
“Aku nggak bener-bener bisa resign kerja mas. Bu Kartina lum siap.” kataku pada mas Dhika dengan suara muram sambil menyusuri lorong kantor.
“Tapi kerjaanku gampang sekarang, lebih santai, paling ke kantor apa gudang seminggu dua kali untuk kroscek barang dan meeting.”
Mas Dhika yang nampaknya sedang berada di dekat mesin cuci yang berputar mesin pengeringnya berdehem. Hadiah pernikahan dari para tamu undangan datang kemarin di antar mama Deswita dan Om Ray menggunakan mobil pick up, mesin cuci itu salah satunya, dari kerabat dekat Om Ray.
“Udah gue bilang kan, santai aja kamu kerjanya. Aku bisa kamu andalkan Risha.”
“Nggak bisa santai! Udah di bilangin juga kenapa. Mas ngerti dong.”
“Risha... Wait... wait... wait...” seru mas Ilyas dari arah persediaan barang di outlet. Menggunakan jas semi formal dan celana jins biru dia mengulurkan tas belanja berwarna merah muda.
“Buat kamu ini, sorry kemarin nggak datang ke nikahan kamu!”
“Kenapa?” Aku menyunggingkan senyum dan mas Ilyas terlihat gelagapan.
“Iya... Iya...” Aku tersenyum paham. “Makasih ya kadonya.”
Mas Ilyas menghela napas seraya menatap sekilas ponselku yang masih menyala.
“Semoga kamu bahagia.”
“Mas Ilyas juga. Risha doakan mas Ilyas bahagia.”
Aku berlalu setelah mas Ilyas berbalik dengan bahu merosot.
“Aku mau ke kantor gudang mas, bentar ya. Mataku takutnya lihat hp terus.” kataku sambil mengapit ponsel dengan bahu dan telinga.
“Cuih... Mentang-mentang habis dapat hadiah dari senior, coba buka dulu apa itu kado dari Ilyas!” seru mas Dhika dengan nada cemburu. “Jelas gue tahu dia suka sama kamu dari dulu, cepat buka.”
“Iya bentar.” Aku menarik pintu mobil dan menghidupkan mesinnya.
Dengan rasa penasaran yang menjelma menjadi gundah gulana, mas Ilyas memang sudah lama diam-diam suka sama aku. Tapi karena dia gentleman dan tidak ingin mengotori kredibilitasnya sebagai laki-laki matang berwibawa ia memang hanya menaruh perhatian padaku dengan membantuku dalam pekerjaan tanpa pernah mengutarakan isi hatinya.
Aku menarik kotak berwarna biru muda seraya membukanya hati-hati. Lima kerudung aneka warna dan multivitamin. Aku terkekeh.
“Kenapa, Ris? Apa kadonya?” seru mas Dhika panik.
__ADS_1
“Kerudung mas, sama multivitamin.”
“Ya elah, Ilyas! Ngasih itu aja pakai acara semoga kamu bahagia segala, berasa meragukan cinta kita!” gerutunya mangkel. “Lagian cewek lain banyak, di pabrik apalagi. Kok kamu yang diincar. Gue tonjok beneran dia kalo ketemu.”
“Belagu.” kataku sambil menaruhnya di kursi penumpang. “Di dorong aja jatuh, pakai mau nonjok segala.”
Mas Dhika tertawa lalu aku mengiyakan ketika ia hendak menjemur pakaian setengah kering di teras belakang rumah.
Di kantor pabrik, aku mengamati kepala pabrik berbadan besar dan berkumis tebal berkacak pinggang di dekat pintu masuk.
“Pagi bos.” sapaku setengah tersenyum. Aku sangat terlambat sekali, sudah pukul setengah sepuluh.
“Tadi Risha ke toko dulu bos.”
“Bapak bakal ngajuin kenaikan gaji kamu, Sha. Tapi jangan resign lah. Berat pabrik ini lepas kamu!” ucapnya acuh tak acuh tanpa berani menatapku.
“Kehilangan kamu itu sama seperti kehilangan desainer, manager, tukang marah-marah. Repot, Sha.”
Aku berkacak pinggang lalu menatap pabrik yang sudah aku pahami keseluruhan pegawai dan kucing-kucing liar yang menumpang teduh di sini.
“Bapak tahu kan, adakalanya perempuan selalu di tempatkan di posisi serba salah dan mama bilang surganya perempuan ada pada suami. Aku sedang ingin menjadi bidadari surga untuk mas Dhika, pak.”
“Kartina sudah ngomong, bener kamu setuju kerja di rumah paruh waktu?”
“Setuju.” Aku mengangguk tegas. “Tapi tetap naik gaji kan pak?”
“Yo nggak bisa, kerja paruh waktu kok minta gaji naik! Ngawur kamu, mau bikin pabrik bangkrut?”
Aku mencebikkan bibir lalu mendorong pintu kantor. Tatapanku langsung tertuju pada Julia yang nampak langsung menyembunyikan wajahnya di balik wadah bekal.
“Nggak mau. Aku nggak mau.” serunya dengan frustasi.
Aku menggebrak meja, suara cincin pernikahanku terdengar cetok-cetok-cetok.
“Yakin nggak? Milih mana kamu, di pecat apa meneruskan sebagian tanggung jawabku di sini?” kataku tegas.
“Masa iya langsung di pecat, Ris? SP dulu kan ada!”
__ADS_1
“Itu tandanya kamu gak bisa kerja di bawah tekanan baru! Maju dong ke level baru! Lagian kamu lupa waktu lamar kerja siapa yang interview kamu?”
Julia mengangguk pelan. “Kamu.”
“Berarti kita deal dong?” Aku mengulurkan tanganku dengan seringai serigala.
Julia menghentakkan kakinya di bawah meja panjang sambil memukuli meja seolah sedang meluapkan emosinya di bawah meja sebelum mengulurkan tangannya. Kami bersalaman cukup lama dengan ekspresi kedua wajah yang berbeda.
“Atau ada yang lain yang mau? Jaga-jaga aja kalo Julia nyerah ada yang udah bisa gantiin.” kataku kemudian sambil menatap sekeliling. “Gaji dua kali lipat, tunjangan kesehatan kelas 1, bonus reward kerja, dan ketemu orang-orang penting?”
Beberapa orang tampak langsung berpikir keras sementara Julia sangat menggebu-gebu menanti teman-teman bersuara.
“Ayo guys. Ayo... Kita back up bareng-bareng perusahaan ini biar dapat tas baru setiap tahun.” seru Julia menyemangati lalu mengulas senyum pahit. Mereka bungkam sambil geleng-geleng kepala.
“Oke deh kalo nggak ada yang mau, mungkin masih takut buat tanggung jawab besar ini dan nyaman dengan posisi sekarang.” pungkasku mengakibatkan Julia menutup wajahnya seketika.
“Semoga aku dapat bos setelah naik level!” serunya dengan semangat.
Kepala pabrik yang mengintip dari pintu masuk berseru. “Sama aku saja, Jul. Aku kepala pabrik dan bosmu.”
Julia menyalak tidak mau. Bos pun terbahak-bahak sampai perutnya bergoyang-goyang.
“Urus dia, Ris. Maximal seminggu ini kamu kerja langsung di lapangan biar Julia nggak kaku.”
Aku menyepakatinya, hanya perlu seminggu penuh kerja keras dan aku melakukannya dengan sabar sementara mas Dhika aku suruh pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu biar pikiranku tak bercabang.
Julia tersenyum lebar sambil menutup bukunya yang berisi catatan kerja, dan nasihatku tentang pekerjaan setelah beberapa hari pertama dia hanya mengomel-omel terus.
“Tapi kalo aku bingung bisa ke main ke rumahmu, Sha?”
“Boleh banget, aku juga dua kali seminggu ke kantor kok. Ntar gampang deh, aku nggak benar-benar lepas tangan.” kataku sambil tersenyum dan menepuk pundak.
“Ke kantor.” Beberapa saat kami keluar dari dalam gedung pabrik yang bisa bising karena suara mesin jahit.
Aku tersenyum. Mas Dhika menungguku di dalam mobil untuk pergi kontrol ke rumah sakit.
“Guys, kerja yang solid dan serius ya. Ntar Bu Kartina bakal ke sini untuk upgrade tampuk pekerjaan. Jangan malu buat tanya! Do the best and see you again.” Aku membungkukkan badan pada rekan kerja seraya berlalu.
__ADS_1
Mas Dhika menyambutku dengan senyuman lebar, nyaris tampak lega saat aku mencium pipinya.
...----------------...