Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Rayuku


__ADS_3

Satu setengah miliar! Uang sebanyak itu kami tonton bersama-sama di ruang keluarga rumah mertua malam harinya setelah masalah benar-benar clear. Dipta dengan sungguh-sungguh minta maaf, mas Dhika memaafkan entah dari hati terdalamnya atau tidak. Tapi jika memungkinkan dia akan membantunya dalam strategi balapan jika hatinya yang remuk sudah ikhlas menerima.


“Uang ini mau kalian apakan?” tanya mamaku setelah bergabung di sini.


Aku mengendikkan bahu, aku tidak berurusan dengan uang sebanyak itu meskipun aku cukup dirugikan secara mental dan waktu karena perlu beradaptasi lagi dengan mas Dhika sekarang dan kedepannya.


“Mas Dhika butuh modal buat usaha baru, Ma. Kemungkinan untuk itu.”


Mas Dhika sendiri langsung meraup tas hitam di meja dan mendekapnya erat.


“Yang jelas gue nggak benar-benar mengharap uang sebanyak ini untuk kepentingan pribadi. Tapi ya berhubung kemarin mama sama papa udah boikot duit asuransi mobil, jual mobilku dan uang sumbangan pernikahan, uang ini untuk aku semua!” kata mas Dhika dengan muka cengengesan.


“Mayan dapat ganti rugi buat satu kaki walaupun kurang banyak. Tiga miliar kek, Mayan banget buat hidup santai.”


Papa Ray langsung melemparinya bantal kursi dan melayang tetap di wajahnya. “Mulut lu bahaya banget kalo ngomong. Lu kate tiga miliar bisa sampai mati? Lu pikir ketika lu kerja, lu sakit dan lu punya anak hidupmu tetap santai?” Papa Ray geleng-geleng kepala.


“Gini ya, Dhik. Diskriminasi terhadap difabel itu masih ada, lu jangan menganggap ini remeh.”


Mas Dhika meraih bantal sofa yang jatuh ke kakinya. “Gue ngerti, babe. Gue cuma berusaha menghibur diri ini saja.”


“Terus mau gimana elu sekarang sama Dipta? Dia sakit jiwa, psikopat! Gue sebenernya nggak setuju lu masih mau jalan sama Dipta, bisa-bisa dia malah tambah dendam sama lu!”


“Makanya itu...” Mas Dhika mengambil pensil dan kertas yang berada di tasku.


Gue sama Risha mau pindah rumah diam-diam ke luar Jogja, kalian setuju kagak?


Mas Dhika mengangkat kertas dan menunjukkan pada semua orang.


Jangan di ucapkan! Takutkan ada yang sadap rumah kita.


Tulis mas Dhika lagi dengan buru-buru.


“Gue mau santai-santai dulu sampai rehabilitasi medik lancar dan hasil optimal. Susah jalannya, masih suka nyeri bagian dalamnya apalagi, Ma, Pa, Risha udah mau sama gue. Tadi pagi, rem blong...”

__ADS_1


Sontak aku membekap mulutnya dengan mata mendelik. Apa perlu itu di bahas setelah ia membuatku nangis seharian ini?


“Itu rahasia mas, diam aja kenapa sih! Malu tau.” kataku mangkel.


Mas Dhika mengedip-edipkan matanya. Terlihat matanya lelah dan penuh semburat merah namun masih ada binar senang di sana.


“Awas ya pada ngeledek!” kataku sambil melepas mulutnya. Mas Dhika bilang asin, huek.


Aku menguncupkan bibir lalu sembunyi di balik bahu mama. “Mama pokoknya nggak usah tanya-tanya, badanku remuk hari ini!”


“Oh remuk, jago juga pasti Dhika mainnya, Sha?”


“Nggaklah, Ma. Wong Risha malah keroncong terus minta pelan-pelan. Ya nggak mampu aku.” sahut mas Dhika.


“Oh... berarti cepat-cepat ya tadi? Oh...”


Aku mendengus dan menendang pelan kakinya. “Risha mau pulang. Mas Dhika bikin malu terus!”


“Ya bagus toh itu, Sha. Biar Dhika ngerasain punya anak gimana? Biar tahu diri dia.” sahut papa Ray.


Sambil terengah-engah dia duduk di tepi ranjang.


“Aku mau ngomong sama kamu, Sha.”


Aku menyampirkan kerudungku di kursi kerja.


“Mau ngomong apa?” tanyaku sambil melepas cardigan.


“Gimana Dipta?”


“Dia bakal ikut terapi kejiwaan selama kurang lebih enam bulan! Orang tuanya juga janji bakal intens kasih pengawasan ke dia. Aku rasa semua butuh waktu dan jarak, kita pergi seperti kesepakatan.”


Aku menyugar rambutnya yang lepek ke belakang. “Capek?”

__ADS_1


“Gue tau Dipta suka sama lu udah lama, gue biarin persahabatan ini tetap jalan hanya karena gue, Dipta dan elu udah sama-sama saling memahami dan dewasa. Sorry, Sha. Semua gara-gara gue.”


“Ini bukan tentang siapa yang salah mas, Dipta yang jelas-jelas salah! Dan kamunya aja yang terlalu enjoy dengan membiarkan rasa sukanya terus tumbuh ke aku.”


“Itu kenapa gue minta maaf, harusnya bisalah aku lebih tegas ke dia, atau ke kamu.”


“Udah telat!” sahutku setengah jengkel. “Mending kita tidur terus besok mas urus komunitas mobilmu untuk pengunduran diri. Kita mulai hidup baru, benar-benar baru, tanpa balapan! Ingat tanpa balapan!”


Mas Dhika mengusap wajahnya seolah basah kuyup.


”Air liurmu muncrat-muncrat.”


Aku mendengus seraya memejamkan mata. “Gimana kondisi Dipta sekarang, mas? Kira-kira kalo dia benar-benar psikopat, dia sedih apa bahagia ya sekarang. Kira-kira dia nyesel nggak ya untuk pertama kalinya dia marah-marah sama aku tadi?”


Mas Dhika melepas kancing kemeja polonya dan membuat badannya yang bau kecut terlihat.


“Ya nggak tau gue, Sha. Yang jelas dia bingung. Dia nggak bisa hubungi kita lagi seenaknya sendiri kayak kemarin-kemarin. Tapi ngomong-ngomong perhatian juga kamu sama Dipta, Sha? Kenapa? Ada rasa sayang ke dia?” tukasnya dengan muka curiga.


Aku menghela napas. “Aku takut dia macam-macam terus gentayangan mas, boleh jadi sekarang Dipta frustasi.”


Aku yang cemas mendadak meringis lebar saat mas Dhika berwajah muram. Kata-kataku ada yang salah? Perasaan ini tidak bisa aku bohongi.


“Risha cuma jujur mas, jangan marah.” rayuku.


“Aku nggak marah Risha, aku malah ikut kepikiran Dipta sekarang lagi ngapain ya? Apa jangan-jangan otak dan hatinya yang kadang konslet itu lagi over thinking mikirin kita.” Mas Dhika berdehem.


“Gue kayaknya harus iseng tanya kabar di grup komunitas deh, sekalian bikin jadwal kopdar!” pungkas mas Dhika sambil mengambil ponselnya di tasku.


Aku mengambil dua handuk di kabinet dan bersiul-siul. “Tapi jangan sampai kopdar terakhir berujung maut, Risha wajib ikut.”


“Tentu dong, sayang. Kamu nomer satu sekarang, sini deh aku kasih tau.”


Aku mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke arahnya. “Apa?” tanyaku.

__ADS_1


Mas Dhika menyelipkan rambutku ke belakang telinga. “Kamu cantik.” ucapnya sambil mencium pipiku. Aku meninggalkannya ke kamar mandi selama mungkin, mas Dhika pasti minta yang enggak-enggak lagi. Minta aneh-aneh. Oh tidak!


__ADS_2