Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Jangan Sia-sia


__ADS_3

Bu Kartina bergegas menuju kamar ruang inap perawatan di lantai lima seolah mengajar waktu yang ia berikan untuk mas Dhika sementara aku berlambat-lambat di belakangnya.


Aku mengendurkan otot-otot yang kaku. Namun begitu lorong terakhir kami lewati pikiran ngeri itu meruncing lagi sehingga aku kembali kacau.


Aku menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang sulit aku kendalikan. Isi kepalaku terasa pusing dan aneh sampai tanganku berkeringat dingin.


Dengan angan-angan yang kubuat sendiri untuk menepis rasa khawatir ini aku berharap mas Dhika sedang tidur saja daripada menghadapi Bu Kartina.


“Benar ini ruangannya, Ris? Azalea kelas satu kamar A6.”


Aku menahan pergelangan tangan Bu Kartina saat ia hendak mencengkeram gagang pintu stainless itu. Aku menggeleng.


“Jangan sekarang, Bu.” kataku merayu. “Tunggu deg-degan ini berkurang.”


Bu Kartina menatapku sambil bertanya lewat sorot matanya. Aku menyentuh kupingku sambil menggerakkan daguku ke arah ruangan itu. Ada suara tangisan.


Bu Kartina tampak menajamkan matanya sekaligus pendengarannya sebelum menyandarkan tubuh di dinding rumah sakit mengikutiku.


“Nangis Dhika, Ris...” bisiknya.


Aku mengangguk. Aku menduga banyak hal yang terjadi di dalam sana hingga tangisan yang tersedu-sedu terdengar begitu pilu. Kegelisahan dan rasa tidak terima akibat rasa duka dan kemalangan yang menimpa mas Dhika terlalu meletihkan kondisi mental dan fisiknya.


Aku mengepalkan tangan sembari menundukkan kepala.


Bisakah segala masalah ini dibebankan pada Bu Kartina saja sekarang? Yang terlihat tenang dan calon nenek yang sabar? Aku sudah dua kali melihatnya berduka dan menjalaninya secara bijak. Yang pertama saat ibunya meninggal, di susul anak terakhirnya yang gugur sebelum terlahirkan.


Sudah aku bayangkan otot-ototnya yang tegang seketat busur panah yang di tarik kuat-kuat lebih rileks menghadapi situasi di dalam.


“Aku nggak sanggup, Bu. Mas Dhika pasti malu dan tambah sedih kalau ketemu aku.”


“Bukan begitu, Sha. Yang terjadi biar terjadi, musibah ini menguji cintamu ke Dhika begitu sebaliknya. Atau kamu ilfill sama dia?” tukas Bu Kartina sambil menjureng menatapku.


Aku terperangah mendengar kata-katanya. Ilfill? Bukan... Bu Kartina, aku menggeleng. Ratusan purnama yang sudah terlewati dengan mas Dhika belum pernah aku mendengar ia menangis, dunianya runtuh dan tawanya hilang seolah seluruh manusia di bumi ini menghakiminya.


“Aku nggak mau dia terpuruk karena aku melihatnya begitu.”


“Omong kosong, Risha. Masuk ke dalam, ayo.”

__ADS_1


Keras kepala aku menggeleng, aku tidak berhasrat mengunjungi mas Dhika sekarang. Kesadarannya yang hidup kembali, menghidupkan kesadarannya yang lain. Kakinya hilang, nyalinya redup dan purnama tidak akan bersinar lagi.


Bu Kartina memupuk semangat untukku dengan memberikan senyuman hangat.


“Nanti nyusul, aku pasti bilang ada Risha di luar. Awas kabur.”


Aku membiarkan Bu Kartina mengetuk pintu sekejap lalu menunggu seseorang dari dalam mengiyakan sembari menarik gagang pintu.


Tante Dewita menyapa dengan pertanyaan, “Siapa ya?”


Bu Kartina mundur selangkah sembari menunjuk ke arahku sambil tersenyum. “Teman kerjanya Risha.”


“Walah... Dhika rewel, Risha. Dia nggak mau ketemu siapa-siapa apalagi kamu! Malu katanya, nangis dan marah terus setelah tahu kakinya hilang.” ucap Tante Dewita setelah menutup pintu dan mendekatiku.


“Tante sampai bingung harus gimana cara menenangkannya, terpaksa ini Tante mau minta perawatnya ngasih Dhika obat penenang.” keluh Tante Dewita yang tiba-tiba merosot ke bawah dengan punggung yang masih menempel di tembok.


Aku mengangguk sembari ikut merosot ke bawah dan bersila sementara Bu Kartina tetap masuk ke dalam. Mengagetkan mas Dhika yang langsung menyambutnya dengan geraman.


“Kamu masuk gih, Ris. Kasih Dhika pelukan sana.” ucap Bu Kartina yang keluar tiba-tiba, nampak dia hanya menaruh keranjang buah-buahan dan amplop berisi uang iuran solidaritas dari teman-teman kerjaku tanpa sempat berbincang-bincang dengan mas Dhika di dalam.


“Keluar, Risha. Nggak usah ke sini.” ucap mas Dhika dengan suara serak.


Aku berdiri seraya memakai hand sanitizer yang tersedia sembari mendekatinya.


Mas Dhika memalingkan wajah. Tangannya yang di pasangi infus mengepal.


Aku mengurai jemarinya dengan lembut dan konsisten sampai tangan itu terlihat tenang.


“Sebenarnya aku juga nggak mau ke sini mas, kamu pasti nggak mau lihat aku seperti sekarang. Tapi aku tetap ke sini habis kerja... Aku keren kan?”


Mas Dhika terdiam. Tampak ia semakin memalingkan wajahnya, menghindari tatapanku dan mataku.


Aku pindah ke arah pandang matanya sekarang. Mas Dhika memejamkan mata.


“Bisa-bisanya kamu sakit tapi masih gengsi lihat aku... Dih... Putus aja yuk kalau begini.”


Mas Dhika membuka matanya, kelopak matanya yang merah melototiku dengan muram. Dia menggeleng samar, suaranya lirih mengatakan jangan bahkan jakunnya terlihat menelan ludah.

__ADS_1


”Bukannya ini yang seharusnya mas? Kamu kasih pilihan ke aku?”


“Ris...” Mas Dhika berusaha menggapai tanganku. “Risha... jangan...”


Aku menurunkan tanganku yang kuangkat tadi seraya membiarkannya menggenggamnya. Hangat terasa di kedua telapak tangan kami.


“Jangan pergi, Sha...” Sorot matanya bersungguh-sungguh lalu berkaca-kaca. Dadanya mengembang lalu menghela napas.


Mas Dhika menarik tangannya dari genggamanku, lalu menutupi wajah dengan kedua tangan. Isak tangisnya perlahan terdengar, dadanya gemetar.


Aku merapikan rambutnya yang lepek sambil melamun. Betapa hancur mas Dhika sekarang dan berkeluh kesah bukanlah sifatnya.


“Udah jangan nangis terus, pembalap nggak ada yang cengeng.” selorohku menghiburnya.


Mas Dhika sesenggukan sambil menyingkirkan tangannya dari wajah. Dia menatapku lekat-lekat lalu sebelah tangannya yang bebas berusaha memeluk pinggangku.


Mas Dhika mengembuskan napas lelahnya. “Aku bisa bertahan kalau ada kamu, Sha.”


“Aku nggak akan ke mana-mana, dan aku nggak bisa meninggalkanmu sendirian.” kataku lembut sambil tersenyum sekenanya.


“Tapi kamu dari mana kemarin mas? Nggak mungkin kan kamu menjadikan seribu hal yang terjadi hari demi hari di antara kita sia-sia?”


Mas Dhika nampak memejamkan matanya sekilas sebelum mengerjap lambat-lambat dan kembali menatapku. Ia mengeratkan pelukannya dengan wajahnya yang semakin cemberut.


“Aku minta maaf.”


“Untuk?”


“Aku ikut drag race, taruhan. Tapi kayaknya ada yang sabotase mobilku karena sebelumnya kita nongkrong-nongkrong dulu sambil ngopi, Sha...”


Aku berusaha keras untuk bersikap sabar. Mendadak aku benci dengan pergaulannya dengan manusia-manusia negatif itu tetapi aku yakin jika benar ada yang sabotase mobil mas Dhika, akan ada balasan setimpal!


“Ya udahlah jangan nyerah.” kataku lemah. “Jangan nangis terus, nggak akan memperbaiki keadaan!”


Mas Dhika tidak berkomentar karena nampaknya kata-kataku betulan ia tanggapi dengan kenyataan sekarang. Menangis tidak akan memperbaiki keadaannya dan hanya membuatnya semakin menyedihkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2