
Aku menatap mas Dhika yang sedang terlelap di kasurku setelah kami melakukan salat dhuhur dan menyambut keluarga sebentar.
Bibirku tersenyum penuh arti saat mengingat perjalanan cinta kami.
...***...
“Sha... Risha... Ayo cepetan keluar, ada cowok pindahan dari Jakarta.” seru Anggi sambil meraih pergelangan tanganku dari dalam kelas.
Terseok-seok aku mengikutinya sampai chiki-ku berjatuhan di lantai sebelum berhenti di pembatas koridor lantai dua. Semua siswa yang rata-rata perempuan menonton ke arah bawah, siswa pindahan itu datang menggunakan motor sport tanpa di dampingi orang tua. Sikapnya sok humble, bahkan ketika Dhika muda tahu dia menjadi pusat perhatian, ia malah melambaikan tangan ke atas sambil tersenyum manis. Menyapa cewek-cewek dengan yang langsung menandai Dhika sebagai incaran pacar.
Aku mendengus. Pd banget, kataku waktu itu sambil berbalik kembali ke kelas. Tak di sangka, cowok itu membekukan cewek-cewek yang di lintasinya sebelum masuk ke kelasku.
Murid-murid di luar langsung menggeruduk masuk dan menempati kursi masing-masing setelah Bu Afi menyuruh anak didiknya masuk ke kelas.
Dhika muda tersenyum lebar sambil menonton teman-teman sekelas dan tatapannya langsung tertuju pada kursi di sampingku.
Aku menumpuk tas ranselku, tas laptop, tas bekal ke kursi dan meja sebelah. No way!
Bu Afi tersenyum geli dan menceritakan siapa murid baru yang bersamanya. Dhika Wahyudin namanya, pindah karena mengikuti tempat kerja orang tuanya.
“Jadi Risha, sebagai ketua kelas agaknya kamu bisa menyambut teman baru dengan welcome.”
“Bukan muhrim, Bu.” kataku ngegas. “Duduk sama Bu guru saja yang welcome. Aku gak!”
Dhika muda tertawa sambil menudingku. “Ganti ketua kelas saja Bu Afi, Risha tidak merakyat!”
“Betul Bu Afi, ganti aja ketua kelasnya, Risha semena-mena sama murid bodo seperti kita, Bu. Dia nggak mau bagi-bagi contekan.” seru Anggi.
Singkat cerita dukungan untuk mengganti jabatanku meningkat. Bu Afi tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya. Tidak setuju dan aku berseru kegirangan.
“Sukur. Rasain...” kataku penuh kemenangan.
Dhika tersenyum penuh arti sembari mengutarakan keinginannya untuk duduk menempati mejanya saja.
“Tidak bisa, Dhika. Nanti ibu gimana? Sha... Berikan ruang untuk teman baru kalau tidak pengajuan beasiswa kamu ibu batalkan.”
__ADS_1
“Ngancem ibu sukanya. Nggak fair!” Aku menyingkirkan semua tasku dan menggeser kursi untuk memperpanjang jarak meski hanya setengah meter.
Dhika muda memperkenalkan namanya di depan kelas seraya duduk di sampingku.
“Lagi PMS, Sha? Galak banget.” ucapnya sok akrab sambil menatapku.
Aku menggeser tubuhku sampai mepet ke tembok. Aku memasang wajah serius. Enggan mengagumi cowok pindahan yang mempunyai ketampanan lebih unggul di banding cowok-cowok lainnya.
“Nggak usah sok akrab, ntar istirahat kamu cari meja nganggur ke kelas samping atau gudang!” kataku penuh nada perseteruan.
“Emang ini meja milikmu sendiri?” Dhika berdehem.
Aku tersenyum sinis. “Papa komite sekolah.”
“Oh... Anak komite sekolah. Gue dong cucu pemilik sekolah ini.”
“Nggak mungkin!”
“Serah lu deh, yang penting gue udah bilang. Mau percaya apa kagak, serah.” Dhika muda mengeluarkan bukunya dari tas seraya tersenyum lebar saat aku memanyunkan mulut.
“Berisik!”
Bu Afi memukulkan penggaris kayu ke papan tulis. “Risha, Dhika, sudah berantemnya. Nanti lagi boleh. Sekarang kalian buka buku IPA fisika halaman 35!”
Aku membuka bukuku sementara kulihat dari ekor mata Dhika melirik bukuku dengan rasa ingin tahu.
Bu Afi kembali memukul papan tulis. Mengagetkan jantungku yang baru saja tenang. “Berbagi buku, Risha. Habis itu kamu nanti temani Dhika ke perpustakaan, ambil semua buku paket!”
Aku mencubit lengan mas Dhika dengan gemas saking jengkelnya merasakan kejengkelan yang sama sewaktu pertama kali bertemu dengan Dhika muda. Hari itu menjadi hari paling tidak aku sukai sepanjang menjadi ketua kelas 10. Dhika muda yang betulan cucu dari pemilik sekolah membuat hidupku penuh sensasi yang sering membuatku merasakan PMS setiap hari.
“Kamu kenapa, Ris? Kenapa cubit-cubit? Sakit tau.” tanya mas Dhika saat ia terbangun sambil menatapku heran dengan mata yang sangat mengantuk.
“Sebel.” kataku sambil mengeluarkan rasa frustasi dengan menggeram.
“Bobok sini, kamu pasti kecapekan. Sini.” Mas Dhika berusaha menggeser posisi tidurnya, memberi ruang bagiku untuk rebahan. Tapi alih-alih rebahan aku menatapnya mangkel.
__ADS_1
“Kenapa, Risha? Mikir apa? Mau cium? Atau uang bulanan sekarang?” ucapnya dengan serak tapi semangat.
“Aku ingat waktu pertama ketemu kamu! Sebel, nyebelin.”
“Oh... Ingat itu...” Mas Dhika tertawa dengan malas. “Mau nampol aku sekarang? Gih... Boleh...” Ia menawarkan pantatnya untuk aku gebukin.
Aku menatapnya sambil menjentikkan jari di telinga dan mulutnya. “Sebel banget aku sama kamu, kamu adalah rivalku paling nyebelin satu kelas. Durhaka sama ketua kelas.” Aku menyerahkan seluruh tenagaku untuk melepas semua rasa mangkelku saat ini.
Mas Dhika kelabakan sembari berusaha mencekal pergelangan tanganku. “Udah.. Udah, bukannya wajahku panas kamu kasih ciuman panas tapi malah cubitan gemas. Mau PMS kamu?”
Aku mengerucut bibir. “Kenapa kamu waktu pertama kali ketemu aku kamu bilang aku lagi PMS? Kamu udah hafal cewek-cewek yang lagi PMS?”
“Ya ampun Risha, udah lama banget tau gak. Kenapa bahasnya sekarang?” keluh mas Dhika tanpa ekspresi marah, dia justru terheran-heran.
“Aku baru ingat mas... terus tiba-tiba aku pingin nampol kamu! Sebel banget, kamu merusakku saat itu.”
“Ngerusak gimana, sini deh, gimana-gimana.” ucapnya dengan tenang.
Aku meluruskan punggungku di kasur seraya bersedekap sementara mas Dhika memeluk pinggangku.
“Cerita gih.” bujuknya sembari menatapku. “Aku ngerusak apa? Sampai sekarang bukannya kamu masih suci.”
“Kamu ngerusak pikiranku yang jernih jadi keruh. Kamu bikin aku malas sekolah dan aku juga terbawa-bawa masalah yang kamu buat, dari mulai bolos jam kelas, bolos waktu salat, kelas praktikum! Jam pelajaranku berkurang buat cari kamu di seluruh sekolah!” semburku tak karuan.
“Ya elah, aku kira apaan yang rusak.” Mas Dhika tiba-tiba mencium pipiku. “Gemes banget sama kamu, mana pelit banget ngasih contekan. Pantesan di benci sekelas.”
“Biarin.” Aku mencebikkan bibir sambil mengusap pipiku. “Aku harus jadi juara satu, tapi kamu ngerebut terus posisi itu.”
Mas Dhika kembali mencium pipiku. “Tapi ya, Ris. Dari awal ketemu kamu aku udah gregetan sama kamu. Tingkahmu yang jual mahal bikin aku penasaran dan ternyata emang mahal harga dirimu. Love you, Risha Nur Medina.”
Mas Dhika menangkup pipiku saat aku menoleh kepadanya. Aku memanyunkan bibir lalu ikut menangkup pipinya. Mas Dhika tersenyum lalu mencium bibirku sekilas dengan cepat.
“Kena kamu, hihi. Bales, Ris. Bales. Aku siap menerima balasanmu.” Mas Dhika menguncupkan bibir.
“Ogah.” Aku menjulurkan lidah seraya menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya. “Nanti aja ya. Hihi.”
__ADS_1
...----------------...