Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Apes


__ADS_3

Lima hari setelah acara resepsi. Duniaku penuh perubahan yang signifikan. Kamar dan kupingku mulai berdamai dengan semua soundtrack film Fast and Furious dari season 1 - 10 yang di putar berulang kali oleh mas Dhika. Dentuman beat lagu yang kencang mengangkat semangat, juga mengacaukan konsentrasi pekerjaan yang mulai aku cicil dari rumah. Sementara perjuangan melalui masa orientasi pengantin baru membuatku gelisah setiap malam meski pada akhirnya aku berdamai dengan pelukan dan kecupannya.


Aku membuka lemari sambil mendengar mas Dhika menyanyikan lagu Wiz Khalifa feat Charlie Puth - See You Again tanpa beban. Sudah lima kali dia menyanyikan lagu itu dalam sehari ini untuk menemaninya mengejar cita-citanya yang harus putar kanan. Tidak lagi menggebu-gebu menjadi pembalap profesional yang semakin terkenal, ia ingin mencoba menjadi pebisnis bengkel dan otomotif sesuai kesukaan dan hobinya.


Kataku malam kemarin terserah kamu mas yang penting semangat. Aku nggak larang kamu kok, soalnya aku juga nggak bisa bantuin kamu.


Mas Dhika waktu itu cuma tertawa-tawa sambil menuding hidungku dan menariknya. ”Kamu bantu doa aja, sama bantu nyenengin aku, Sha. Aku jamin aku semangat 45 setiap hari.”


Dasar pria, sudah nikah maunya ngajak senang-senang terus padahal aku juga tahu bagi pria bercinta adalah rasa lapar yang harus dikenyangkan. Cuma harusnya ngerti dong bini masih malu-malu kucing begini setiap waktu senggang di desak


“Aku mau packing baju-bajuku mas, kita udah di usir mama dari rumah ini. Di suruh mandiri.”


“Siap... mau aku bantu?” tanya mas Dhika sambil hendak merangkak menuju arahku.


Aku menurunkan setumpuk pakaian kerja dari lemari ke karpet. “Gak usah, aku sekalian mau sortir yang sudah gak ke pakai.” ucapku sambil menurunkan tumpukan pakaian yang lain.


Mas Dhika mengamati bajuku yang tertumpuk di dekatnya dengan teliti lalu mengernyit kepadaku saat duduk di hadapannya.


“Kenapa mas?" tanyaku sambil menarik bajuku paling dekat dan menjerengnya.


“Ada bagusnya kamu ngurus bajumu sendiri, Sha. Banyak banyak, pusing gue. Baju segini banyak buat apaan?”


“Buat di pakailah, masa di tonton doang.”


Mas Dhika menyentuh bajuku sembari menggelengkan kepala. ”Lemari di rumah baru langsung penuh sama bajumu, Sha-Sha. Kasian baju-bajuku nanti.”


“Halah mas-mas, nanti Risha bawa lemari itu. Nggak usah khawatir!” Aku melipat bajuku dan memasukannya ke keranjang. Baju lama, longgar di bagian kerahnya bahkan bolong di bagian ketiaknya. Aku menyortirnya terus sampai selesai sampai mas Dhika ketiduran di atas karpet.


Aku tersenyum sambil mengangkat keranjang keluar kamar. Mama masih ngopi di ruang keluarga sambil nonton film.


“Mau di laundry, Sha?”


“Gaklah, mama kasih aja ke Mbak Martini baju-baju Risha yang lama.”


Mama menengok ke belakangku. “Yakin kamu besok sudah pindah rumah?” tanya mama dengan muka khawatir.


“Yakinlah, aku sama mas Dhika butuh kebebasan!”


“Terus Dhika mana? Nggak cari makan dia?”


Aku menatap jam dinding yang terpasang di atas televisi. Pukul sepuluh lima belas. Jam-jam segini biasanya dia suka keliling dapur untuk membuat mie atau ngopi.


“Udah tidur dia, Ma. Capek mikir usaha sampingan.”


Aku mengambil bungkusan keripik singkong di tangan mama. “Risha bawa ke kamar ya.”

__ADS_1


Mama mendesis seraya menyambar kripiknya lagi. “Duduk dulu sini, temenin mama bentar.”


“Nggak deh, Ma. Banyak yang mau aku beresin di kamar.”


“Ris... Plis... Besok-besok udah nggak bisa gini kita.” Mama menepuk sofa kosong di sebelahnya. “Terakhir anak mama.”


Aku angkat tangan seraya menurutinya daripada ke mana-mana nanti mulut mama. Dan mama tersenyum setelah aku menyambar keripik singkongnya di bawah cahaya lampu yang remang-remang.


“Udah sampai sejauh apa kamu sama Dhika, Sha?” tanya mama penasaran, bahkan ia sudah tidak tertarik lagi dengan film Hollywood yang berputar di televisi.


Aku mengunyah keripik singkong dengan mangkel sampai mengeluarkan bunyi kress-kress-kress dengan cepat.


“Sampai mana Sha, mama pingin tahu.” desak mama tanpa malu.


Aku mencondongkan tubuh sambil menatap sekeliling dengan serius dan was-was agar sensasi mengerjai mama sampai ke ulu hatinya.


“Sampai mana, Sha?” tanya mama pelan di cuping telingaku.


Aku menyunggingkan senyum seraya berbisik dengan lirih.


“Sampai Jogja Semarang, Ma!” kataku sambil mencelat pergi saat mama menjerit tak terima.


Mama memanggil-manggilku sambil mengacungkan kepalan tangannya.


“Awas kamu, Risha!”


“Lima hari cuma di rumah kok ditanyain sampai mana, memangnya aku sama mas Dhika ke mana! Hihi...” Aku meraih bad cover seraya menutupi badan mas Dhika seraya menghela napas.


Sudah lama dia tidak memakai celana pendek padahal dulu ia slalu memamerkan betisnya yang kekar. Mas Dhika slalu menyembunyikan kakinya yang menggantung di balik celana panjang olahraga.


Tanpa malu, aku menunduk ke wajahnya lebih dekat. Aku yakin aku adalah pusat dunianya sekarang, satu-satunya yang dipikirkannya bahkan ketika ia tidak menyentuhku. Tetapi kami tidak bisa memiliki hubungan fisik yang panas seperti demam 40%, hubungan fisik kami masih terasa canggung dan penuh logika.


Tanganku terulur, menyentuh pipi lalu hidungnya dengan leluasa sambil berusaha menenangkan jantungku yang berdebar keras. Penyatuan hati dan napas dan dorongan untuk mencium bibirnya membuatku mulai goyah. Bibirku mendekat dengan lembut. Dengan damba yang murni tanpa paska. Aku tidak merasa bersalah ketika lidahku meninggalkan jejak yang lezat di bibirnya yang maskulin dan beraroma unik.


“Risha...” Matanya yang setengah tertutup menatapku dengan tajam. “Elo lebih suka diam-diam begini?” katanya serak sembari menyusurkan jemarinya di rambutku.


Aku menarik wajahku sambil menabok bahunya. “Kamu kan tidur, ngapain bangun!” kataku malu lalu berbalik.


Mas Dhika membelai tulang belakangku. “Gue suka mulutmu.”


Aku memejamkan mata dan mengerang kesal, aku ketahuan, perutku menegang, cuaca pun mendadak terasa panas. Aku mengikat rambutku membentuk ekor kuda.


“Ini bukan tanda-tanda penyerahan diri lebih luwes mas, aku cuma...”


Mas Dhika mendesah dramatis. ”Diam-diam menghanyutkan kamu, Sha!”

__ADS_1


Aku harus menelan ludah dengan susah payah dan bertanya.


“Bisa nggak mas nggak usah meledekku?”


“Aku nggak tahan lihat wajahmu sekarang, Sha. Merah banget pasti.” godanya sambil menggerakkan ujung jemarinya di punggungku membentuk lingkaran sebelum ia menarik karet beha-ku.


Aku menabok pahanya dengan mangkel. “Udah deh mas, aku itu cuma kasian sama kamu. Bukan maksud apa-apa, makanya aku kasih hadiah diam-diam!”


“Oh gitu.” ucapnya dengan nada yang lebih pelan.


Aku mendengus. Berasa salah lagi. Dan demi memperbaiki situasi yang memalukan ini tanganku terjulur untuk meraih tangannya perlahan-lahan.


“Kenapa, Sha?” tanyanya malas. “Kamu udah ganggu tidurku sekarang mau apa lagi?”


“Gak gitu mas, jangan tersinggung.”


“Jawab aja kalo gitu.”


Aku memainkan cincin pernikahan kami di jemarinya. Masak iya aku ngaku mulai tergoda. Bakal berapa Minggu mas Dhika menjadikan itu bahan ejekan?


“Aku sayang kamu mas, aku cuma lagi berusaha menjadi istri yang bisa di ajak seneng-seneng.”


“Kalo ngomong lihat gue dong, kayak gitu ngomong sama siapa kamu? Demit?”


Ya ampun, Dhika Wahyudin!


Aku mengeratkan genggaman tangan ini seraya menoleh.


”Aku malu mas, sumpah. Udah dong... Jangan bikin Risha trauma cium kamu diam-diam.” keluhku seraya cemberut.


“Ntar nggak bisa kayak gitu lagi lho kalau kamu gituin aku!”


Mas Dhika menatapku seraya tersenyum geli. Mudah-mudahan pikirannya yang sudah tidak jernih lagi tak meminta lebih. Dadanya mengembang lalu mengempis. Mas Dhika menghela napas. “Ya udah deh, malam ini aku ngalah.”


“Ayo aku bantu pindah ke kasur terus tidur lagi. Aku capek.”


Mas Dhika menyingkirkan bed cover dari tubuhnya seraya duduk sendiri tanpa bantuanku.


“Udah susah tidur lagi, Sha. Kamu aja.”


Aku mengangguk dan tanpa pikir panjang lagi, tanganku meraih bed cover seraya menggunakan itu untuk menutupi seluruh tubuhku di kasur.


Aku mengigit bibir bawahku kuat-kuat sambil mengepalkan tangan.


“Apes banget sih, lagi belajar juga. Ketauan.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2