
“Pembangunan rumah ini tidak lepas dari tumpahan keringat para kuli bangunan.” ucap mas Dhika sembari duduk di kap mesin untuk menatap rumah minimalis kami yang belum rapi di bagian depannya. Masih banyak tumpukan pasir, batu candi dan batu taman di sisi taman bagian kiri.
“Mereka menggali, memasang, membenahi, mengecor dan memperindah rumah ini seperti yang kita mau, Risha.”
Dia membicarakan tumpahan keringat kuli bangunan sementara istrinya ia biarkan menjadi kuli dadakan.
Aku menurunkan koperku ke bumi seraya berkacak pinggang di hadapannya, menghalangi mas Dhika mengagumi rumah kami yang bercat hijau army. Sungguh-sungguh aku tidak berdaya kala memutuskan warna rumah, bentuk dan bahan-bahan pendukung keindahannya. Mas Dhika mendominasi semuanya dan hanya membutuhkan duitku untuk menunjang pembangunan rumah ini dan memberi leluasa hanya di bagian dapurnya.
Bayangkan Risha yang nggak pintar memasak ini malah di beri kebebasan mendekorasi dapur? Pasang gas saja aku takut!
Mas Dhika tersenyum sembari menjulurkan tangannya. “Keringatan juga sayangku, sini-sini.”
Aku mencondongkan tubuh seraya memutar bola mata saat mas Dhika mengambil ujung kerudungku dan menggunakannya untuk mengelap keringat di keningku.
“Mana lagi yang basah sayang?” tanyanya manis.
Aku melebarkan ketiakku sambil menunjukkan ke arahnya lebih dekat. “Nih basah, mau kamu elap juga pakai kerudungku?”
“Wah.” Mata mas Dhika berbinar-binar senang. “Boleh sini boleh, buka dulu dong penutupnya.” ucapnya merayu.
Aku menyembunyikan ketiakku seraya berbalik, mengangkat koper dan menyerahkan gagangnya ke tangannya.
“Mas bantu aku bawa koper ke dalam rumah impian kamu itu.” ucapku galak sambil meraih koper lainnya dan tas ransel.
“Ayo.” desakku.
Mas Dhika menatap koperku lalu kakinya, dia tersenyum menyepelekan seraya meraih tongkat penyangga jalannya.
“Aku pasti bisa Risha, aku pasti bisa!” Mas Dhika berseru. Aku meliriknya sekilas, dia nampak kesusahan berjalan sampai sekali dua kali harus berhenti padahal jarak antara mobilnya dengan teras rumah hanya empat meter.
“Bisa nggak? Mau Risha tolong?” tanyaku sambil mendesakkan kunci rumah ke lubang kunci.
Mas Dhika menyunggingkan senyum, dia menggeleng. “Aku lagi usaha bantu kamu biar nggak jutek banget.” katanya lembut.
“Oke.” Aku mendorong satu pintu seraya menurunkan kancing pintu satunya sambil berjinjit sebelum mendengar seruan mas Dhika.
Dengan agak terburu aku menghampirinya, lenganku merangkul pundak mas dhika seraya menarik tubuhnya yang tengkurap di lantai teras.
“Tetap tenang, jangan nangis, jangan sedih, jatuh adalah hal biasa. Kita bangkit lagi.” kataku menenangkan mas Dhika yang tampak panik dengan jantung yang pasti deg-degan parah.
__ADS_1
”Ada yang sakit?” tanyaku sambil membantunya duduk di kursi ruang tamu.
Mas Dhika menunduk seraya menangis tiba-tiba seperti lelaki kebanyakan. Tanpa suara tapi pedih terlihat di seluruh wajahnya.
“Sakit Risha, sikuku lecet. Kakiku sakit banget.” katanya sesenggukan.
Aku memejamkan mata seraya menghela napas. Maunya pasang badan, tapi giliran seperti ini kerepotan juga. Mas Dhika, mas Dhika.
“Maafin Risha ya.” kataku pelan sambil meraih sikunya, betulan lecet sampai kulitnya mengelupas dengan darah segar yang kental merembes keluar.
“Apa kakinya perlu di kontrol mas?” kataku prihatin seraya mengusap air matanya dengan ujung kerudungku.
Mas Dhika mendengus. “Bekas keringatmu tadi Risha, bau!”
“Gak papa mas, keringat campur air mata jadinya tambah gurih.” selorohku membuatnya tertawa.
Mas Dhika melihat sikunya yang darahnya mulai mengalir dari siku ke lengan membentuk garis yang semakin panjang semakin tipis.
Matanya terpejam seolah menghayati hal-hal yang sedang ia alami. Aku menyentuh pipinya, hatinya pasti sedang remuk.
“Kakiku baik-baik aja, Ris. Nggak perlu kontrol, besok sesuai jadwal. Tapi mungkin aku butuh obat nyeri.” kataku seraya tersenyum dengan mata yang perlahan terbuka.
“Oke, aku masukin barang-barang ke dalam dulu terus aku obati lukanya.” Aku menyentuh kedua pipinya lagi sambil tersenyum. Mas Dhika tampak kelabu saat memperhatikanku dengan sungguh-sungguh.
Di halaman rumah aku menghela napas sambil mengangkut barang-barangku.
Butuh pembantu kayaknya, tapi mas Dhika belum kerja. Ya Allah, kuatkan kakiku dan hati ini. Aku nggak minta banyak Ya Allah, cukup sehat, tentram, perut kenyang dan nyala semangat ini tidak padam. Mencari warna yang indah.
Aku menyunggingkan senyum sambil membuka kotak first aid kid yang wajib aku bawa saja ke mana saja sekarang.
“Habis ini Risha cari makan sama kebutuhan dapur mas, mas di rumah aja ya.” kataku sambil membersihkan darahnya dengan kapas dan alkohol. “Mas kasih atmnya aja deh sesuai kesepakatan kita tadi.” imbuhku iseng sambil menatap mas Dhika yang menahan perih.
“Mas punya uang kan?”
“Sekalian kamu ke apotik, Ris. Beli obat pereda ketegangan.” ucap mas Dhika sembari mengulurkan dompetnya yang di ambil dari kantong celananya.
Aku mencebikkan bibir sambil memasang kasa steril dan hansaplast seraya mencium lukanya di siku.
“Cepat sembuh ya.”
__ADS_1
”Kayaknya betul gue gak bisa hidup tanpa kamu, Ris. Makasih lho ini perhatiannya.” Dia merangkul pundakku seraya mencium pipiku dengan lembut.
Aku menyunggingkan senyum geli lalu bangkit dari sofa.
“Gak usah ke mana-mana, kamar belum siap. Kalo ngantuk tidur di sini. Jangan ngerokok di rumah. Awas.” kataku sengit mengingatkan sambil memberinya bekal dari rumah tadi.
Mas Dhika nyengir. “Kamu emang udah cocok jadi ibu-ibu cerewet, Sha. Gila, belum apa-apa sudah dapat warning banyak banget.”
“Biarin.” Aku menjulurkan lidah seraya melambaikan tangan. Bukan apa, aku takut jika ia aneh-aneh dan jatuh lagi, makin banyak luka di tubuh dan hatinya. Kasian kan?
Di bawah kehangatan matahari siang hari, aku membawa perjalananku ke pom bensin.
“Full mas.” kataku pada pegawai pom bensin.
Aku menunggu pengisian bensin sambil melihat-lihat suasana dan tersenyum kala sedan merah yang di kendarai Dipta berhenti di belakang mobil pick up toko bangunan.
“Sha, sama Dhika gak?” tanyanya setelah menghampiriku.
“Di rumah dia, habis jatuh lagi.”
“Terus gimana keadaannya sekarang?”
Aku menceritakan keadaannya dengan terburu-buru lalu menerima kembalian dari pegawai pom bensin. “Duluan, Dip. Bensinku udah penuh.” kataku seraya memutari kap mesin.
Dipta berseru. “Ikut, Sha.” ucapnya saat aku masuk ke dalam mobil.
Aku menatap spion mobil, betulan Dipta mengikutiku. Ia menyalip beberapa kendaraan penghalang sebelum membuntuti tepat di belakang mobilku. Dulu mas Dhika yang seperti itu, mengikutiku di saat aku tidak ingin di jemput atau sedang marahan.
Tiba di pusat perbelanjaan, kami masuk bersama dan Dipta nyengir saat aku membawa troli belanja besar lalu menuju etalase pendingin yang berjejeran berisi sayur mayur, lauk pauk mentah dan buah-buahan.
“Udah beda nih jajanmu, Sha.” katanya di belakangku.
“Iyalah.”
“Mau aku bantu?”
“Boleh, kebetulan aku capek.”
“Kenapa? Soal Dhika?”
__ADS_1
Aku tersenyum jengah dan Dipta menyarankan untuk ngopi dulu sebelum pulang.
...----------------...