
Mas Dhika mengelap telapak tangannya yang basah karena cemas yang berlebih di celana panjangnya ketika kami sudah sampai di parkiran kantor kepolisian.
Sama sepertinya, aku dilanda perasaan campur aduk, senang aku sudah jadi istri sepenuhnya dan berharap akan ada hari-hari membahagiakan lainnya setelah hari ini. Tapi juga dadaku terasa sakit sekali. Siapa yang tega membuat lelakiku yang dulu begitu-begitu ingin itu ini dan berprestasi jadi begini.
“Kita masuk mas, semakin cepat semakin baik kita taunya.”
“Keluarga gue udah keluar banyak biar gue bisa bangkit dari kecelakaan itu, gue udah kehilangan sempurna yang bikin semua orang di dekat gue susah dan menghindar. Kalo sampai hari ini nggak ketemu dalangnya gue benar-benar murka, Sha!”
“Iya mas, paham aku. Coba sekarang tarik napas dulu, hembuskan perlahan-lahan.” kataku sambil mengelus dadanya.
“Kita bisa melewati ini berdua, kalo harus pindah dari kota ini aku mau kok. Kita ke tempat yang kamu mau? Bandung?” ucapku sambil tersenyum.
Mas Dhika nyengir sambil menganggukkan kepalanya tanpa beban. “Di saja ceweknya geulis-geulis pisan, Sha. Sedep!”
Aku menjewer telinganya langsung sambil mas Dhika mengeluarkan kata oh-oh-oh... dengan dramatis.
“Kamu kalau mau cari perkara sama aku sekarang aja deh, mas! Nggak usah waktu kita lagi merintis karir dan usaha!” kataku berang.
Mas Dhika meringis geli. ”Gue suka deh kamu marah-marah gini, berasa elu nggak berubah dan tetap menyukaimu dengan caramu. Marah-marah!”
Aku berusaha tidak menggubris ajakannya untuk berciuman, hingga bibirnya yang manyun kembali ke bentuk asli.
“Serah kamu mas, keluar sendiri! Kenyataan pahit udah nunggu kamu tuh.”
“Masih pegel kaki gue btw.” ucapnya dengan seringai geli setelah kami berjalan menuju tempat layanan masyarakat.
“Enak banget nggak tadi?”
Aku meliriknya dengan ekor mata. Antara ingin menyumpal mulutnya atau menginjak kakinya dua-duanya aku ingin melakukan semua.
Mas Dhika melirikku juga dengan ekor mata. “Iya-iya. Besok makan dulu deh daripada ada yang keroncongan, bikin malu, nggak semangat!”
Aku mendorong pintu masuk. Sesuai jadwal pertemuan dengan tim cyber, kami menemui mereka di lantai dua.
Mas Dhika menghela napas setelah duduk di depan meja petugas cyber crime. Sementara aku di sampingnya, aku diam-diam menghidupkan perekam suara. Penjelasan nanti bisa kami pelajari baik di rumah sekalipun tidak ada penangkapan kepada terduga.
__ADS_1
“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya mas Dhika.
“Setelah kami melakukan penyelidikan dengan teliti, alat itu dibeli di pasar gelap, buatan luar negeri. Kami pastikan terduga tersebut mengenal struktur mobil anda dan dekat dengan anda karena harus menggunakan nirkabel.”
Mas Dhika melihat layar komputer dengan teknologi yang jauh lebih canggih dari komputer biasanya.
“Harganya cenderung murah, secara spesifikasi jika kasus ini diteruskan akan merembet ke jaringan internasional. Anda jauh lebih terancam.”
“Saya hanya ingin mengetahui siapa dalangnya, Pak!” kata mas Dhika dengan suara gugup.
Polisi cyber tersenyum. “Ada seharusnya sudah paham siapa pelakunya mas.”
Kemudian, satu persatu penjelasan bukti yang cukup akurat untuk mengetahui siapa terduga tersebut membuat mas Dhika menggeram jengkel sambil mengepalkan tangan.
“Dampingi saya ke rumahnya, Pak. Kami ingin membuat efek jera untuk pelaku dan ganti rugi kalau bisa!” ucap mas Dhika penuh harap.
“Tapi tidak perlu sampai ke jaringan internasional, Pak. Bahaya terus bagi saya!”
Polisi tersebut mengangguk lalu membuat surat penangkapan terduga. Tapi kami perlu beberapa saat untuk memantau di mana Dipta sekarang. Dengan demikian, mas Dhika menghubunginya untuk mengajaknya bertemu, membahas perihal bisnis bengkel dan Dipta menyetujuinya. Di cafe biasanya.
Mas Dhika dan polisi cyber kontan menyusun strategi, mereka enggan merusak citra cafe itu hingga akhirnya mas Dhika memintanya untuk di rumahnya saja sekalian makan-makan. Dia beralasan Risha baru saja masak banyak, dan membuat lotis buah-buahan.
Mas Dhika menghela napas, susunan strategi kembali dibuat dan kami bersepakat untuk menggeruduk kediamannya setelah membeli lotis buah-buahan dan masakan rumahan di kedai makan enak murah meriah.
“Bawa teman mas Dhika?” tanya satpam rumah Dipta setelah membuka pintu gerbang dan para polisi yang menyamar keluar dari mobilku.
“Iya mas, teman nongkrong balapan! Mau support Dipta habis gagal balapan kemarin.” aku mas Dhika seraya tersenyum menghampirinya dengan jalan pelan-pelan.
Mas Dhika terkekeh-kekeh, dia mengernyit sakit sambil menatap rumah sahabatnya. Rumah yang tidak mengalami perubahan sejak pertama kali kami sering menghabiskan waktu di pinggir kolam renang sambil mengerjakan tugas sekolah.
“Ada Dipta, Pak?”
“Di dalam mas, saya panggilkan lewat interkom.” ucapnya seraya masuk ke pos jaga.
Aku yang gelisah menghampiri mas Dhika lalu menghela napas di depannya.
__ADS_1
”Aku nggak nyangka Dipta begini, mas. Kok dia tega banget sih sama kamu. Dia mikirnya apa juga! Jahat banget.”
“Psikopat!” gumam mas Dhika.
Aku membelalak mata seraya menoleh saat Dipta memanggil kami.
Tertatih-tatih mas Dhika menghampirinya. Aku mengikutinya sambil menundukkan kepala. Dadaku bergemuruh akan kemarahan dan rasa kecewa yang meningkat dari level siaga menjadi awas. Aku tak tega, persahabatan yang begitu kental manis ini berbuah pahit seperti biji mahoni.
“Bawa siapa kamu, Dhik?” Dipta memandangi pria-pria berwajah tak ramah yang mendekat kepadanya.
”Bawa temen doang ini, teman jauh. Tapi boleh masuk nggak nih kira-kira?” tanyanya masih menggunakan santun.
Dipta tertuju pada bingkisan yang aku bawa lalu mengiyakan.
“Ke dapur aja sekalian.”
Aku mencelat dalam hati. Ini bagaimana ceritanya... Mau penangkapan atau makan-makan?
Mas Dhika mengiyakan, karena mungkin betul Dipta menyukaiku, jadi apapun buatanku dia akan menyukainya karena mas Dhika pasti sangat menyukainya. Jadi kalau bisa aku simpulkan mungkin Dipta ingin sekali menjadi mas Dhika! Dia psikopat. Ya Allah, berikan hidayah-Mu untuk Dipta!
Selesai makan-makan yang terasa dingin, tegang, dan sangat kurang! Mas Dhika berdehem lalu minta ke taman saja biar lebih santai.
Di taman, tanpa basa-basi lagi mas Dhika mengeluarkan rokoknya sambil menanyakan perihal kenapa Dipta meninggalkannya waktu kecelakaan.
Dipta mengerjapkan mata, sekilas aku melihat jakunnya bergerak naik turun dan sorot matanya mulai tidak fokus ke aku bahkan mas Dhika.
“Gak perlu susah-susah jawab juga sih, Dip. Gue udah tau! Elu sabotase mobil gue pakai alat peretas, pasar gelap, negara S?” Mas Dhika mendengus.
“Sayang banget gue sama elu sampai gue ogah penjarain elu, Dip. Elu iri bilang, gue bisa ngalah kecuali pisah sama Risha! Gue ngerti sempurna banget cewek gue di mata elu, tapi nggak bisa sama kita seleranya. Elu sama gue beda dari lahir, elu sangat sempurna ketimbang gue! Itu yang bikin gue optimis bisa lebih dari elu sampai gue rela kerja keras dari kuliah biar bisa dapat mobil bagus walaupun bekas. Sekarang gue udah gini, elu puas?”
“Sorry, Dhik! Aku salah, aku sudah berusaha memperbaikinya dengan tolongin kamu panggil orang suruhan. Mas Andi.”
Mas Dhika menepis tangan Dipta yang terulur ke arahnya sampai badannya berusaha berjingkat dari tempat duduk.
“Gue minta ganti rugi! 1M!” serunya kemudian.
__ADS_1
Aku tercengang dan semua orang pun menengok ke arahnya langsung. 1M?
...----------------...