Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Risol


__ADS_3

Hujan dari semalam berhenti dan matahari perlahan bersinar cerah kemudian. Aku berbalik setelah memandangi begonia kuning di depan jendela kamarku yang meliuk-liuk menikmati jatuhnya air dari genting.


Seluruh kegiatan beres-beres semalam berjalan menyenangkan dan tanpa kegundahan.


Aku merenggangkan badanku yang pegal-pegal dan meraih tas kerjaku di ranjang.


Sejenak, aku menyandarkan punggung ke tembok sembari mengatur napas. Hati dan kepalaku terus terprovokasi oleh kegelisahan yang datang tiba-tiba.


Mau kerja tapi rasanya kayak ninggalin anak kecil di rumah sendirian. Nggak kerja nggak punya uang. Adooh... Cenut-cenut kepalaku.


“Kenapa, Ris?”


Aku mendongak sambil melepas tanganku yang mencengkeram kepala.


Dengan dituntun Dipta, mas Dhika masuk ke kamar sambil menatapku lekat-lekat.


“Kenapa, Sha? Mikir apa?”


“Pusing kali tuh. Mau kerja apa ngurus kamu.” ucap Dipta tanpa basa-basi. Tak diragukan lagi sebagai tamu yang menemani kami membuat rumah ini lebih hidup dengan menyalanya kompor di dapur dan menata pelbagai kebutuhan dapur Dipta mengenal kami dengan baik.


Mas Dhika duduk di tepi ranjang, pria dengan pembawa santai dan slalu mengenakan pakaian berwarna senada dari ujung rambut sampai ujung kaki menghela napas.


“Jangan khawatir, Sha. Aku sanggup kok di rumah sendirian. Urusan makan juga tinggal beli online. Nggak papa, gue kuat.”


“Yakin sanggup?” tanyaku prihatin, tapi sejujurnya situasi ini juga sedikit membuatku kesal. Mas Dhika menyuruhku kerja dengan serius? Astaga, dia kira gampang apa dengan kondisi seperti ini! Posisiku serba salah dan membawa dampak buruk bagi pikiranku tapi begitu mudah mengucapkan serius. Apa semua laki-laki begitu?


Mas Dhika tersenyum gundah. “Kamu berangkat aja gih, nanti di pecat sama Bu Kartina repot aku. Kamu jadi nganggur dan bikin aku malas kerja.”


Aku tertawa kecil. Malas kerja hanya karena aku menemaninya? Dia nggak ingat aku hobi ngomel-ngomel, awas saja kalau waktu nikah aku justru nggak dapat uang jajan seperti waktu pacaran.


“Oke, kalo ada apa-apa langsung telepon! Kamu juga, Dip. Kalo masih nganggur boleh lho main di sini.” ucapku merayu.


Dipta menengok jam di ponselnya. “Ada kerjaan aku tapi masih jam sembilan.” Ia menyunggingkan senyum khasnya. Senyum pengertian.

__ADS_1


“Kalo gitu aku pesenin sarapan. Tunggu aja.” Aku mendekati mas Dhika seraya mencium punggung tangannya yang beraroma sabun mandi.


Mas Dhika menatapku lekat-lekat sambil memanyunkan bibirnya. “Selain punggung tangan ada bibir, pipi, dan keningku lho, Sha.”


“Iya Risha ngerti, mas kan bukan manusia tanpa wajah.” kataku dengan senyum mencela. Aku tahu maksudnya, tetapi mas Dhika hanya perlu sentilan lembut di hidungnya untuk membuatnya tersenyum manis.


“Risha kerja dulu ya, mas nggak lupa kan sama pesanku semalaman? Kalo kebelet jalan pelan-pelan seperti ndoro putri.”


“Terus kalo ada gempa bumi gimana, Sha?”


“Parkour lewat jendela, Dhik!”


Buru-buru aku dan mas Dhika melemparkan lirikan maut ke arah Dipta. Sontak ia melemparkan kedua tangannya di udara sambil nyengir kuda.


“Nggak, nggak bestie... Bercanda.”


“Awas ya kamu ngasih ide aneh-aneh! Kasian nih suami aku.”


Dipta merapatkan bibirnya lalu cepat-cepat memalingkan matanya.


Mobil basah, sekali ini saja mengeringkan mobil dengan kanebo terasa menyebalkan, tapi suasana di sekitar rumah lumayan sepi hanya saja dari sini bisa terdengar suara aliran sungai.


Tempat Kerja.


Pagi ini belum genap pukul delapan, langkahku pelan memasuki kantor pabrik yang sudah menampilkan geliatnya dengan terdengarnya lagu-lagu pembangkit energi untuk berdendang dan bergoyang. Lagu dangdut koplo tersiar bagai kabar gembira yang enak didengar? Ada yang suka? Judul apa yang wajib kudengar biar semangat menjalani hari-hari?


Aku berkacak pinggang kala tepuk tangan meriah dengan seruan keras menggema setelah aku membuka pintu kantor


“Pengantin baru, uwu-uwu, pengantin baru, ea... ada yang keramas setiap hari nih.” seru partner kerja bersama-sama sambil meniupkan terompet dan kertas warna warni yang di gunting dan di remas-remas menerpa ragaku penuh semarak.


Aku tersenyum sambil menyingkirkan kertas kusut yang menggantung di depan wajahku.


“Semangat banget kalian, udah capek ya ngerjain tugasku.” kataku sambil menatap mereka bergantian, jumlahnya enam dan semuanya sudah menikah. Mungkin ya mulai hari ini aku akan paham apa-apa yang mereka bicarakan. Tentang harga sembako yang naik, token listrik yang bunyi, sumbang-menyumbang dan yang enak-gak-enak lainnya. Kamu tahulah...

__ADS_1


“Traktir makan dong, Ris. Udah kita handle kerjaanmu walau nggak tau bener nggak.” Julia nyengir.


Aku memiringkan kepalanya ke satu sisi sambil menepis kertas-kertas di kerudungku.


“Ntar deh makan siang kita bakso dan makasih ya untuk kado-kadonya.” Aku tersenyum dan memusatkan perhatianku pada kursi terbaik di kantor pabrik ini.


“Sekarang aku cek dulu kerjaan kalian beres nggak, kalo beres ntar Risha kasih bonus... Es teh!”


“Yee, itu sih pelengkap bakso. Bukan bonus!” sergah Julia ngegas.


Aku terbahak seraya menurunkan tasku ke meja. “Iya-iya, tapi kita kerja dulu ya.. Hus... Hus... Konsentrasi.” ucapku sambil duduk. Partner kerjaku kembali ke kursi masing-masing dan berceloteh ini itu tanpa aku gubris sama sekali.


Aku memikirkan bayi besar di rumah. Dhika Wahyudin... Din...


Kerja sambil video call mas Dhika. Oke... Menentang aturan perusahaan nggak papa. Nggak dosa dan merugikan perusahaan kok. Ini cuma sebatas lihat hp sambil kerja.


Aku menghela napas seraya menghubunginya.


Mas Dhika mendelik di layar ponselku sambil menggigit daging ayam. Aku memesankan sate ayam tadi.


“Kerja, Risol! Ngapain telepon-telepon! Cari mati lu!” katanya galak.


“Risha cuma mau lihat mas, taruh hpnya sana di tempat yang bisa lihat seluruh ruangan!” ucapku dalam suara rendah dan badan condong ke depan.


Mas Dhika tersenyum penuh kemenangan, parasnya berseri-seri. “Aku menyukaimu.” ucapnya sebelum menyuruh Dipta menaruh ponselnya di meja tv.


“Bucin amat kamu, Ris. Gila, penganten!” Dipta mengamatiku dengan ekspresi mencela seraya mencari posisi yang pas di meja tv hingga membuat video di layar ponselku tidak stabil.


“Nggak usah dimata-matai Dhika, dia pingin ikut aku ke rumah!”


“Ya nanti tinggal video aja di rumahmu. Udah aku mau kerja, kamu jangan matiin teleponnya!”


Dipta menghujamkan tatapan tidak senang padaku. Aku menjulurkan lidah sementara ia pindah, bergabung dengan mas Dhika yang melambaikan tangan seraya memberi simbol jari hati ala Korea, sebuah isyarat dimana ia membentuk sebuah bentuk hati memakai jari telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2