
Malam harinya aku mengembuskan napas lalu mengambil sisi selimut dan menarik bantal untuk menutupi kepalaku. Aku tidak lekas tertidur, barangkali pekerjaan yang menumpuk dan makan berat bersama kawan-kawanku sepulang kerja membuatku malas menikmati mimpi yang melenakan.
Dalam gelap, sambil mendengarkan dengkuran mas Dhika aku memikirkan segalanya yang telah kualami tadi. Kerja dan memikirkan mas Dhika semata. Otot-otot di kepalaku terasa tegang dan aku sulit bersosialisasi dengan baik. Komunikasi jadi sulit di pahami karena aku rasanya hanya ingin mengomentari kelakuan mas.
“Tapi kayaknya kalo langsung resign nggak bisa deh, aku harus push up Julia dulu biar bisa gantiin aku.” Aku berdehem, dengan tekad yang sudah aku bulatkan, aku pikir-pikir boleh juga resign. Sudah bosan kerja terus, jadi asisten mas Dhika kayaknya lebih bagus.
Aku mengangguk lalu menyingkirkan bantal dari wajahku, perlahan-lahan aku mendekap mas Dhika diam-diam agar tak mengganggunya mendengkur.
“Aku harap kamu setuju mas.” kuembuskan napas. “Tidur adalah kewajiban setiap umat manusia, jadi tidurlah... tidurlah.” Aku menggumamkan mantra gila seraya mengisyaratkan kepalaku di tengkuk lehernya.
“Risha, sayang.” Aku merasakan pipiku di tepuk-tepuk laki-laki malang itu dalam lelap yang setengah sadar.
“Sha, sayang, bangun udah siang. Elo kerja kan apa berangkat siang?” katanya lembut sambil menyingkirkan rambut-rambutku yang bertebaran di wajahku.
“Aku kerja mas.” kataku serak. “Tapi mas ngantuk.”
“Tumben, emangnya kamu tidur jam berapa semalam?”
“Habis tahajud, terus berkhayal, terus mimpi keenakan.”
Mas Dhika tertawa, mulutnya mengeluarkan aroma mentol yang menyegarkan. “Sudah mandi?”
“Sudah. Sudah bikin sarapan buat kita juga.” katanya bangga.
Aku tersenyum padanya sekaligus risau. Jam berapa ini dia sudah mandi dan masak?
Aku mengerjapkan mataku dan pemandangan sekarang sangat memesona. Mas Dhika tersenyum dengan kedua tangan mantap menarik bangkit di tengah pencahaya Cahaya matahari menyapu lembut permukaan tirai.
“Jam berapa mas?” tanyaku sambil mengusap wajah.
“Setengah delapan!”
Apa!
Aku menyingkirkan selimut cepat-cepat dan turun dari ranjang tanpa hati-hati, tapi alangkah apesnya diri ini ketika kaki kananku kram tiba-tiba.
“Sakit mas.” kataku sambil jatuh ke ranjang dengan kaki kanan yang tegang lalu kuangkat ke atas.
__ADS_1
“Ya elah, makanya berkhayalnya ingat waktu.” Mas Dhika pindah dari atas ranjang perlahan-lahan untuk mengambil kotak skin care di laci lemari.
“Bilang aja minta di pijat-pijat, Sha. Emang dah Tuhan tahu gue pingin pegang kamu.”
Mas Dhika melinting celana panjangku yang berwarna biru dongker.
“Kapan ini dapat jatah.” gumamnya sambil membalur kakiku dengan minyak kayu putih.
“Besok deh kalau stresor Risha sudah berkurang. Ntar coba pelan-pelan ya.” kataku lembut.
Mas Dhika mengerutkan keningnya. “Stresor mu emangnya apa aja? Gue lagi? Gue terus?”
“Kerjaan.” Aku menyunggingkan senyum. “Seminggu lagi Risha mau resign, mas dukung aku nggak?”
Tangan mas Dhika berhenti di lututku, tatapannya lumayan terlihat mengandung heran yang berlebihan sampai mendung menyapu wajahnya.
“Gara-raga aku lagi?” katanya muram.
“Gara-gara pikiranku sama hatiku sendiri. Aku pusing mikirin kamu sama kerjaan terus. Mendingan aku resign terus bantu usaha kamu. Aku tenang, aku santai.” kataku tanpa beban.
Mimik wajah mas Dhika langsung berubah dramatis, matanya berkaca-kaca, bibir bawahnya bergetar seolah akan menangis.
“Sombong!” makinya sambil memelukku, mas Dhika menangis sesenggukan. Kami terjebak dalam kebisuan panjang, jantungku berdebar. Ini terlalu lama, aku sudah terlambat kerja!
Dengan pelan-pelan aku mendorong bahu mas Dhika. Ia menguatkan diri dan “Aku mandi dulu mas. Kamu tunggu di dapur.” ucapku sambil menghapus air matanya.
“Gak salah kan kamu milih aku daripada cewek payung yang genit-genit sama kamu?”
Mas Dhika mengembuskan napas seraya menyunggingkan senyum pahit. “Dia cuma asyik di ajak nongkrong, lagian kita waktu itu lagi break pacaran!”
“Halah.” Aku bangkit dan berdiri setegak-tegaknya dengan acuh seraya menyahut handuk di cagak kayu bambu yang memiliki banyak cabang dan menjadi tempat berlabuhnya topi, sabuk, handuk, celana kolor mas Dhika, kerudung dan tas-tas kecil.
“Asyik di ajak nongkrong katanya, basi banget jawabanmu.” Aku melengos dengan langkah tegap ke lantai, jengkel. Aku masih menaruh benci pada gadis payung yang merebut perhatian mas Dhika waktu dia pertama kali mengikuti lomba balap saat aku tidak setuju ia menjadi pembalap. Tetapi setelah itu aku tahu, mas Dhika hanya menggunakan gadis payung yang memiliki rambut curly blonde, tubuh sintal untuk mengompori hatiku agar kembali padanya dan aku kembali. Dasar, hati!
Selesai mandi dan berkemas tanpa memakai riasan aku keluar dari kamar untuk menyusul mas Dhika di dapur.
Aku menatap sarapan buatannya yang berupa nasi goreng dengan lauk telur ceplok.
__ADS_1
Aku meremas tangannya yang menggantung di samping badannya.
“Enak nggak nih kira-kira?”
Mas Dhika mengulas senyum kucing, senyuman yang mengandung bahaya.
“Cobain dong, usahaku tadi.” pintanya sambil mengulurkan sendok.
Aku berdehem, tekanan besar di rumah ini adalah mencoba masakan suami yang cuma jago nge-drift dan nge-gombal tanpa pernah masuk ke dapur. Aku banyak-banyak doa sebelum menyantapnya dan tersedak. Nasi goreng menyembur dari mulutku hingga membuat mas Dhika tertawa.
“Kamu emang sukanya bikin Risha darah tinggi mas. Nih cobain.” Aku menyuapinya nasi goreng buatannya sendiri yang keasinan dan pedas sekali.
Mas Dhika terbatuk-batuk dan hoak-hoek di wastafel kemudian.
“Rasain! Enak kan, mantap. Bikin lagi yang enak mas.” Aku mencium pipinya seraya melengos pergi. Akan ku temui Bu Kartina untuk meeting keperluanku ini, dan setibanya di kantor official store. Ruangan Bu Kartina tampak lebih mencekam dari biasanya. Tiada lagi unsur-unsur mengayomi, keibu-ibuan dan bijaksana. Bu Kartina sepenuhnya menjadi monster berkedok bos.
Bu Kartina melipat kedua tangannya. “Ibu curiga!”
“Kecurigaan ibu tepat sasaran! Risha tertusuk tatapan ibu.” kataku sambil memegang dada.
Bu Kartina beralih memegangi tepi meja kerjanya yang berantakan oleh kertas-kertas yang berkaitan dengan desain tas keluaran terbaru.
“Lihat ide siapa ini?”
“Aku!”
“Terus siapa nanti yang mau menjelaskan bagaimana ide dari tas-tas baru itu tercipta? Sha, jangan resign lah.”
“Mas Dhika butuh aku, Bu. Dia kasian, mirip bayi kecil butuh perhatian.” kataku setengah manja.
Bu Kartina berdecak kesal, tapi sorot matanya memberi pengertian isyarat pengertian.
“Gini aja deh, ibu setuju kamu mulai ngajarin Julia, tapi kamu tetap nggak bisa resign!”
“Loh... Kok begitu Bu?” kataku ngegas.
Bu Kartina angkat tangan. “Kamu kerja paruh waktu di rumah!”
__ADS_1
...----------------...