
Dalam menyambut suasana perayaan pernikahan kami, aku di buat kesal-kesal gemas dengan pria yang kini berjalan timpang ke arahku diikuti komunitas mobilnya yang masing-masing membawa pelbagai buket dan seserahan untukku.
“Aku pikir kamu nggak datang mas. Sial, bikin aku parno tahu!” Aku memukul lengannya pelan..
Mas Dhika melebarkan matanya yang berbinar-binar sebelum mengecek arloji hitamnya.
“Telat sepuluh menit doang, Sha. Emang bener ini, yang sepele doang bisa jadi masalah di hari spesial.” Mas Dhika berdecak-decak gemas.
“Sabar Risha, nikah kok kita. Lagian udah senang juga kan aku datang bawa kawanan yang sering bikin kamu ngambek.” Dengan wajah semringah mas Dhika menoleh.
“Guys... minta maaf gih sama cewek gue. Kalian sering bikin Risha jeles.”
Mas Dhika!
Aku menyunggingkan senyum kala satu persatu teman laki-lakinya dan pasangan menyerahkan pelbagai buket dan seserahan ke keluargaku. Seserahan gabungan itu rupanya tak bisa di terima oleh seluruh tangan keluargaku hingga akhirnya rombongan mas Dhika yang membawanya sendiri masuk ke masjid.
Aku tersipu waktu mas Dhika menanyakan gimana pendapatnya tentang seserahan yang keluarganya beli selama sehari non stop di sebuah mal.
“Perjuanganmu baru di mulai kali, jadi jangan bahagia dulu.” kataku mengingatkan. “Tapi bolehlah untuk semua yang sudah kamu kasih saat ini, makasih mas Dhika dan keluarga. Risha senang kalian datang.” imbuhku setengah manja.
Tante Deswita dan Om Ray mengiyakan dengan anggukan.
“Ya udah karena ada yang sudah tidak sabar akad, kita masuk saja.” ucap Tante Dewita sembari mengipasi wajahnya yang kian cantik dengan kipas bulu ayam. Kemungkinan.
“Tapi ingat ya, Risha. Titip Dhika, malam pertama jangan di nakali. Masih sakit itu kakinya. Jangan cepat-cepat.” ucap Tante Dewita setengah berbisik.
“Kok Risha, Tante? Orang Risha aja anti merayu.”
“Lah terus. Zonk dong, Sha?” timpal mas Dhika dengan suara kecewa. “Kentang doang ini.”
Aku memutar bola mata jengah seraya menatapnya tajam.
“Mintanya jangan di nakali, tapi apa.” Aku berseru. Dan seruanku di dukung Tante Dewita dan Om Ray yang meledek anaknya sendiri.
“Kasian. Udah ayo masuk, akad dulu kalian biar hati tenang terus makan-makan.” ucap Tante Deswita sambil membetulkan selendang tipisnya yang berwarna hijau sage, dress code akad nikah.
__ADS_1
Kami pun segera masuk ke dalam masjid tapi sebelumnya aku sempat menawarkan bantuan untuk memapah mas Dhika atau menggandengnya.
“Aku bisa kok, Sha. Pelan-pelan tapi.” jawabnya dengan senyum yang tidak di paksakan.
“Iya.” Aku berjalan mendampinginya sampai ke tempat yang sudah di tetapkan pengurus masjid.
Di rumah Allah ini, dengan segala pengharapan yang aku panjatkan dalam hati. Tibalah kami di tempat sederhana tanpa penghias dekorasi bahkan acara penghibur lainnya.
Ruang akad, beralaskan tikar hijau, tanpa mic, tanpa pesta perayaan yang berlebih. Hanya meja berlapis kain putih. Aku dan mas Dhika duduk di hadapan penghulu dan para saksi.
Bismillah.
Aku menundukkan kepala kala mas Dhika mengucapkan ijab kabul dalam sekali tempo yang indah di dengar, tegas di rasa.
Mas Dhika menyentuh punggung tanganku yang tertumpuk di pangkuan seraya memberi tekanan seakan mengantarkan rasa hangat.
“Sah, Sha. Bahagianya aku punya kami.”
Aku membiarkan air mataku yang diam-diam mengalir tanpa permisi setelah kami resmi menjadi suami istri. Lucu sekali, harusnya hari ini penuh makna, tersirat kebahagiaan yang sangat besar dan perasaan lega yang bertubi-tubi datangnya. Tetapi... Meski demikian kenyataannya, kami sudah melewati masa-masa yang berarti dan indah.
Aku menyeka air mata dan tersenyum kepadanya. Di tengah kamera ponsel yang mengabadikan momen ini dan petugas KUA mencatat hasil pernikahan kami di bukunya.
“Makasih lho nggak bikin uang DP kita hilang sia-sia. Makasih ya udah sekuat ini.” selorohku dengan suara yang tersendat-sendat seraya menjatuhkan wajahku di bahunya. Nggak kuat, mata mas Dhika terlihat berkaca-kaca.
“Jangan pernah nyerah ya.” Aku menepuk-nepuk punggung tangannya. “Jangan berubah.”
Mas Dhika menganggukkan kepalanya. “Harusnya aku yang bilang begitu, Sha. Jangan hilang dariku.” ucapnya dengan serak.
Mas Farid mengulurkan tisu setelah aku berhasil meredam air mataku. “Tanggung jawab kalian bikin orang nangis tuh, kasian make up lama-lama.”
Aku membersit hidungnya yang penuh dengan ingus hingga membuat mas Dhika menyikut lenganku.
“Jorok lu.”
Aku mengambil cadangan tisu untuk menghapus air matanya yang mengalir pasrah, merontokkan gengsinya
__ADS_1
“Cie... Tahunan, akhirnya aku bisa lihat air matamu. Bahagia apa sedih ini?”
“Udah-udah, ayo buruan foto-foto terus makan-makan.” sahut mas Farid saat aku menghapus air mata mas Dhika.
“Nggak ada yang bayar opera sabun kalian.” keluh mas Farid saat aku dan mas Dhika saling menatap dengan senyum tertahankan.
“Risha...”
“Iya, iya mas. Sabar, lagi melankolis ini.” kataku sembari menghela napas lega.
“Yuk...” Aku membantu mas Dhika berdiri di tengah ribetnya memakai gaun pengantin yang serupa putri-putri kerajaan luar negeri. Sementara om Ray segera meraih tongkat penyangga jalan mas Dhika yang tergeletak di lantai seraya membantu putranya berbenah menyamankan alat bantu jalannya.
“Makasih, Pa.” ucap mas Dhika.
“Di jaga cinta kalian. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan datang ke rumah.”
“Pasti dong, Pa. Aku masih perlu kontrol dan beli kaki palsu, jangan lupa itu.” gurau mas Dhika.
Om Ray mencebikkan bibir sembari membantu Tante Dewita berdiri.
“Ntar kita bagi hasil dari uang sumbangan warga.” seloroh Om Ray membuat Tante Dewita menjerit. “Papa, jangan bikin malu trah Suwono Wahyudin!”
“Halah, canda, Wit. Mirip tiang listrik kau, tegang!”
Aku dan mas Dhika berhenti bergandengan seraya mengikuti rombongan keluar dari gedung masjid.
Rombongan keluarga kami bergeming, membentuk formasi serupa bulan sabit, beberapa ada yang berjongkok khususnya teman mas Dhika karena kami akan
mengabadikan pernikahan ini dengan pesawat drone yang di terbangkan Dipta di bawah matahari yang sedang hangat-hangatnya.
“Senyum oi, jangan lupa dada-dada ke atas.” seru Dipta.
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, kecuali mas Dhika saat ini. Dia tersenyum hangat sambil menggandeng tanganku lagi.
...----------------...
__ADS_1