
Usai menyelesaikan makan siang bersama di Bale Raos yang masih terletak di tanah Keraton Yogyakarta sebagai pelengkap acara akad hari ini, aku dan mas Dhika pulang ke rumahku sebelum melakukan acara resepsi nanti malam.
Aku keluar dari mobil seraya membuka pintu pintu penumpang, mas Dhika keluar sembari tersenyum lebar.
“Gila... Aku bakal tiduran di kamar cewek paling galak di kelas. Kok bisa ya aku cinta mati sama kamu, Sha?”
“Mana aku tau!” Tanganku mendorong pintu mobil. Sebagai sopir yang mengendalikan mobil balapnya dengan baju pengantin aku rasa cukup pengalaman memakai baju ini.
“Masuk. Istirahat. Malas aku ntar pada di ledekin.”
Aku merangkulkan tangan mas Dhika ke pundakku agar memudahkannya berjalan sementara tidak lucu jika ia memakai tongkat penyangga jalan setelah nikah. Romantis sedikit perlu kali ya?
“Mau ganti baju langsung apa nanti mas?” tanyaku sambil meraih kunci di lubang ventilasi.
Mas Dhika mengembungkan pipi sembari menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
“Sekarang ajalah, di kamar. Jangan di sini, malu aku Risha di lihatin kucing sama ayam tetanggamu.” kata mas Dhika ngawur.
Aku mendorong kedua pintu rumah bercat hijau tua, tidak ada apa pun di rumah kecuali kehampaan.
“Bentar.” Aku membawa langkahku kembali ke pelataran rumah untuk mengambil tas keril mas Dhika yang tertinggal di mobil. Ia tersenyum kala aku mendatanginya sambil menggendong tas yang biasa kami gunakan untuk traveling.
“Gila, makin cantik banget kamu, Sha. Udah pakai baju pengantin, bawanya keril.” Mas Dhika merogoh kantong jas putihnya seraya memfoto ku yang sedang berwajah datar sambil berkacak pinggang.
“Udah gue simpen, cie... manis banget ah, jadi pingin gue sayang.” Mas Dhika merenggangkan tangannya. Merangkul pundakku. Kami berjalan menuju kamarku dengan hati-hati, hal seperti ini sudah aku pikirkan. Mengimbangi cara jalannya membuatku harus banyak bersabar sementara mas Dhika kadang menontonku dengan sorot matanya yang sendu meski senyumnya terlihat geli.
“Nggak usaha mikir macem-macem, waktunya kamu istirahat.” ucapku sambil menurunkan gagang pintu kamar.
“Ya kali langsung istirahat, Ris.” Mas Dhika mengerucut bibirnya.
“Idih nyebelin kamu, ntar sakit kakinya nangis diem-diem.” ledekku seraya meringis karena dia tiba-tiba tambah cemberut.
“Bercanda mas, maaf deh... ntar aku temani nangis deh. Kita bareng-bareng nangis.” rayuku sembari menurunkan tas keril ke lantai lalu mengajaknya ke kasur.
__ADS_1
Mas Dhika duduk di tepinya dengan mata yang berkeliaran menatap kamarku yang baru pertama kali dia lihat.
“Kenapa?” tanyaku sambil melepas sepatu pantofel dan kaus kakinya.
“Nyaman banget kamarmu. Mana foto jaman SMA di pajang lagi. Nggak malu kamu?”
“Nggak lah, itu akan mengingatkan aku kalo kamu sering menindasku dulu dengan cintamu.”
“Njir masih di ingat aja. Bakal balas dendam kayaknya sekarang kamu, Sha.” tukasnya seraya melepas pecinya.
“Jelas dong, gila apa aku nggak balas dendam kelakuanmu dulu.” dustaku sembari melepas perhiasan yang aku pakai sekaligus mahkota pengantin yang membuatku geli.
“Buka kerudungmu.” kata mas Dhika sambil melepas jasnya sendiri.
“Mau lihat-lihat ya, ah jangan sayang, aduh. Aku malu.” kataku setengah manja.
“Dari SMA lho Ris aku nggak pernah lihat rambut kamu. Ayo deh, lihat rambut doang.” rayunya setengah maksa.
“Aku juga sumpek kali pakai kerudung dobel-dobel begini. Aku buka ya.” kataku sembari duduk di sampingnya.
Mas Dhika mengigit bahuku dengan lembut, “Gemes... Makasih lho Sha kamu tidak pergi dariku.”
“Iya. Jangan lupa ya kerja, aku udah butuh kamu nafkahi.”
“Ampun... Baru mau menikmati kemesraan setelah halal udah di tagih nafkah. Hei... Sha.” Mas Dhika meraih daguku seraya menolehkan kepalaku ke arahnya.
Aku memutar bola mata sementara mas Dhika tersenyum geli sembari mengedip-edipkan mata.
“Nafkah batin dulu mau nggak?”
“Katanya malu!”
Mas Dhika meringis sembari melepas kemeja putihnya. “Dikit saja.” imbuhnya dengan nada rayu.
__ADS_1
Aku melepas peniti demi peniti dan jarum pentul seraya menaruh ke telapak tangannya sebelum melepas pashmina.
“Kalo nakal kamu kecubles.”
“Harusnya kamu!” seru mas Dhika yang kubalas juluran lidah.
Aku melepas ciput dan mengibaskan rambutku yang hitam legam dan panjang sebahu. Aku menghela napas lega sembari mendongakkan kepala dan mengibaskan rambut.
“Bagus kan rambutku?” kataku sambil meliriknya.
Mas Dhika menghidu aroma rambutku dalam-dalam seraya merebahkan tubuhku dengan hati-hati.
“Daritadi gini kek, pegel punggung gue.”
Aku terbahak kala ia juga merebahkan tubuh seraya merenggangkan tubuhnya.
“Daripada kecewa mending kita tidur aja.” pungkas mas Dhika saat aku menguap lebar-lebar sambil berkeluh kesah tidak bisa tidur dari semalam.
“Tapi kamu harus Jum'atan nanti mas?”
“Aku imami kamu salat dhuhur.” ucapnya sembari memainkan ujung rambutku.
“Untung banget kita bisa jaga diri sampai akad, Sha. Kamu cantik banget.” Mas Dhika menyandarkan kepalanya di bahuku dengan sebelah tangan yang hendak memelukku.
Kaku rasanya tubuhku sekarang saat mengusap pinggangku dan mencubitnya.
“Kek kayu kamu, Sha. Tegang banget.” Mas Dhika terbahak lalu menduselkan kepalanya di rambutku.
“Santai aja deh ya. Kita pacaran dulu tapi yang agak nakal.”
Aku memejamkan mata sebelum mengembuskan napas. Tetap saja walaupun minta santai, aku tetap deg-degan banget. Parah rasanya jantungku sekarang. Rasanya aku ingin sekali menyingkirkan kepala dan tangannya. Geli.
...----------------...
__ADS_1