Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Nyaris sandera


__ADS_3

“Gue nuntut Dipta 1M, Pa. Sekarang gue butuh pengacara buat menyelesaikan kasus kriminal ini!” ucap mas Dhika di ponsel.


“Gue lagi di rumahnya sekarang, udah sama polisi cyber sekalian.” imbuhnya sambil berkacak pinggang di bawah pohon palem.


“Atau papa ke sini dong, buruan, orang tua Dipta juga udah gue telepon! Gue mau masalah ini kelar secepatnya, gak tenang aku papa.” Dada mas Dhika mengembang sempurna sebelum helaan napas panjang terdengar.


“Mama juga boleh lah, tapi... ribet dia, Pa. Mulutnya bisa lentur ke mana aja, mending bawa kak Aga atau pakde!” ucap mas Dhika dengan nada mengingatkan. Mama pasti syok berat juga, Dipta yang selama ini boleh mampir dan menginap kapan saja dan sudah dianggap seperti anak sendiri tega melakukan hal keji itu.


“Oke-oke, pokoknya buruan datang. Kita tuntut kerugian besar ini!”


Aku menerima ponselku kemudian, aku berkesimpulan bahwa papa akan datang secepatnya dengan membawa bala bantuan.


Kendati itu sudah cukup membantu kami di sini, aku merasakan kesedihan lain, suatu rasa yang mengganjal dalam hati dan susah hilang. Dipta tidak mengelak tuduhan kami, dia bahkan akan mengembalikan si merah untuk menebus kesalahannya. Tadi, dengan suasana ketegangan hati dan kecaman bukti-bukti, mas Dhika menolaknya mentah-mentah. Sudah tidak ingin menjadi pembalap profesional lagi, bahkan dengan gamblang menyebutkan komponen mana saja yang perlu di repair dan di ganti untuk mencapai speed maksimal dengan tarikan enteng.


Dipta tertunduk diam, terlebih aku jadi ingat mas Andi, penolong mas Dhika yang tidak diketahui jejaknya, jadi semua ini sudah terencana. Dipta melakukan pembunuhan terencana!


Aku menghampirinya dengan menggebu-gebu sampai mas Dhika memanggil-manggil namaku agar kembali.


Aku murka, sebagai sahabat aku tidak mengetahui sahabatku dengan baik hingga dia sangat-sangat mencengangkan.


“Tega kamu, Dip! Tega.” kataku sambil menamparnya saat Dipta merespon kedatanganku dengan berdiri. “Aku pikir selama ini kita bisa solid menjaga pertemanan ini, tapi ambisimu ternyata bikin kamu berhati iblis!”


Dipta menentang tatapanku dan mengagetkan jantungku saat ia mencengkeram kedua bahuku tiba-tiba.


“Aku suka kamu lebih dulu sebelum Dhika datang dan bikin aku tidak ada kesempatan sama kamu! Aku begini karena kamu, Risha! Karena kamu!” ucapnya dengan sorot mata berapi-api.


“Aku meniru kesukaan Dhika untuk membuatmu juga suka sama aku, hah! Aku muak, Risha! Aku melakukan ini semua karena kamu, aku melakukan ini semua karena kalian nikah di atas penderitaanku menyukaimu Risha, sampai sejauh ini! Kamu tetap nggak lihat aku bahkan sedikit pun rasa sayangmu ngga ada!”


Tersulut emosi aku menepis kedua tangannya dari bahuku. “Kamu pinter tapi goblok, Dip. Kamu pinter tapi goblok! Harusnya kamu udah tau kenapa aku nggak perlu lihat kamu di hatiku, kamu ngerti gimana aku sama mas Dhika!” Aku menuding dadanya.

__ADS_1


“Harusnya kamu pakai hati kamu untuk bahagia dengan wanita lain. Bukan aku!” desisku mangkel.


“Udah, Sha. Udah.” timpal mas Dhika di belakangku sambil memegangi bahuku.


Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuh.


“Kamu pinter, Dip. Kamu bikin kami semua menderita karena cinta butamu itu. Selamat.” Aku bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca. “Selamat untuk hatimu yang keji itu, tapi aku harap, sangat berharap. Kamu bisa menemukan wanita yang bisa membahagiakan kamu di dunia ini meski itu bukan aku!”


Aku melengos pergi dan menghindari ketegangan dengan masuk ke mobilku bersamaan dengan pintu gerbang yang terbuka. Orang tua Dipta datang menggunakan mobil SUV hitam besar, mereka menengok ke arah mobilku dan mengetuk-ngetuk kacanya kemudian.


Aku mengusap air mataku dan mendorong pintu mobil. Tante Debby dan Om Bramantyo menatapku dengan ekspresi tidak percaya.


“Ada apa ini, Risha?” tanya Tante Debby was-was. Mereka orang sibuk ternama yang bekerja di firma hukum dan pemegang saham di beberapa hotel bintang lima di kota ini.


“Lebih baik Tante dan om masuk aja ke dalam rumah. Risha lagi nunggu mama, papa dan pengacara.”


Aku mengendikkan bahu, tapi seketika mata Tante Debby yang memakai eyeshadow warna kulit.


“Ini ada hubungannya dengan kasus kecelakaan Dhika?” tanyanya sambil mencengkeram bahu kiriku.


Aku mengangguk. “Dipta melakukan pembunuhan terencana dengan menggunakan alat peretas, can hacking tools yang dibeli di pasar gelap!”


“Dipta!” geram om Bramantyo. “Tutup pintunya! Jangan ada orang yang keluar-masuk di sini!” serunya pada pak satpam.


Aku yang panik mencegah pak satpam untuk tidak melakukan. Apa kami mau di sandera? Apa om Bramantyo mau menegakkan hukum di rumah ini sendiri. Untuk pertama kalinya aku mengucapkan kata-kata kotor.


“Jangan sandera kami, Om. Kami juga sudah membawa polisi!” ucapku menggebu-gebu sambil mengikutinya ke dalam rumah.


“Siapa yang mau menyandera kamu, Risha! Kami hanya mau berita ini tidak sampai keluar rumah.”

__ADS_1


Aku memutuskan keluar rumah, jika harus berduel dengan pak satpam aku mampu menjalaninya untuk membiarkan orangtuaku datang dan itu terjadi sepuluh menit setelah aku ngetime di pos satpam.


Aku menyahut kunci gembok pagar seraya mencelat langsung dari pos satpam. Tergesa-gesa aku di tengah suara pak satpam yang melarang membukanya.


“Itu orang tuaku! Dipta bisa di penjara karena terbukti melakukan kesalahan fatal!” jelasku dengan galak.


Papa, mama mertua dan pakde yang seorang pengacara turun dari mobil. Gegas aku mengajak mereka masuk ke dalam.


Orang tua Dipta, mas Dhika, Dipta dan dua polisi cyber langsung membuat lingkaran diskusi setelah mama mertuaku mengangkat tas jinjingnya dan memukuli punggung Dipta saking jengkelnya.


“Kamu nggak mikir apa risikonya! Tante sumpahin kamu menderita sendiri!”


Aku duduk di samping mas Dhika dan menggenggam tangannya yang dingin. Semua akan segera berakhir, batinku.


“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Tante Debby.


Tim cyber menjelaskan secara rinci sementara mas Dhika dan Dipta saling bertatapan dengan tajam. Papa pun langsung menimpali ganti rugi satu milyar rupiah untuk menutup kasus perkara tanpa merugikan pihak manapun.


Om Bramantyo meminta bukti-bukti akuratnya dengan membawa tim cyber ke ruang kerjanya dengan saksi papa dan pakde, pun Dipta dan mas Dhika. Butuh satu jam mempelajari kasus putranya sebelum mereka kembali ke taman.


Aku kembali menggenggam tangan mas Dhika, kepedihan ini membuatku tidak tenang dan dia tersenyum kecil. “Gue lapar.” bisiknya.


Om Bramantyo berdehem, menyita perhatian seluruh orang ke arahnya.


“Seluruh biaya rumah sakit akan saya ganti begitu pun dengan uang ganti rugi satu milyar. Tapi saya minta kasus ini dibungkus dan kalian berdua jangan tinggalkan Dipta!” ucapnya serius.


Aku dan mas Dhika kontan saling menatap, konfrontasi ini membuatku senang hidup dalam ketidaktahuan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2