Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Trauma


__ADS_3

Mas Dhika mencubit pipiku dengan gemas seraya menguyelnya. ”Masih malu kamu? Apa bingung?”


“Bingung kenapa?” Aku mengernyit tiba-tiba sambil menyentuh pipiku yang panas.


Mas Dhika menyingkirkan tanganku dari pipi dengan lembut.


“Cewek soleha kayak kamu mana paham ciuman, sayang.” Mas Dhika membelai pipiku sambil tersenyum.


Aku mencebikkan bibir. Tidak terima dengan tuduhannya tapi memang aku bingung. Tidak salah kan cewek galak dan anti romantis seperti aku ini paham caranya mengadu bibir.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menjureng kepadanya yang sedang memainkan ujung rambutku. Aku jadi curiga memangnya dia pintar berciuman. Latihan sama siapa? Niru siapa? Duh... tiba-tiba aku jadi penasaran.


Aku duduk lalu mengikat rambutku. Aku menatapnya serius sementara dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Emangnya cowok yang selama ini pacaran cuma sama aku saja paham cara ciuman? Emang pinter?” kataku seraya menyipitkan sebelah mata di depan wajahnya.


Mas Dhika angkat tangan lalu meringis lebar.


“Ampun Risha, aku khilaf bicara.”


“Jawab!” Desakku. “Atau aku bikin acara resepsi kita nanti malam tambah ribet dengan kemarahanku!”


“Aku cuma nonton di film-film Hollywood, Sha. Cuma nonton doang terus aku pikirkan.”


“Gitu aja dipikirkan! Nggak ada yang lain!” kataku ngegas.


“Adalah, gila lu.” seru mas Dhika cepat. “Aku mikirin caranya doang, prakteknya belum sempat. Partner gue cu—”


“Heh!” Aku menjentikkan jari di bibirnya. “Sembarangan mas ngomong. Risha nggak cupu, Risha cuma...”


Mas Dhika mengulum bibirnya yang sedikit memerah sambil berusaha tidak tertawa.


“Cuma apa? Nggak bisa? Malu? Merasa tabu?” Mas Dhika meraih kedua tanganku di pinggang lalu menggenggamnya sementara kakinya mengungkung diriku.


“Jawab Risha, kamu kenapa?” desak mas Dhika, bibirnya nyengir, matanya berbinar. Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jari.

__ADS_1


Aku menundukkan kepala. Laki-laki di depanku ini pasti ngakak bukan main aku malu.


“Kamu pasti tau akulah mas, udah lama kita bareng-bareng masak gitu aja gak paham. Jangan-jangan emang kamu gak peka! Ih dasar.” gerutuku pura-pura dengan sengaja.


Mas Dhika melepas tanganku dengan sedikit sentakan hingga membuatku mengangkat tatapan.


“Cewek kalau nggak playing victim ya ngambek. Heran gue.” keluhnya lalu memejamkan mata.


“Ya kan mas harusnya tau aku kenapa! Aku malu.” kataku kelepasan. “Aku itu malu mas bahkan pundakku nggak bisa lemes waktu kamu peluk-peluk.” Aku mendesis seraya turun dari ranjang.


Mas Dhika tertawa tapi kemudian dia berhenti menertawakan keluguan ini dengan memanggil namaku dengan lembut.


Aku memalingkan wajah kepadanya lalu membuang muka. Nggak mau lihat wajahnya, nggak mau di ejek-ejek.


”Risha, sayang. Sini deh, jangan berantem. Nggak enak di dengar sampai luar.”


“Mas saja yang ke sini. Rayu aku seperti kamu ngerayu aku buat ikut balapan!”


“Ini cewek emang dari SMA suka ngajak tawuran kata-kata, tawuran rasa. Mana gue tambah suka. Gila lu, udah tau kaki hilang satu masih aja di suruh kerja keras merayu!” gerutunya sebelum suara pekikan dan gedebug membuatku memalingkan wajah dan buru-buru beranjak sampai kursiku terjungkal.


“Sakit mas?”


“Kamu harusnya tau rasanya jatuh dari kasur, Ris. Sakitlah, malu lagi.” Mas Dhika menyembunyikan wajahnya ke perutku.


“Kakiku susah di ajak kompromi, Ris. Minta yang mudah-mudah aja dong sekarang ini. Tolong pahami aku.”


Perutku menegang. Alih-alih merasa posisi ini romantis karena aku memangku kepalanya sembari mengelus kepalanya, aku merasa situasi ini membuatku susah bernapas.


Aku menepuk bahunya. “Iya... Iya... Sekarang mas pindah dulu, Risha geli. Apalagi mas kayaknya pingin banget gigit perutku sekarawww.” Mas Dhika mengigit perutku dengan cepat sampai aku menyingkir hingga kepalanya terbentur lantai lagi.


Mas Dhika mengaduh sakit. Tapi ia tetap bisa nyengir sembari mengusap kepala belakangnya.


“Jangan gitulah, Sha. Transisi dari pacaran ke suami halal emang susah, tapi jangan gini juga kali. Pelan-pelan dilemesin badan kamu, di nikmati kemesraan ini. Jangan kek bukan muhrim aja lu! Jaga jarak.”


Aku mengusap perutku. “Tapi kamu emang mirip piranha mas, nggak bisa lihat daging empuk dikit.” protesku sembari membantunya menegakkan tubuh. Dia menumpu bobot badannya dengan kedua tangan.

__ADS_1


“Mulai belajar mesra-mesraan kamu sama aku, jangan sampai kalah sama bocah bau kencur jaman now yang udah pinter mesra-mesraan sebelum halal!” ucapnya mengingatkan.


Aku menangkup rahangnya dengan kedua tangan. Aku membasahi bibirku dengan ganas sembari mendekatkan wajahku ke bibirnya secara spontan.


Mas Dhika melebarkan mata. “Kamu serem, Sha. Jangan kesurupan.” katanya sembari berusaha memundurkan tubuhnya dengan ekspresi panik.


Aku menarik sudut bibirku sebelum melebarkan mulutku di depan mulut mas Dhika yang mengeluarkan suara huaaaaaaaaa penuh ketakutan.


“Ris..., jangan, Rish... Jangan.” ucapnya sembari menggelengkan kepala.


Aku melebarkan mulut semakin lebar sebelum menoleh dengan cepat, pintu kamar di ketuk dari luar.


“Risha... Dhika, kalian tidak apa-apa?” Itu mama. Aku menyingkir dari hadapan mas Dhika dan membuka pintu kamar.


Mama menatapku dan mas Dhika bergantian dengan raut wajah curiga.


“Kamu kenapa Dhika? Kenapa ketakutan begitu?”


”Aku trauma, Ma. Risha... jahat banget. Dia mau...”


“Jahat bagaimana? Risha maksa kamu? Risha nggak mau melayanimu? Bilang sama mama, Dhik. Biar mama nasihati Risha.”


Aku terbahak di belakang pintu saat mas Dhika mengadu ke mama aku ingin melahap bibirnya dengan ganas.


Mama mencubit pinggangku dengan raut wajah gemas. ”Bukan kayak gitu Risha, yang manis, mesra.” ucapnya mengingatkan.


Aku semakin terbahak sampai tungkai ini lemas. “Habis aku malu, Ma. Nggak bisa mesra-mesraan. Jadinya ya gitu.”


Mama geleng-geleng kepala seraya menatap mas Dhika sembari menghela napas. “Kamu ajarin Risha, Dhik. Pelan-pelan, tapi jangan maksa, kena sendiri kamu nanti!”


“Siap, Ma. Siap...”


Aku menutup pintu sambil melanjutkan tawaku yang belum reda.


“Kali ini kamu selamat mas! Lain kali tidak.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2