Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Apa sih


__ADS_3

Dinginnya malam menyelimuti tubuh. Aku mengamatinya. Di sini, di rumah sakit yang hampir aku pahami di mana saja ruang dokter spesialis bedah, penyakit dalam, ortopedi, dan syaraf. Aku setia menunggu rapuhnya diri mas Dhika perlahan-lahan terkikis oleh keteguhan hatinya dalam membangunkan harapan baru. Tajam perhatianku pun hadir dan lenyap namun terus berulang di ruang inap ini untuk menghiburnya dari rasa kasian.


Pagi dan malam, sebelum dan sesudah bekerja. Aku dan perhatian ini perlu hadir untuk meyakinkannya bahwa aku masih membersamai setiap momen yang ia lewati tanpa merasa mencondongkan diri ke arah prasangka buruk yang akan membuatnya kepikiran.


Sungguh harap tiada akhir untuk melihatnya bangkit masih terus aku panjatkan dalam setiap sujudku dan ini adalah suatu cara untuk menunjukkan padanya aku ini tidak mencintainya saja kala sempurna.


“Mas, besok aku libur. Bazar tahun baru udah selesai. Minta kak Aga deh nggak usah ke sini biar aku temani kamu!” kataku sambil mengusap apel di meja.


Di kamar yang menyimpan perjalanan cinta kami yang begitu dalam dan tak bisa hidup sebagaimana harapan kami mas Dhika nampak terjaga cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah kata sampai aku bertanya-tanya apakah karena rasa bersalah sedang menghantuinya.


Aku menyerahkan semangkuk potongan apel ke tangannya sambil melihat getir yang terekam di wajahnya. Mas Dhika mulai terasa memiliki sebuah dunia khusus di dalam kepalanya, bukan lagi soal kecepatan mobil dan cara bermanuver di perlombaan drag race legal apalagi modifikasi mobil dan menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel hanya untuk menanyakan ini-itu ini-itu berkaitan dengan ‘mobil balap’ pada montir.


”Kenapa?” tanyaku sembari berkipas-kipas. Januari masih musim hujan, tetapi di sini berhawa hangat.


Mas Dhika menusuk apel dengan garpu dan melahapnya. Ia mengerjapkan mata sambil mengunyah.


Aku bersabar menghadapinya selama sepuluh hari di sini sambil merangkum hasil laporan dari kepolisian bahwa memang ada indikasi sabotase rem dari beberapa orang yang mengikuti dan menonton drag race taruhan tengah malam itu, sudah ada calon-calon tersangka yang diduga sebagai pelakunya namun keluarga mas Dhika yang di hadapkan dengan banyak persoalan ‘uang, waktu, pekerjaan tambahan demi biaya rumah sakit’ memilih menyudahi urusan dengan pihak berwajib dan menutup perkara kecelakaan itu demi ketentraman batin.


“Kamu nggak punya pikiran buat membatalkan pernikahan kita, Sha?” ia bertanya setelah menyuapiku sepotong apel.


Kami saling bertatapan, keberaniannya bertanya seperti ini aku simpulkan bahwa ia sudah memahami kondisinya saat ini pun dengan sikapnya yang slalu berani mas Dhika hanya perlu sejenak waktu mengembalikan kepercayaan dirinya. Saat-saat melamarku dulu pun dia mengajakku kebut-kebutan dulu sebelum berakhir di sebuah pantai berpasir putih di kawasan Jogja lantai dua.


Dengan kedua belah pihak keluarga yang sudah menunggu lebih dulu, lamaran yang ia berikan kepadaku di saksikan mentari musim panas yang telah memudar dan angin senja yang tertiup pelan.

__ADS_1


Cincin dengan permata biru dan permata kecil yang mengelilingi cincin emas dia sematkan di jari manisku sembari berlutut.


“Risha... Nikah yuk, bosen pacaran terus gue. Mau yang lebih jos!” katanya waktu itu sembari tersenyum masam. “Dari SMA sampai lulus kuliah udah cukup kali kita pisah rumahnya. Kita tinggal di atap yang sama yuk, di rumahku.”


Waktu itu aku yang sudah umur dan enggan berpisah dengan pria yang sudah menemaniku berlari ke tempat yang kuingin langsung aku iyakan.


Aku melahap sepotong apel lagi sembari melipat kedua tanganku di dada.


“Empat hari lagi kamu boleh pulang mas kalau kondisimu stabil dan mulai besok kamu terapi rehab medik dan fisioterapi. Habis itu kita bisa bahas pernikahan kita di batalkan atau di undur.”


Aku menelengkan kepala sambil mengamati perubahan di wajahnya.


“Aku nggak sempurna lagi, Sha. Malu kamu pasti jalan sama laki-laki cacat sepertiku.”


Mas Dhika menaruh mangkuk ke meja, “Aku pingin kamu bahagia, Sha. Kalau gini kan gak mungkin.”


“Mungkin aja kalau kamu nggak nyerah.” sahutku gemas. “Kenapa sih mas gitu amat. Bukan aku yang ngebet nikah kemarin kan?” imbuhku setengah merengek.


“Lagian kamu juga kenapa goblok banget sih ikut taruhan segala, ah sebel...” Aku menguncupkan bibir sembari memukul tepi ranjang.


Mas Dhika mencubit pipiku pelan. “Gila kamu, Sha. Cinta banget kamu sama aku?” selorohnya dengan nada bercanda.


“Kamu yang nembak aku waktu pulang sekolah di pinggir jalan!” sahutku ngegas. “Kamu yang bilang suka sama aku sambil ngasih coklat dan bunga cakar ayam yang kamu maling dari pinggir jalan!”

__ADS_1


Mas Dhika tersenyum lebar sembari mencubit pipiku lagi.


“Masih ingat aja ni bocah bau kencur, di ajak pacaran mau-mau aja. Haha...”


Aku mengerucut bibir sambil mendelik padanya. “Jadi kamu cuma bercanda dulu? Apa kamu juga cuma taruhan sama teman-temanmu bau solar itu?”


“Ya... enggak, Sha.” Mas Dhika melepas tertawanya. “Bau solar gara-gara naik angkot ya?” Ia mengernyit sakit sambil memegangi kakinya yang di operasi. “Aku serius kok, kalau bercanda nggak akan langgeng sampai sekarang kan!”


Cuping hidungku membesar saat mendengus.


“Terus kalau seumpama kita batal nikah mas mau ngapain? Cari cewek lagi yang bisa terima mas sekarang? Lihat dong perjuangan Risha. Emang bisa lupa sama aku?” kataku dengan intonasi lebih ngegas.


“Enggak bisa, Sha. Kamu tunangan terhebatku walaupun galak, buset dah.” Mas Dhika memutar matanya.


“Galak banget sumpah. Cuma aku juga mikir kamu sekarang. Kamu baik banget, makin dewasa makin cantik, makin seksi, aduh... nggak bisa aku lupa sama kamu. Cuma akunya yang nggak baik buat kamu.”


“Aku ngerti kamu nggak baik buat aku karena pergaulanmu. Tapi kamu setia, lagian kamu masih ganteng kok. Nggak malu aku jalan sama kamu!”


Mas Dhika mencubit daguku. “Ganteng nggak cukup, Sha. Ntar susah lho masuknya.”


“Apa sih.” Aku menepis tangannya sembari membuang muka dengan pipi merona.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2