Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Sabotase


__ADS_3

“Jadi siapa aja pak yang jadi saksi?” tanya mas Dhika di kantor polisi. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu barang sehari saja berisitirahat di rumah.


Polisi yang membaca berkas perkara kecelakaan di komputer berdehem.


“Bondan, Anton, Bachrul, Nita, Dahlia, Sakti, Philips dan Andika. Saksi mata menyebutkan bahwa ketika anda sedang kencing di balik pohon terduga masuk ke dalam mobil anda dengan beralasan ingin meminjam alat dongkrak mobil.”


Aku menoleh secepat angin ke arah mas Dhika. “Kamu kencing sembarangan, jorok banget sih!”


Mas Dhika mencomot mulutku, membungkam yang ingin aku semburkan karena aku sudah menyiapkan botol urine di dasbor mobilnya.


“Apalagi bukti yang ada, Pak? Terduga bernama Dipta? Jika betul dia sahabat kami dari SMA.” ucap mas Dhika dengan tangan yang semakin erat mencomot mulutku.


Polisi yang mendengar pengakuan mas Dhika melebarkan mata takjub seraya paham. dan polisi berkumis tipis dan berperawakan tinggi kekar itu menarik tangan mas Dhika.


Aku mengelap bekas jemarinya dengan ujung kerudung.


“Mobil anda memiliki perangkat lunak built in yang bekerja mirip ponsel. Hanya butuh lima menit untuk mencangkokkan teknologi peretas modern ‘Can Hacking Tools’ dengan kabel ‘Controller Area Network’, chip yang terhubung akan memanipulasi seluruh data sebelum di terima Electronic Control Unit. Secara nirkabel, peretas atau terduga memerintahkan ‘Can Hacking Tools’ menyusup ke Controller Area Network untuk menonaktifkan kerja sistem rem. Itulah kenapa tidak ada jejak rem di TKP. Bahkan kami tidak menemukan barang bukti seperti sidik jari di alat retasnya.”


“Sialan. Gue bersumpah Dipta Pramono bin Edy Harimurti jadi jomblo seumur hidup dan nggak bisa ngaceng!” seru mas Dhika uring-uringan, sumpah serapahnya aku amini tapi semua itu berubah menjadi senyum geli.


”Tapi kenapa bapak bisa tahu ada alat peretas di mobilku?” tanya mas Dhika dengan sikap kekanak-kanakan.


Tatapan pak polisi yang tadinya serius menjadi senyum-senyum hangat bercampur rasa iba.


“Kami membongkar mobil anda!”


“Ya Allah pak, jadi rosokan dah mobilku. Sia-sia aku pak reparasi sampai kantong bolong gede banget.” keluh mas Dhika tak kalah uring-uringan.

__ADS_1


Aku menepuk-nepuk pundaknya biar tak sekusut kain serbet mukanya.


“Udah dapat asuransi toh? Ikhlas mas, sudah dapat gantinya. Dapat asuransi kecelakaan juga kan?”


“Diam aja, Sha. Ini soal pria, logika lebih jalan daripada perasaan. Lagian asuransi apa yang gue terima? Semua di boikot mertua lu!” Mas Dhika mendengus.


Aku meringis lalu mengayunkan tangan ke atas. Nyerah, sementara mas Dhika perlu menyelesaikan permasalah itu dengan beberapa kali tarikan napas panjang dan obrolan tentang penangkapan terduga.


“Kamu yakin mas?” tanyaku serius. “Gak ada barang buktinya ”


Mas Dhika geleng-geleng kepala dengan santai. Tak setuju dengan ucapanku.


“Alat peretas itu memiliki tuan, Sha. Kita cari dalangnya lewat teknologi juga!”


“Oh... Keren juga ya mas, jadi mirip FB* ini ceritanya.”


“FB* versi lite.” serunya lalu tersenyum jengah kala polisi berdehem-dehem memperingati. “Canda, Pak. Tolong di bantu ya. Tolong sekali. Aku teramat dirugikan ini. Kakiku yang satu hilang entah ke mana sampai mau kawin saja susah, Pak.” ucap mas Dhika seraya menggeser uang tanda jadi dalam amplop ke arah polisi.


Kecemasan tampak di wajah mas Dhika, tetapi ia tetap mendatangani berkas perkara lanjutan dengan tekad baja.


“Dipta... Dipta... Biadab juga akalnya!” ucapnya setelah pamitan.


“Terus saksi lain mau mas cari juga?” tanyaku sambil membuka pintu mobil untuk tuan pemarah.


“Nggaklah, buang-buang bensin! Kita fokus aja ke alat peretas itu!”


“Terus kalau nggak ketangkap gimana? Waktu sudah lama banget lalunya sejak masalah kemarin.”

__ADS_1


Mas Dhika memakai sabuk pengaman lalu menghela napas.


“Setidaknya kalau dia nggak ketangkap, sumpahku jadi hukum alam seumur hidup!”


“Terus kalo sumpahmu nggak berguna?”


“Elo jangan bikin gue pesimis, Sha. Udah masuk, kita bakso terus kerja.”


“Enak banget kamu ngomongnya mas, bener-bener deh. Sekalinya sakit, manja dan perintahnya nggak kelar-kelar!” seruku sambil menutup pintu mobil dengan mangkel. Aku memutari kap mesin seraya masuk ke mobil.


“Mas tetap mau bikin bengkel mobil balap setelah hari ini?”


“Mau gue tetap begitu, Sha. Modal gede, pemasukan juga oke. Gue juga nggak kehilangan mimpi-mimpi gue banget, tapi jujur gue juga takut Dipta masih menganggap gue saingannya dengan mukanya yang baik banget itu!”


Aku mencebikkan bibir sambil memutar stir mobil untuk keluar dari halaman pelataran parkir kantor polisi sambil mengetuk-ngetuk stir mobil.


“Mendingan bikin warung sembako aja mas, yang pasti di cari banyak konsumen atau kerja kantoran. Minim effort, walau pun persaingan tetap ada, tapi nggak seekstrim balapan.”


“Kita cabut ajalah dari kota ini diam-diam setelah perkara selesai. Gue mau hidup tenang Sha tanpa persaingan, gue ogah lu jadi janda terus didekati Dipta!”


Leherku menegang tiba-tiba seraya menoleh sekilas kepadanya di tengah perjalanan yang lumayan ramai.


“Maksudmu apa mas? Aku didekati Dipta? Kenapa? Kita sahabatan.”


“Elu nggak peka apa gimana sampai Dipta yang terang-terangan ngasih perhatian elu dengan topeng persahabatannya itu sampai kita nikah dia masih gitu-gitu doang! Dia ngarep lu dengan mencelakai gue.”


“Maksud mas, Dipta suka sama aku? Diam-diam gitu?”

__ADS_1


“Risha... Ya ampun, gemas banget gue sama lu. Kita sering makan yang sama tapi kenapa otakmu lebih gemesin dari gue!” ucap mas Dhika sambil mencubit pipiku. “Nggak kebayang gue sama cowok-cowok di luar sana yang caper sama lu, lu lepeh langsung paling.”


Aku tersenyum lurus tanpa berminat menyimpulkan bahwa Dipta menyukaiku? Dia baik loh, baik banget anaknya dari kita bau kencur, cuma memang apa yang disukai mas Dhika dia pasti ikut menyukainya.


__ADS_2