Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Huaaa... Mas Dhika jahat.


__ADS_3

Aku menyendok bongkahan bakso dan mengunyahnya selagi mas Dhika ngobrol-ngobrol soal balapan dengan anak kampung sini yang suka trek-trekan liar di depan bengkel malam hari. Keberadaan mas Dhika yang sudah terkenal sebagai mekanik motor dan mobil balap difabel yang mempuni membuatku cemas. Keterkenalan membuat privasi dan jam terbangnya makin sibuk dan tinggi. Aku cemas jika nanti orang-orang lama di dunia balapan kembali menemukannya dan prahara terjadi lagi. Keberadaan Dipta diam-diam masih menghantui kami.


“Jadi ceritanya motor di dalam bengkel mau elu gunain buat lomba balapan? Kapan?” tanya mas Dhika. Aku memasang kuping baik-baik dengan mata menyipit.


“Jangan ngomong bahasa Sunda, gue gak tau artinya.” sergah mas Dhika saat Asep membuka mulut.


Asep namanya meringis. “Iya kang di sirkuit Sentul. Kira-kira motornya sudah jos belum ini? Terus apa mas Dhika bisa jadi tim mekanik besok?”


Dalam hati aku menggeleng kuat-kuat. Tidak bisa di biarkan, janganlah sampai ke sirkuit Sentul walau dari sini lebih dekat daripada Jogja dulu!


Mas Dhika mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mempertimbangkan sesuatu dalam dirinya sendiri. ”Tinggal cek akhir kendaraan, ganti ban...” Mas Dhika menoleh ke arahku waktu aku menggigit bakso.


“Boleh aku jadi tim mekanik pribadi Asep, Sha?” tanyanya lembut.


“Asep berani bayar berapa?”


Asep kontan cengar-cengir lalu menggelengkan kepala. “Belum tau, Teh. Tapi kalo menang bonusnya bengkel ini jadi terkenal. Banyak pelanggan.”


“Aduh, Asep. Kami lari ke sini karena takut terkenal, takut ads orang yang sirik dan iri. Kami takut kenapa-kenapa lagi. Tapi kalo bantuin aja boleh. Terserah kalian mau gimana!”


“Cari enaknya aja, Teh. Coba dulu aja buat jaga-jaga aja karena motor ini full reparasi di sini.” ujar Asep dengan sopan.

__ADS_1


Aku mengangguk. Mas Dhika menyunggingkan senyum lega. “Makasih, Sha. Siapa tau ya kan dari bengkel gue justru melahirkan pembalap-pembalap bagus penerus bangsa. Cuma gue emang setuju Sep, bengkel boleh terkenal tapi gue-nya jangan.”


“Setuju, nanti Asep bisa atur tapi doakan saya teh menang lumayan nanti bisa kasih uang jasa ke mas Dhika.”


Aku dan mas Dhika tergelak sambil bertatapan, candaanku di sangka serius. Apa semua orang niat akan menganggap segala bentuk kesempatan dan timbal balik akan menjadi batu loncatan?


“Gak perlu, Sep. Gue mah seneng-seneng aja, cuma emang apa yang di bilang Risha bener, gue suka bengkel gini-gini aja, lebih tenang dan santai, tapi kalo ada rezeki besar mah ayo-ayo aja, pasti ada cara lain untuk menyiasati.”


Asep tergelak seraya menganggukkan kepala. Mereka berdua kontan pergi ke bengkel, mas Dhika menjelaskan tentang komponen utama mesin balap garapannya sampai ke bagian paling kecil, tutup ban. Seminggu kemudian, mas Dhika bergabung dengan tim Asep yang ternyata cukup terkenal sebagai pembalap asal Bandung di sirkuit Sentul dengan memakai masker dan topi hitam. Kami duduk di ruang tunggu para mekanik sambil harap-harap cemas.


“Balap mobil sama balap motor jelas beda mas. Nggak akan ada orang lama di sini kecuali pegawai sirkuit.” ucapku sambil menyentuh kakinya yang terus bergerak-gerak gelisah. ”Nggak usah khawatir.”


Waduh.


Aku memakai teropong jarak jauh untuk memusatkan perhatianku pada Asep, pemuda yang saban harinya datang ke bengkel, numpang makan, numpang mandi, kadang numpang tidur untuk hanya bertanya-tanya sepak terjang mas Dhika yang gantung stir lebih cepat. Mungkin beberapa ilmu dia dapatkan darinya, mungkin juga Asep memang mental juara demi membuktikan bahwa dia mampu untuk menepis anggapan bahwa apa yang dia sukai tidak hanya perkara kebut-kebutan dan di pandang sebelah mata.


“Lap akhir, mas. Weh-weh, nomer dua.” seruku antusias. Pertandingan semakin gesit dan sengit, Asep nampak berhati-hati saat mencari celah untuk menyalip saingannya. Mas Dhika berdiri, “Ayo, Sep. Kebut, Sep. Bikin gue bangga. Bikin cita-cita gue elu wujudkan!” ucap mas Dhika penuh harap.


Asep meliukkan motornya saat berkelok dan saat motornya sudah stabil dengan keberanian yang percaya diri, dia menggeber motornya seraya menyalip saingannya.


Bendera garis finis berkibar setelah Asep melewatinya. Mas Dhika berseru kegirangan lalu memelukku.

__ADS_1


“Ada jasa gue di motor itu, ada gue di kemenangannya. Anjir gue seneng banget, Sha. Gue menang tanpa bertanding.”


Aku mengelus perutku, semoga aman di dalam sana, semoga anak manis di perutku ketika sudah besar nanti tidak menolak jika ayahnya slalu mengajaknya lihat balapan. Semoga anakku paham bapaknya slalu bau oli dan belepotan gemuk, tetapi yang lebih gilanya lagi bapaknya sangat optimis dan ambisius dan akan slalu menyayangi anaknya dengan gemas-gemes jengkel seperti menyayangiku.


Lima belas menit kemudian, kami menonton Asep naik podium. Dia menceritakan keberhasilannya ada campuran tangan seseorang yang sudah lama menantikan podium itu menjadi hari terbaiknya di sirkuit Sentul. Asep tidak menyebutkan nama mas Dhika, tetapi bengkel langganannya Asep sebutkan sebagai bentuk terima kasih. Jadilah hari-hari berikutnya mas Dhika yang menyamar sebagai mekanik motor biasa, kucel dan tidak memiliki pesona juara kewalahan dengan kedatangan pemuda-pemuda yang hendak memodifikasi motor dan kehamilanku semakin besar, rewel lagi. Aku merindukan mas Dhika seolah aku sudah lama di tinggal pergi olehnya padahal mas Dhika hanya berlama-lama di bengkel.


“Pokoknya Minggu depan kita honeymoon ke Cannes, Mas!” ucapku dengan nada merajuk.


Mas Dhika yang mengotak-atik mesin berdehem. “Aku usahakan selusin motor lagi selesai, Sha!”


“Selusin?” seruku takjub.


Mas Dhika mengusap pipinya dengan lengan atas. “Iya, sabar deh.”


Aku menguncupkan bibir seraya menggeleng. “Selusin motor kapan selesainya, kehamilan Risha keburu besar mas. Risha nangis nih.”


“Mau nangis ya nangis aja, Sha. Boleh kok.”


“Hua... Mas Dhika jahat... Mas Dhika nggak sayang lagi sama Risha, Mas Dhika lebih penting sama bengkel dan selusin motor.” seruku lalu menangis di tengah ramainya pengunjung bengkel dan montir.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2