
Sambil melihat bapak-bapak mengayuh sepedanya di pinggir jalan raya saat mobil hitam mengilap yang di kemudikan pakde, aku harus mengakui keberanian mas Dhika tetap melaksanakan pesta pernikahan kami dengan rileks. Ia tahu waktu akan terus berjalan dan pesta ini akan terkenang selamanya tapi bagiku perasaan bahagia di dalam hati ini berbaur dengan sensasi gelisah.
Aku menoleh kepadanya yang menggenggam tanganku sepanjang perjalanan menuju tempat resepsi.
“Napa, Ris? Jantungmu mau copot?” tanyanya iseng.
“Kalo capek bilang, jangan maksa sampai acara selesai.” kataku lembut tapi gengsi.
Perhatian dengan pria ini sekarang membuatku terlihat begitu tergila-gila padanya sementara dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apapun. Ampun lah, kayak aku yang begitu berharap padanya padahal aku hanya tidak ingin berbeda.
Mas Dhika tersenyum. “Intinya kamu ini sangat-sangat cemas aku kenapa-kenapa, Ris?”
“Aku tahu suasana pasti ramai.” sahutku. ”Kamu bakal pegel.”
Mas Dhika mengelus kakinya yang buntung. “Aku bisa kamu andalkan, Risha. Jangan over thinking lah, sudah cantik lho. Masa cemberut gitu. Rugi make up mahal-mahal.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat. Dan sekarang mobil ini perlahan-lahan berhenti di depan belakang antrean mobil di depan lobi lalu pintunya dibuka oleh mama. Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan rasa gugup seraya keluar mobil lalu merapikan gaun pengantin putih favoritku.
Mama mengulurkan tangan, membantu mas Dhika keluar mobil sebelum ia duduk di kursi roda yang telah di siapkan pihak wo.
Mas Dhika menjalin jemari kami berdua saat lampu kamera yang menyilaukan menyala. Para wartawan memanggil-manggil mas Dhika sampai akhirnya seorang laki-laki yang bertugas mengatur acara resepsi kamu mengarahkan mereka ke area pers.
“Berasa jadi artis aku, Sha. Padahal baru menang balapan di tingkat kabupaten.”
Aku mencebikkan bibir, sementara om Ray mendorong kursi roda mas Dhika untuk melakukan sesi wawancara yang berkaitan dengan profesinya sebagai pembalap yang tengah berada di ujung tanduk.
“Hello, what's up bro?” sapa Mas Dhika dengan ramah. Pria itu memakai setelan jas biru tua dengan potongan yang elok di lihat dan kemeja krem, rambutnya di sisir ke belakang. Dengan wajahnya yang kecoklatan dan badan yang terlatih melakukan gym ia terlihat begitu keren. Perutku menegang, belum pernah aku melihatnya setampan ini.
”Bagaimana kabarnya, Bung?” seru salah satu wartawan lokal yang bekerja di perusahaan koran atau media otomotif. Aku tidak mengetahui pasti, tapi hanya dua kategori itu yang sering mengerubungi mas Dhika untuk wawancara.
“Bahagia dong, puas, karena satu-satunya hari di mana laki-laki merasakan kemenangan yang sesungguhnya adalah di hari pernikahan. Apalagi nikahnya sama cewek sebaik istri gue ini, Risha. Bidadari surgaku.” Mas Dhika menatapku dengan mata yang berbinar-binar. Sudut bibirnya membentuk senyum bahagia.
Aku senyum menyeringai padanya. Gak usah ngadi-ngadi deh mas... Nanti banyak yang penasaran sama aku repot kamu.
“Lalu bagaimana tanggapan Mbak Risha mengenai keadaan Dhika Wahyudin sekarang? Apa Mbak Risha nggak kepikiran untuk berpaling gitu?” seru wartawan lainnya.
Lenganku melingkari pundak mas Dhika. “Berpaling itu mudah, mencintai laki-laki lain yang susah. Jadi sudah tau tanggapan saya mengenai keadaan mas Dhika sekarang, not bad, hanya butuh kesabaran ekstra.”
__ADS_1
Aku melempar senyum pada semua kamera yang menyorot kami dengan tatapan tajam agar semua tahu aku tidak ingin lagi pertanyaan itu datang lagi dan menggoyahkan iman yang terbangun
“Lalu apakah mas Dhika tetap mengikuti lomba dalam waktu dekat ini? Atau memilih , menjadi pembalap?”
“Tidak berhenti hanya istirahat!” kata mas Dhika dengan intonasi yang berubah. Ia menyunggingkan senyum tidak semangat, ekspresi juga berubah.
Aku mengisyaratkan sesuatu yang tak terucap pada tatapan om Ray. Untuk sepersekian detik mertuaku bertanya-tanya sambil menghentakkan dagunya dan melebarkan mata sebelum memegang kendali acara konferensi pers dengan menerima semua pertanyaan dan berjanji akan menjawabnya setelah acara resepsi selesai.
Para wartawan membiarkan kami meninggalkan area pers dengan tenang dan om Ray yang penasaran langsung mencecar mas Dhika dengan pertanyaan yang diajukan wartawan tadi.
“Aku jelas nggak mungkin ikut acara balapan besok, Pa. Kualifikasinya jelas nggak memperbolehkan orang cacat kecuali ada sponsor yang masih percaya sama kemampuanku!” ucap mas Dhika emosional dengan kedua tangan yang mengepal di pangkuan.
“Papa ngerti, Dhika. Santai... Cuma apa iya nggak ada sama sekali trauma ikut balapan lagi kamu?”
”Bahkan kalau sampai ada balapan drag race khusus orang cacat pun aku sanggupi, Pa. Yang penting aku jadi juara.”
Aku tertawa dalam hati saat om Ray menjitak kepalanya dengan ekspresi mangkel sampai semua orang yang melihat dan mendengarnya ingin sekali ikut campur. Membuat mas Dhika menutupi kepalanya sambil mengomel kotor.
“Rambutku jadi jelek lho, Pa. Sisir mana sisir.” ucapnya sambil melambaikan tangan kepada tim perias yang mengikuti kami ke mana saja.
Om Ray mengacak-acak rambut mas Dhika seraya menatapku dengan napas yang memburu.
Mas Dhika mengulurkan sisir kecil yang di ulurkan tim perias kepadaku.
“Sebelum ngurus yang lain, rambutku dulu di sayang-sayang, Sha.” katanya sampai membuat orang-orang di sekeliling kami jengah.
Aku menghela napas dan menurutinya, setelah dia tampan kembali kami mulai menuju tempat stand by. Aku bergeming di belakang mas Dhika sambil mendengar sesi acara di dalam gedung lewat handy talky anggota wedding organizer.
Mas Dhika mengetuk-ngetuk sandaran tangan seraya menoleh.
“Ntar kita langsung menetap di rumah kita, Sha?”
Aku memijat kedua bahunya, “Kakiku pegel pakai heels.” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Aku pijet nanti, gantian.” Mas Dhika menoleh lagi. “Kita mau di mana malam nanti?”
“Di kamarku mas.”
__ADS_1
“Kamarku aja, Sha. Biar aku lebih leluasa garap kamu.”
Dalam hatiku muncul perasaan yang mustahil. Perasaan yang seharusnya tidak usah di pikirkan karena sudah jelas sedari tadi nongkrong di kepala.
Aku tidak menyampaikan jawabanku karena pengurus acara resepsi menghampiri kami untuk bersiap-siap ke dalam gedung resepsi yang mengusung konsep dekorasi pelaminan Rustic modern yang menggunakan unsur kayu, lampu pijar, jerami dan bunga-bunga segar berwarna pastel serta hiasan simple hingga menghadirkan pelaminan yang berkesan hangat dan sederhana.
Dengan senyum bahagia aku mendorong kursi roda mas Dhika melewati tamu undangan yang berjejer rapi di samping kanan-kiri karpet merah sambil memegangi ponsel.
Mas Dhika mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dia mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka sambil sekali dua kali menerima amplop dari para keluarga dekat sebab resepsi ini sekaligus menjadi silaturahmi tamu dua keluarga untuk meringkas waktu.
Sebelum menapaki anak tangga menuju pelaminan, jantungku berdetak kencang. Setelah acara ini selesai, tibalah aku di kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Sebuah fakta yang disembunyikan khayalak ramai jika pernikahan itu cintanya 15%, selebihnya komedi-komedi tragis yang hampir setiap hari mengisi waktu dan kebersamaan.
Apa aku siap menghadapi ini sepenuhnya hanya dengan mas Dhika yang jalan saja perlu kubantu seperti sekarang?
Kami duduk di bangku pelaminan, menikmati setiap sesi acara sambil tersenyum bahagia dan memeriahkan acara selayaknya seorang pengantin yang menyambut suka cita ini dengan bebas seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lepas sepatumu, Sha. Capek nanti sebelum berjuang.” kata mas Dhika sambil berjongkok tiba-tiba di depanku.
Orang-orang yang sudah sibuk menyantap hidangan tampak tak begitu peduli dengan kelakuannya.
“Bangun deh mas, nggak usah drama.” kataku sambil menepuk bahunya sementara ia mengangkat gaunku yang menutupi kaki.
“Malu mas, di kira mau apa nanti.” kataku sembari berusaha menariknya ke atas dengan mata yang melihat sekeliling sambil tersenyum geli.
“Cepet deh mas buruan berdiri, bukan acara pangeran cari Cinderella ini. Gak usah pakai acara copot-copot sepatu segala.” Aku menarik gaunku ke atas dan melepas sepatu heels ku dengan cepat.
Mas Dhika meraba kursi seraya berusaha memindahkan tubuhnya ke sana tanpa bantuanku.
“Pengen gue cepet-cepet punya kaki palsu biar gak nyusahin kamu, Sha. Aku takut kamu kekar!”
“Bagus kan, biar sekalinya kamu macem-macem langsung aku ajak duel.” kataku sambil meraih buah-buahan yang dilumuri coklat di meja.
Mas Dhika mengambil buah-buahan dari piringku seraya menatapku tajam.
“Gimana kalau keadaan itu yang kebalik, Sha?"
”Maksudnya aku macam-macam gitu?” tanyaku sedikit sensi.
__ADS_1
“Iyalah, masa mama yang macam-macam. Bodo amat gue kalau itu.” ucapnya seraya melahap stoberi. Aku pun sama dan kepikiran, gimana kalau aku yang macam-macam dan penuh godaan?
...----------------...