Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Betul begitu ibu-ibu?


__ADS_3

Mas Dhika menutup kios bengkel dan otomotifnya lebih cepat dari hari-hari biasanya. Ia ingin cepat-cepat mengantarku ke rumah sakit untuk memeriksakan calon pembalap generasi F1 yang berkembang di rahimku. Ia ingin rencananya berjalan sesuai rencana, mas Dhika ingin mengetahui jabang bayi berjenis kelamin apakah di dalam rahimku saat ini.


Bandung, lima bulan setelah kami meninggalkan rumah berserta menjual aset-aset. Dengan senyum di bibirnya mas Dhika mencuci tangannya yang kotor karena oli dan gemuk dengan sabun colek di bawah aliran air kran. Rutinitasnya sebagai tukang bengkel khusus reparasi mobil dan motor balap menjadi kegiatannya di kota Paris Van Java ini. Semangatnya semakin berkembang dan rasa kecewanya terus pulih.


Di kota ini. Kami menyukai udara sejuk Dago, menyukai suasana kota kembang dan kulinernya yang beragam. Tapi yang paling kami sukai kami jauh dari radar Dipta. Kami memulai hidup baru di sini dengan semua yang baru meski kami sempat berpindah-pindah tempat untuk menemukan lokasi yang pas untuk rumah dan bisnis yang berdekatan.


“Mau cewek apa cowok semua bisa jadi pembalap asalkan dia mau meneruskan cita-cita papanya.” kata mas Dhika sambil mengusap-usap perutku. Padahal aku tahu, dia menggunakan kausku untuk mengelap tangannya yang basah.


Aku mendengus sembari mengusap perutku.


“Terserah anaknya juga sih mas mau jadi apa, yang penting akalnya baik, berbudi pekerti, paham agama, manis, periang, galak boleh wajar dan terhindar dari teman psikopat.”


“Cie ingat Dipta! Jangan mikirin dia terus lah, ntar anak gue mirip dia malah. Geger serumah.” seloroh mas Dhika seraya mengalungkan tali selempang ke leher. Gayanya sudah beda, perutnya melar, makannya banyak, ngoroknya makin kenceng, sudah jarang pakai perawatan wajah. Mas Dhika betulan seperti tukang bengkel pada umumnya, bapak-bapak banget. Aku sampai khawatir kalau dia semakin melar kaki palsunya tidak kuat menahan beban. Sementara aku begini-begini saja, ikut menjadi pegawai bengkel bagian kasir dan suruh-suruh. Tukang masak, tukang ngomel-ngomel, tulang terima gaji paling besar dari mas Dhika. Haha... tapi ujungnya buat makan dia juga. Haha...


”Tapi jujur aku penasaran sama Dipta mas, dia kira-kira ada di mana ya? Om Bramantyo nggak ngasih laporan?” tanyaku setelah kami masuk mobil bak terbuka sebagai transportasi angkut-angkut dagangan bengkel.


“Ya kalo masih hidup mungkin dia ke tempat yang dia inginkan.”


“Hatiku?” selorohku iseng.


Mas Dhika geleng-geleng kepala seraya menekan klakson mobil. Dia sudah bisa nyetir, Alhamdulillah... tapi bawaannya dia pingin kebut-kebutan terus.


“Jangan ngomong yang enggak-enggak, Sha. Elu lagi hamil, jangan bikin anak gue nanti ikut kepikiran Dipta! Enak aja.”


“Bercanda kok gitu aja mas sewot.”

__ADS_1


Mas Dhika menyalip mini bus di depannya dengan gerakan spontan dan cepat.


“Kumat.” gumamku.


“Gue juga kepikiran Dipta, tapi semakin kita pikirkan dia nanti bakal kena radar intuisi kerinduan kita. Udah males gue, biar dia hidup di negara lain tapi kalo seumpama di meninggal gimana, Sha?”


“Kok mas Dhika bisa kepikiran kayak gitu? Jangan ih, jangan-jangan emang dia udah meninggal dan gentayangan dan bikin kita sekarang ini kepikiran! Mas.” Aku mencengkeram bajunya, takut.


“Amit-amit jabang bayi, Sha. Nggak-nggak, semoga dia masih hidup, sehat, waras dan bahagia.” Doa mas Dhika yang terdengar buru-buru dan khawatir.


Aku tersenyum dan mengamininya. Di manapun Dipta sekarang aku berharap dia waras dan sehat, itu sudah cukup membuatnya sanggup mencari kebahagiaan.


Setibanya di rumah sakit, seperti prosedur yang berlaku kami mendaftar dan mengantri. Beberapa orang yang melintasi kami sering menatap iba kaki palsu mas Dhika, tetapi suamiku sudah hafal dengan tatapan seperti itu dan memakluminya sambil tersenyum.


“Kalau sempurna dari caranya mencintaiku mungkin aku mau ya mas, tapi boro-boro ada cowok yang lebih sempurna dari kamu yang jadi teman Risha. Pertanyaan kok sering ngaco!” gerutuku sambil mengambil air putih di tas.


“Sampai saat ini aku masih merasa aku nggak baik buat kamu, sering ngerepotin kamu, mana kamu yang kerja keras lagi.”


“Gitu doang? Effort dong mas.”


Mas Dhika menguncupkan bibirnya. “Udah effort, tapi gini-gini aja. Bengkel kadang rame kadang sepi, kamu kadang ngeluh capek. Gimana kalo mas buka lowongan aja untuk jaga kasir? Cewek yang pintar matematika gitu, akutansi, dan paham mesin?"


Aku yang memakai sendal gunung menginjak kaki mas Dhika yang hanya menggunakan sendal jepit sampai senyumnya berubah menjadi senyum kecut.


”Nggak ada itu alasan-alasan cari pegawai anyar. Alasan mas doang untuk lihat cewek lain. Lagian Risha masih sanggup kerja bareng mas, aku justru senang pemasukan dan pengeluaran jelas di mata calon ibu sepertiku!” kataku berapi-api.

__ADS_1


“Iya nggak jadi, lagian aku cari pegawai cewek untuk hiburan di toko gitu, nemenin kamu.”


“Gak perlu! Belum butuh!” ucapku seraya melengos.


“Iya... Iya... Jangan marah sayang, mas Dhika cuma usul kok untuk meringankan beban kamu.”


“Ngomong aja mata mas Dhika ini butuh pencerahan. Bertahun-tahun yang dilihat cuma Risha doang, sekarang mau cari masalah.”


Mas Dhika meringis. “Hormon ibu hamil, Sus. Maaf ya heboh.” Alibinya saat suster menanyakan ada apa dengan kami.


Aku menyunggingkan seraya duduk, suster berseragam warna ungu itu sudah pergi. Tetapi antrian yang sudah berjalan sejak tadi membuat kami segera masuk ke ruangan obgyn setelahnya.


“Pokoknya sudah bisa di USG kan, Dok?” tanya mas Dhika, semangat ia berdiri di sampingku yang rebahan di ranjang pasien.


“Sudah bapak, sabar dulu ya. Kita cari lokasinya si adek yang bapaknya mantan pembalap.” kata Bu dokter kandungan sambil menggerakkan alat USG di perutku.


“Wah... Wah... Wah... Kalo setelah saya lihat-lihat sih ini bagusnya jadi Bu dokter atau pembalap juga bisa bapak kalau bapak mengizinkan.”


“Yes, yes, yes... anak gue cewek keren, cewek anti mainstream pokonya mah. Betul Bu dokter?”


“Betul bapak, selamat-selamat. Anda akan menjadi bapak yang hebat dan suami yang keren!”


“Kalo itu sih pasti, Dok.” Mas Dhika membanggakan dirinya sementara aku lemes, punya anak perempuan yang pasti akan di sayang-sayang mas Dhika, di manja-manja sepenuhnya hati dan menggantikan posisiku. Aduh... Gawat. Ini tidak bisa dibiarkan, mas Dhika perlu di servis setiap hari biar olinya lancar dan semangat menjalani hidup. Betul begitu ibu-ibu?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2