Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Langkah baru


__ADS_3

Mas Dhika mengagumi kaki palsunya yang baru saja di pasang oleh dokter spesialis fisik dan rehabilitasi serta ahli pembuat anggota tubuh palsu ‘prostesis’ setelah melewati beragam prosedur kesehatan yang membuatnya deg-degan jika harus mengulur waktu lagi.


Ia tersenyum lepas dengan mata berbinar-binar sambil menatap kami yang melihatnya dengan hati bahagia. Suka duka ini dan kepedihan hati yang beritahukan kala melewati beragam cobaan kemarin nampaknya masih teringat hingga kini.


“Akhirnya punya kaki dua aku, Dok. Udah aku harap-harap dari kemarin.” ucapnya sambil mengelus kaki palsunya dengan senang. “Nggak lagi susah jalan sendiri Dok, kasian biniku sampai nggak mau kerja gara-gara kasian sama aku.” ucapnya membuatku trenyuh.


Ingin sekali aku menyombongkan diri dan mengejeknya lalu menasehatinya panjang lebar tapi aku menamai ini sebagai atas nama kepraktisan. Aku jadi tidak terlalu sensitif dengan hal-hal yang sebenarnya biasa saja.


“Harus lebih bersyukur ini, jangan balapan tanpa izin istri atau bohong lagi.” Dokter sp KFR menepuk-nepuk bahu mas Dhika, menguatkan pasiennya.


“Namamu slalu dalam doanya, jadi hati-hati, dia mengadu sama Tuhannya. Dan apa yang berasal dari langit sulit diduga.”


Mas Dhika mengangguk lalu menatapku, “Pengorbanan yang mulia. Makasih, Sha.” ucapnya lalu tersenyum manis, melebihi gila dua kilo.


“Nah, kalau sudah punya cinta yang besar. Coba sekarang kita latihan jalan. Mbak Risha bisa berdiri di sana, di motivasi suaminya biar lekas terbiasa.”


Dengan sikap agak geli aku pindah ke ujung dua palang penyangga jalan di kelas terapi jalan.


Mas Dhika mencoba bangkit perlahan-lahan dari kursi rodanya, dua mengembuskan napas dengan kedua tangan mencengkeram palang besi.


“Seperti terapi biasanya, tapi mas Dhika sekarang bisa lepas tangannya pelan-pelan.”


Mas Dhika mengangkat kedua tangannya lalu mencoba mencari keseimbangan dengan menggerakkan kakinya yang memakai kaki palsu.


“Woah...” Dia berseru lalu mencoba berjalan pelan-pelan dengan tangan yang merentang ke samping ke arahku.


Aku bertepuk tangan, berseru kegirangan dan ia semakin lama semakin ambisius untuk berjalan ke arahku.


“Sha... Risha.”


Mas Dhika terbahak saat memelukku, keberhasilan yang ia lakukan membuatku nyengir malu.


“Kayak bocah ajar jalan gue, Sha.” ucapnya sambil menarik peluknya. “Gue malu anjir, tapi gue senang. Kira-kira udah bisa nyetir mobil lagi gak, dok?” katanya setelah berusaha berbalik dan berjalan ke arah dokternya.


Aku menyilangkan kedua tanganku sambil geleng-geleng kepala. Jangan dok, jangan. Dia pasti ugal-ugalan lagi! Kataku memperingati dengan bahasa tubuh sampai si dokter menyeringai lebar.


“Gimana, Dok. Kapan kiranya aku bisa nyetir mobil lagi?” tanyanya bersikukuh.

__ADS_1


“Pelan-pelan mas, membiasakan dulu dengan kaki barunya, nanti kalo sudah bagus, termasuk luka dalam dan syaraf-syarafnya stabil, saya kasih izin wes. Tapi izin sama istrinya dulu, boleh tidak.”


Aku masih berlagak cemas tapi tidak menunjukkan gelagat penolakan.


“Kalo dokter sudah yes, Risha juga yes. Tapi sekarang, mending nggak dulu mas.” Aku nyengir.


Mas Dhika merapatkan bibir lalu mengangguk. “Oke deh, aku setuju. Aku juga janji gak kebut-kebutan lagi.”


Halah, preet... Jangan percaya, orang setiap hari dia nyuruh aku ngebut terus biar seru dan mengajariku cara-cara nge-drift yang bagus dan aman. Mana mungkin dia janji dan menepati, tapi dalam hati aku bertanya-tanya seberapa jauh laki-laki ini berani mengambil tindakan dan bersabar penguasa jalanan yang dicintainya.


***


“Jadi ke rumah Dipta, mas?” Aku bertanya usai berpamitan dengan dokter dan pergi dari rumah sakit.


Mas Dhika yang baru menyantap cilok yang kami beli di depan rumah sakit mengangguk dengan tusuk bambu di mulutnya. Ia mengunyah beberapa.


“Masih diskusi bisnis baru, terus dia kalau menang balapan. Lima puluh persen uangnya bakal dia investasikan ke bisnis kita.”


“Terus mulai kapan mas cari lokasi bengkel? Supplier dulu deh, mau Risha antar ke bengkel langganan?”


“Nggak dulu, Sha. Enggak enak gue, dulu sering datang, sekarang jadi saingan.” Mas Dhika geleng-geleng kepala.


“Iya-iya Bu manager. Ngomong-ngomong mau apa kamu setelah resign, Sha? Jadi ibu rumah tangga?” tanya mas Dhika sambil mencolek lenganku.


Aku mendesis sambil memutar stir mobil ke kiri. “Boleh juga jadi ibu rumah tangga mas, tapi ntar dulu deh. Masa kaki baru langsung test drive. Ntar kalo keseleo gimana? Apa kram? Kasian, lagian aku kalau di pancing mirip bagas gunung Cikuray, ganas!”


Mas Dhika terbahak sambil menganggukkan kepala. “Punya anak boleh kita tunda dulu selagi bikin usaha baru, tapi test drive bolehlah nanti malam. Di rumah Dipta juga boleh.” Ia menyeringai.


Aku mengerucut bibir sambil menarik rem tangan. Satpam sedang membuka jalan buat kami masuk ke rumah ini.


“Risha lagi periode, tapi aku janji setelah selesai boleh kok kita lebih dekat.”


“Gitu dong, gue kan jadi semangat kerja.” Mas Dhika menjawil daguku seraya melepas sabuk pengamannya.


Aku membalikkan badan, mengambil kruk dan menyerahnya.


“Yakin udah bisa sendiri? Tunggu bentar.” kataku saat mas Dhika ragu-ragu untuk berdiri.

__ADS_1


“Kaki baru, semangat baru. Beneran deh, bisa ikutan ke sirkuit Sentul kalian.” seru Dipta dari arah pintu garasi.


Mas Dhika mengulas senyum. Harusnya sekarang ini mas Dhika sudah sibuk latihan, sibuk service mobil dan menyiapkan segala persiapan mental untuk perlombaan nanti. Tetapi kehendak sudah berbelok arah. Manuvernya seperti manuver yang terjadi saat lomba, dramatis dan menegangkan.


“Kalo Risha mau gue ikut.”


“Gimana, Sha? Ikut deh, dukung aku.” Dipta nimbrung sambil menatapku.


“Transport gratis sih oke-oke aja.” kataku sambil acuh tak acuh. “Butuh dukungan kan elu?”


Dipta menyemburkan tawa sebentar. “Berangkat besok pagi kalau mau gratis, kereta api pesawat?”


“Romantis naik kereta!” sahut mas Dhika.


“Siap.” Dipta mengiyakan. “Masuk, aku baru aja beli mi ayam.”


Kami mengikutinya masuk ke dalam rumah. Mas Dhika mengelus mobil merahnya yang terparkir di garasi berdekatan dengan mobil balap Dipta berwarna biru metalik.


“Elo mau pakai mobil yang mana besok?”


Dipta berdecak lalu mengamati kedua mobil balapnya.


“Pakai mobilmu, mobilku belum sempat servis lengkap.”


Aku mengamati wajah mas Dhika yang langsung berubah kecut.


“Nggak pake mobilmu sendiri, Dip? Ntar penggemarnya ngira aneh-aneh lagi.”


“Justru ini buat melepas rindu untuk penggemar berat Dhika karena nggak bisa turun ke lapangan.”


Aku mengelus punggung mas Dhika. “Ikhlasin mas, nanti di Jakarta sekalian cari info lomba balap untuk difabel.”


Mas Dhika sempat mengerjap beberapa saat karena matanya berkaca-kaca.


“Kalo elu mau pakai si merah boleh juga, udah nggak berhak gue sama dia.”


Dipta menepuk-nepuk pundak mas Dhika. “Aku janji bakal membawa mobil ini sebagai juara. Jangan sedih-sedih ah, cus makan!”

__ADS_1


...----------------...


 


__ADS_2