mau nunggu reinkarnasiku.


Aku tertawa dalam hati sambil menepuk pundaknya. “Banyak-banyak tobat sama doa ajalah, Dip. Sapa tau nanti dapat malaikat tanpa sayap.”


Dipta mengambil gelas sembari mendengus.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2