
Sentul Internasional Circuit.
Aku menyusupkan kedua tanganku di saku jaket lalu menyandarkan punggungku di kursi tribun penonton. Serunya acara gladi resik balapan hari ini perlahan memudar. Deru mesin mobil yang meraung dengan kecepatan tinggi saat mengelilingi lintasan sirkuit perlahan berhenti satu persatu di garis start.
Kolaborasi antara rasa dingin kota Bogor dan empati terhadap mas Dhika membuatku bersandar kepadanya.
“Nggak papa kamu nggak di sana, yang penting kamu di sini. Sama aku.” kataku manja. “Lebih mesra kan?”
Mas Dhika yang sedari tadi hanya tertuju pada si merah dan menggumamkan banyak hal tentang gladi resik sore ini merangkulku seraya mengistirahatkan dagunya di puncak kepalaku.
“Harusnya hari ini jadi pembuktian ke kamu dan keluarga kalo pilihanku itu nggak cuma perihal kebut-kebutan, Sha. Tapi tentang kepuasan dan kelegaan sudah di titik mana aku mampu.”
“Mental juara emang nggak bisa padam ya, heran aku. Nggak ada kapok-kapoknya kamu mas.”
“He.” Mas Dhika nyengir. “Kalo nggak sekarang, mungkin nanti. Gue perlu latihan lagi dengan kaki baru dan nggak mungkin gue bikin elo sedih lagi, nangis bombay setiap malam. Ngeselin banget, bikin gue tambah jatuh cinta setiap kali lihat ketulusan cinta lu.”
Aku cuma sanggup tersenyum seraya berdehem saat mas Dhika merangkulku semakin erat.
“Dahlah mas, kita nikmati saja hari ini dan besok dengan ceria. Nggak balapan nggak masalah toh? Yang penting sekarang sehat dan bisa ke mana-mana.” Aku menatapnya setelah menoleh.
Mas Dhika mengembuskan napas seraya memuntahkan ucapannya seolah-olah menimbulkan rasa pahit.
“Cuma sampai sekarang gue penasaran Ris siapa yang bandel ngerusak mobilku.”
“Papa nggak ngomong? Polisinya juga?”
“Boro-boro gue ketemu polisi, yang nolong gue aja lupa. Yang gue ingat waktu nabrak pohon kemarin, kakiku sakit parah dan deg-degan setengah modar. Gue takut waktu itu mati di tempat karena gue tahu cedera di kaki gue parah banget.”
Aku memeluknya sekilas. Tak bisa kubayangkan waktu momen tragis itu terjadi. Betapa bingungnya dia seorang diri. Tapi di mana teman-teman? Kecurigaanku mulai timbul begitu saja.
“Terus sama siapa aja kemarin balapan liarnya?”
“Ada banyak, anak komunitas.”
__ADS_1
“Dipta ada?”
“Adalah, dia yang usul.”
“Kok dia nggak nolongin kamu?”
Mas Dipta langsung melepas ekspresi heran lalu berpikir keras. Keningnya sampai berkerut. “Bener ya, kok dia nggak nolongin gue waktu itu. Mobilnya ada di belakang gue!” Wajahnya tidak nyaman, tangannya mengepal di pangkuan, bibirnya mengetat, rahangnya mengeras. Mas Dhika mengembuskan napas panjang dan menariknya begitu kuat sebelum melepasnya lagi dengan kasar terlebih ketika Dipta memanggil kami dari arah sirkuit sambil melambaikan tangan.
Aku membantu mas Dhika berdiri dan membungkuk, mengambil kruk.
“Kalo curiga coba biasa dulu.” saranku sambil memegangi lengannya.
Mas Dhika dengan konyol mencium pipiku. Aku terbahak, “Nggak gitu juga kali pengalihannya. Nggak punya malu!”
“Bodo amat.” ucapku sebelum kami menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Kami menghampiri Dipta. Ia menggunakan wear pack putih, yang bagian depannya tertera sponsor pendukungnya. Bendera-bendera sponsor lomba pun berkibar-kibar di depan tribun penonton ketika angin berhembus.
Mas Dhika diam sebentar seolah meredam sesuatu yang meledak di hatinya.
“Gue mau ketemu penyelenggara sama sponsor gue, Dip. Ngurus balapan gue yang batal.” ucap mas Dhika tanpa menatap Dipta. Pandangan berada pada keramaian pembalap-pembalap yang sedang berkumpul dengan membawa helm pelindung kepala. Beberapa aku mengenal mereka sebagai pembalap lama, tapi ada juga pembalap baru.
“Lu mending gabung aja deh sama mereka, Dip. Masih ada meeting lanjutan, kan?”
“Oke, Mas Fais ada di tempat biasa.” Dipta menepuk bahunya seraya melengos pergi.
Aku menyunggingkan senyum saat mas Dhika melepas napasnya dengan cepat.
“Mimpi terkubur, masa depan hancur, tega banget orang-orang yang ngejatuhin gue!” ucapnya getir.
“Mau nuntut? Papa udah tutup masalah kemarin, udah susah mau minta cari barang bukti lagi mas.”
“Lagian kamu kenapa bahas-bahas, Sha. Gue kan jadi mendadak kepikiran!”
__ADS_1
Aku berkacak pinggang sambil menentang tatapannya. “Terus Risha harus gimana, diam aja gitu sementara orang yang sabotase mobil kamu bahagia?”
“Nggak gitu, kita kan mau liburan gratis di sini, kalo ujungnya kepikiran itu, gue jadi sensitif sayang.” keluh mas Dhika dengan wajah muram.
“Gue tahu pasti ada orang dari komunitas yang gak suka sama gue. Cuma salahnya gue apa sampai segitunya balas dendam!”
Aku mengelus pipinya, merasakan sakit hatinya yang terdalam. “Bukan soal dendam, ini soal kompetisi.”
Mas Dhika mengembuskan napas pelan. “Udah kita lanjut aja ke urusan gue sama orang gede.”
“Mau Risha dampingi?”
“Tunggu aja seperti biasanya, pelik yang ini. Ada kerugian dari pihak sponsor karena berkurangnya jumlah pemain, jadi gue harus ganti rugi. Kayaknya lho...” ucapnya sambil berusaha jalan sendiri.
Aku langsung menghadap langit. Ya Allah, ini gimana kalo ganti ruginya sama besar sama keuntungan yang diperoleh mas Dhika? Sementara uang sumbangan pernikahan kami hanya separuh yang masuk dompet.
Aku menghela napas dan berjalan di sampingnya. “Apapun risikonya pasti ada jalan keluar mas.”
“So pasti, kalau nggak ada, ya kita cari jalan sendiri. Tikus aja pinter, masa Dhika kagak.’
Aku mencebikkan bibir. “Sombongnya di kurangin deh, sapa tau ini teguran.”
“Percaya diri, Sha. Bukan sombong.” Mas Dhika terbahak lalu melambaikan tangan pada teman-temannya.
“Gue urus dulu kerjaan gue, elo kumpul-kumpul dengan mereka deh. Bilang gue sedih, gue nangis, gue hampir gila biar mereka pada mikir keras waktu lomba besok.”
Ganti aku yang terbahak dan mendorong bahunya. “Kamu licik mas!”
Mas Dhika menarik satu sudut bibirnya. “Begitu cara pria bekerja! Nggak bisa sombong ya merendah, biar lawan di atas angin atau malah down to earth! Kita nggak pernah tahu isi hati seseorang, Sha. Apalagi pria!” bisiknya dengan kejam di telingaku.
Aku memutar bola mata dan pindah ke kerumunan para pembalap. Meneruskan rencana mas Dhika dengan bumbu drama dan air mata yang mengalir tanpa bisa kucegah ketika bercerita bagaimana tragedi itu menimpanya dan membuat segalanya berubah.
...----------------...
__ADS_1