Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Rese


__ADS_3

“Udah, Sha. Udah nangisnya, gue malu di lihat banyak pelanggan. Ntar pada kasian sama gue punya istri cengeng dan nggak pengertian kayak elu.”


“Biar, biarin aja pada tau kalo mas Dhika nyebelin, mas Dhika nggak sayang sama Risha. Mas cuma mau betulin motor tapi nggak mau betulin perasaan Risha!”


“Elu kira gue mekanik perasaan!” Mas Dhika mengambil ujung kerudungku seraya mengusapkan dengan cepat di wajahku. Otomatis bau oli dan gemuk yang menempel di jemarinya menyebar di wajahku. Aku mual.


“Udah nangisnya ibu hamil, sudah. Mending marah aja lah, gue udah biasa. Kalo nangis gini aduh... Risha, perasaan ikut kacau. Cup... Cup... Cup... Udah ya Risha sayang, mas Dhika kerja dulu ya, cari modal buat ke Cannes. Serius!” Mas Dhika menganggukkan kepala, membujukku dengan kata-katanya yang lembut sambil membelai pipiku dengan jarinya. Perutku menegang.


“Uang tabungan kita udah buat modal, kamu sabar ya, janji aku percepat urusan bengkel. Ya kan bos?” tanya mas Dhika sambil menoleh kepada montir-montir yang sedang membongkar mesin motor.


Aku yang sudah tidak kuat dengan bau oli dan gemuk yang sangat menyengat di hidungku melengos sambil mengembungkan kedua pipi.


“Sha, plis, jangan manja gini dong.” seru mas Dhika saat mengikutiku.


Di bawah asbes gelombang yang menjadi peneduh tempat mobil-mobil yang hendak di servis, aku membungkukkan seraya mengeluarkan isi perutku di tanah.


“Oalah mau muntah-muntah, gue pikir kamu marah.” ucap mas Dhika sambil menepuk-nepuk punggungku.


Aku mengelap mulutku dengan punggung tangan seraya berbalik. Dadaku sesak oleh amarah.


“Mas ya, udah tau tangan bau pakai buat elus-elus pipiku segala. Lihat...” Aku menunjuk mukaku yang coreng-moreng. “Begini cara mas bujuk aku? Bikin muka Risha jelek terus nanti jerawatan?”


“Reflek rayu kamu, Sha. Bukan gini maksudku.” ucap mas Dhika dengan ekspresi geli yang ditahan-tahan. Tuh kan bener, ada faktor kesengajaan...


Aku melengos ke dalam rumah, ke kamar. Di tepi kasur aku mengerucutkan bibirku. Mas Dhika menyusulku lima menit kemudian, lama!


“Gue cuci tangan dulu ya, sabar-sabar, jangan nangis, kaki masih susah di ajak gesit. Sabar.” ucap mas Dhika dengan khawatir sambil masuk ke kamar mandi dengan langkah panjang dan berusaha terburu-buru.

__ADS_1


Aroma khas sabun colek lalu terendus di hidungku. Ya ampun, dulu mas Dhika adalah pria yang slalu wangi dan segar. Sekarang dia benar-benar bermetamorfosis menjadi orang yang lebih ada adanya dan aku yakin perubahan ini tidak bisa di turu Dipta. Dia tidak mungkin menjadi orang miskin baru, karirnya bisa redup dan pesona bisa hancur.


”Aku bersihin wajahmu sini, anak manis. Jangan ngambek, kerjaanku banyak di luar. Kasian orang-orang yang nunggu suamimu.” ucap mas Dhika sambil menaruh kursi plastik di depanku. Tangannya terulur mengambil kapas dan micellar di meja kerjaku yang berantakan. Aku masih bekerja secara online sebagai sales marketing di perusahaan tas kemarin.


Mas Dhika membersihkan wajahku dengan kedua mata untuk memastikan baik-baik setiap goresan gemuk di wajahku hilang sampai wajahku terasa panas di usap-usap terus karena susah hilang.


“Bentar, Sha. Aku kasih sabun cuci piring dikit!”


“Gak usah!” seruku sambil menahan pergelangan tangannya, mencegahnya berdiri. “Udah kena gemuk, mau di bersihin pake sanlet, mas mau bikin Risha jelek?”


“Enggak, Sha. Enggak.” Mas Dhika geleng-geleng kepala.


“Terus mau apa coba, nggak bener terus dari tadi?” kataku sambil menentang tatapannya.


“Gue cuma mau bikin wajahmu bersih kok.”


Mas Dhika menyunggingkan senyum aneh seraya memejamkan mata. Dengan agak sungkan dia mengecup kedua pipiku, keningku, hidungku dan bibirku secara cepat lalu meringis lebar.


“Udah kan, udah nggak salah lagi dong gue, Sha? Gue ke bengkel ya.” Izinnya dengan muka cengengesan.


“Nggak boleh, mas Dhika mending mandi dulu aja.”


“Mandi tuh emangnya mau ke mana?”


Aku beranjak cepat-cepat, menutup pintu lalu menguncinya.


“Pokoknya mas Dhika nggak boleh keluar kamar, mas di sini aja sama Risha bentar aja. Nemenin aku bobok.”

__ADS_1


Mas Dhika membelalakkan mata seraya menepuk-nepuk pipinya sendiri.


“Nemenin bobok? Nggak pernah gue dengar kata-kata ini sebelumnya. Berasa ketiban durian runtuh tapi nggak sakit, tapi rasanya mau pingsan gue. Elu kenapa sih?”


“Pokoknya mas temenin Risha! Kalo sampai mas mencoba keluar, mas tau akibatnya.” ucapku galak sambil berkacak pinggang.


“Apa hukumannya?” tanyanya tanpa tersudutkan dengan ancamanku. Apa aku kurang galak? Kurang meyakinkan? Aku menghampirinya sambil cemberut dan merentangkan tangan.


“Nanti Risha nangis lagi lho mas, Risha kangen tau sama mas Dhika.” Tanganku menangkup rahangnya lalu mendongakkannya.


Mas Dhika mengerjap lalu menahan pinggangku dengan kedua tangannya. “Oke, tenang-tenang, nggak usah agresif begini ya. Mas temenin bobok yuk-yuk-yuk, biar cepat kerjanya.” katanya dengan suara naik-turun.


Aku menyuruhnya mandi cepat-cepat sambil menunggunya di kasur, setelah mapan di kasur, wangi, dan segar aku memeluknya sambil tersenyum manis.


“Kuncinya udah aku sembunyiin.” kataku jujur.


Mas Dhika menganggukkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pantatku seperti ayah yang sedang ingin menidurkan putrinya di siang hari.


“Gue juga kangen sama elu, tapi elu serem kalo begini.”


“Serem kenapa?” tanyaku sambil mengelus pipinya.


“Elu bikin gue deg-degan, elu kayak mau ituin gue pakai di kunci segala kamar. Gue gak kabur.” katanya pelan.


“Risha nggak percaya, udahlah pokoknya mas nurut aja. Ini enak kok.” kataku sambil mendekapnya. Mas Dhika mendengus sambil mencubit pantatku.


“Untung lagi hamil, kalo enggak! Udah gue ikat di pohon kelengkeng lu, gue pelototi setiap menit sambil ngotak-atik motor! Rese amat ngidamnya, untung cinta mati!”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2