Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Langkah akhir di Cannes dan Monte Carlo.


__ADS_3

Perlu satu bulan menunggu selesainya selusin motor balap agar kami bisa ke Cannes dan Monte Carlo tanpa beban. Dengan perjalanan yang sangat panjang dan sangat melelahkan, kami cukup senang, udara sejuk dan keindahan kota bagian Perancis ini membuat kami lebih cepat recovery dari jetlag di sebuah hotel biasa yang sejujurnya juga tak ramah di kantong untuk orang biasa seperti kami.


“Kamu mau ke pantai dulu atau ke Blace Du Suquet?” tanya Mas Dhika lalu menyeka bibirnya denger serbet putih.


Aku menghabiskan sarapanku lebih cepat untuk mengisi energi agar sanggup berjalan-jalan lebih lama dan kuat mengelilingi sepanjang pesisir pantai Cannes untuk pertama kalinya. Dan antusiasmeku dalam melahap seluruh makanan di meja membuat mas Dhika tertawa.


“Ya bener tambah gendut, kamu makan udah kayak puasa setahun.”


“Ini demi anak manis kamu biar kuat jadi pembalap!” kataku setelah mengunyah dan sisa jual jeruk mas Dhika yang masih aku habiskan daripada sia-sia.


Mas Dhika berswafoto sebelum berdiri. Ia meraih tas ranselnya dan melebarkan peta lokasi wilayah Cannes yang kami dapat saat tiba di bandara. Sementara aku mengalungkan tali kamera seraya mengelus perutku.


“Kita jalan-jalan, anak manis. Kamu yang kuat, butuh rayuan maut berkali-kali demi bisa ke sini!” Mas Dhika mengalungkan tangannya di pinggangku.


“Cowok butuh dirayu biar bahagia, Sha.”


Aku berdehem dan membaca peta bersama. Aku ingin menyusuri sepanjang pesisir pantai di Cannes yang memiliki siang lebih panjang dan pemandangan yang luar biasa menakjubkan, terlebih-lebih trotoar di sini memiliki jalan lebar dengan toko-toko pakaian beragam merek yang sudah dikenal dunia hingga lorong-lorong gang yang bersih yang nyaman untuk turis pejalan kaki seperti kami.

__ADS_1


Mas Dhika memakai kaca mata hitamnya. Dengan kehamilan yang memasuki trimester ke tiga dan badan yang telah melebar ke mana-mana, udara sejuk yang menenangkan dan maha karya sang pencipta tak terasa membuat langkah kaki terasa ringan.


Kami berswafoto di pesisir pantai yang ramai di kunjungi wisatawan lalu beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki di kafe dengan gaya khas kota lama Eropa yang tak jauh dari pesisir pantai.


“Besok kita ke sirkuit Monako, gantian!” Mas Dhika menunjuk peta lalu menjelaskan bagaimana kita harus mencapai ke sana.


Aku mengiyakan karena sekarang memang giliranku menjelajahi kota lama Place Du Suquet yang sunyi dan menjadi pilihan kami untuk menepi sejenak untuk mencari ketenangan jiwa.


Dari kawasan Suquet, kami berjalan mendaki lumayan lama dengan sekali dua kali beristirahat ke depan gereja Notre Dame d'Esperance sebelum melewati sebuah jembatan kecil yang dipakai untuk melihat pemandangan kota tepi pantai yang cantik.


Beberapa hari kemudian setelah mengelilingi kota Cannes dengan trem sebagai modal transportasi publik ala Eropa. Kami akhirnya menaiki kereta api dengan harga 12 euro untuk pulang pergi Cannes-Monte Carlo.


Mas Dhika berswafoto terus menerus sampai aku memejamkan mata.


“Udah kali mas fotonya, norak lu. Gantian!” ucapku sambil menyerahkannya kamera. Tetapi mas Dhika enggan memfotoku sendirian, kami berfoto bersama sambil tersenyum bahagia.


“Aku capek, Sha. Kita pakai bus wisata aja.”

__ADS_1


Demi kesejahteraan kaki bersama, aku mengiyakan. Kami menggunakan Bus bertingkat yang terbuka bagian atasnya, Monaco Le Grand Tour untuk keliling kota ini. Bus berwarna merah yang memberi penumpang peta perjalanan dan earphone untuk mendengarkan penjelasan tur wisata dengan beragam bahasa.


Aku menggenggam tangan mas Dhika sambil menikmati semilir angin di dalam terowongan yang berhawa lembab. “Bentar lagi aku lahiran mas, kita pulang ke Jogja?”


Mas Dhika yang sedang merekam perjalanan menurunkan kameranya, “Lahiran di Jakarta aja, rumah eyangku.”


Di sela-sela menikmati pemandangan ikonik princess Grace rose garden, aku mengelus perutku yang bergoyang seraya mengangguk. Kami menghabiskan selama satu pekan di sini sebelum pulang.


Di pesawat, aku yang jenuh dengan perjalanan panjang melihat-lihat hasil foto selama plesiran kemarin dengan teliti.


Sekilas aku memandangi siluet tubuh seorang laki-laki berjaket hitam yang memiliki logo komunitas mobil yang amat aku kenali memunggungi kami ketika berada di sirkuit Monako. Dipta.


...---------------- Selesai....


Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca Pernikahan Indah Tak Sempurna. Ambil manfaatnya, buang yang berasa sia-sia. Dan berhubung ada peraturan baru yang lumayan menyebalkan. Jujurly novel ini nggak dapat keuntungan ya. Jadi mohon maaf nggak ada giveaway sekarang.


Salam sayang, skavivi.

__ADS_1


💚🙏


__ADS_2