
Lima hari setelah batin dikoyak rasa tidak percaya. Aku sedang mengiris sawi putih dan bakso di meja dapur sambil mengigit bibir bawahku. Mas Dhika memelukku dari belakang sambil membalur kulit pahaku dengan sentuhan dan kecupan mesra di tengkuk leherku.
“Kemarin kamu udah janji lho, Sha.” bisiknya pelan di cuping telingaku. Bulu
Aku berdehem dengan intonasi ngegas sambil meletakkan pisau di meja. Belum sarapan, baru makan cracker dan minum teh, aku lapar, masak pun harus di tunda entah berapa menit lamanya.
“Risha masak dulu mas. Kita sarapan dulu karena itu lebih bagus dari harapan!” kataku gugup.
“Nggak usah masak weh, keburu dunia ini terang kembali!” ucapnya mangkel-mangkel gemas.
Aku menengok keluar jendela, “Cerah kok.”
Mas Dhika mengigit bahuku tiba-tiba hingga aku berbalik dan mendelik.
“Duniaku, Sha. Lagi buram ini, entah saking dekatnya kamu di mataku apa aku sudah bernafsu.”
Aku melompong kemudian. Kami terlalu dekat dan lekat sampai dadaku tampak menempel di dadanya. Jantungku berdebar, tubuhku membeku di pelukannya.
Hari ini mungkinkah kesucianku hilang?
Aku mengulum bibirku sambil menggeleng. Mas Dhika meraih pergelangan tanganku dan membawaku ke kamar.
Dengan ekspresi ngeri aku membiarkannya mengunci kamar meski tenagaku jauh lebih kuat untuk menolaknya, tapi janji tinggallah janji.
Mas Dhika ingin menjadi laki-laki seutuhnya sementara aku ingin menjadi seorang istri yang baik padanya. Jadilah, dengan keadaan lapar, ngeri, berdebar-debar, susah payah dan penuh rasa malu kami memulai percobaan yang berkali-kali gagal saat kami mencari jalan menuju kesenangan duniawi dan akhirat.
“Pelan-pelan, mas. Pelan-pelan.” kataku sambil menutupi kepala dengan bantal.
Mas Dhika terkekeh saat perutku keroncong dengan keras meski desakan dan desakan ia berikan dalam tubuhku.
“Gue mau seneng, elu malah ngelawak.”
“Orang dibilang Risha lapar.”
“Oke-oke, gue percepat. Gue percepat.” Aku mencengkeram kasur dengan posisi tengkurap dan duarrrr, meledaknya semua hasrat-hasrat terpendam dalam diri mas Dhika membuat lututnya bergetar dan kami ambruk seketika.
“Minggir mas, lengket.” keluhku dengan suara parau sambil menggoyangkan pinggulku.
Mas Dhika menyingkir lumayan lama dari tubuhku sambil mengatur napasnya yang memburu.
__ADS_1
“Kaki gue pegel banget... Krim pereda nyeri, Sha. Krim nyeri.” ucapnya ngos-ngosan.
Aku memungut selimut di lantai seraya membungkus tubuhku dan pergi mengambilnya di laci meja.
“Makanya pelan-pelan, di bilang pelan-pelan ngeyel.” kataku sambil menyerahkannya.
“Orang enak gimana mau pelan!” keluhnya dengan muka cengengesan. “Pakein dong! Susah mau bangun gue.”
Aku menyambar celana olahraga pendeknya di lantai dan menutupi bagian yang membuatku mual dan penasaran.
“Gitu amat bentuknya, dari segi warna nggak konsisten!”
“Dari pada punya lu nggak ada gradasi warna!”
Aku mendengus sambil tersenyum-senyum saat mengurut kakinya. Di antara geli dan ingin memaki rasanya beda tipis ini sekarang.
Gini banget jadi istri, harus nggak punya malu ya? Ya ampun, Risha. Mas Dhika pasti bakal produktif banget setelah hari ini.
“Kenapa lu? Kenapa pipimu kayak merah gitu?”
“Ya nggak papa, emang nggak boleh?” Aku menutup krim pereda nyerinya lalu menatapnya dengan tatapan datar.
“Jangan gitu terus ya, sakit. Bikin mau jerit-jerit tapi aku tahan-tahan.”
Aku mendengus seraya menjawil miliknya dan pergi. Mas Dhika terbahak-bahak sambil mengelus miliknya sendiri. Hih.
“Risha mandi dulu, mas jangan lupa mandi junub juga. Tahu kan doanya?”
“Bareng aja weh, biar gue juga belajar.”
Aku menjulurkan lidah sembari masuk ke kamar mandi tanpa was-was karena mas Dhika perlu beberapa saat untuk bangkit.
“Lu tega sama gue, Sha. Di sayang-sayang dulu kek ini gue setelah sekian lama malam pertama baru sekarang golnya. Mana susah banget lagi masuknya. Lu kasih kunci itu?”
Aku terbahak-bahak seraya membuka pintu kamar mandi.
“Kuncinya ada di kamu mas, bukan di aku.”
“Halah udah, udah kejebol juga.” ucapnya sambil merangsek maju.
__ADS_1
Aku angkat tangan. Aku nggak biasa begini, melihatnya dalam keadaan polos membuatku salah tingkah dan berpikir keras tentangnya. Tentang berkas otot-ototnya yang liat dan menonjol. Tentang tubuhnya yang selama ini terbungkus pakaian-pakaian rapi dan bagus.
“Ditutup deh mas itunya, jangan di umbar. Nanti di gigit nyamuk bahaya, gatel!”
Mas Dhika menarik kursi plastik yang di gunakannya untuk mandi dan aku cukup bersyukur karena kaki palsunya terbuat dari bahan titanium hingga tidak begitu masalah jika terkena air. Tapi memang butuh dana lumayan tinggi demi terlihat estetik dan kokoh, makanya tak heran jika om Ray menyita uang asuransi mobil dan uang sumbangan pernikahan kami.
“Ntar selesai mandi juga di tutup, kalau gatal tinggal di garuk. Apa susahnya.” ucap mas Dhika acuh tak acuh.
Aku berbalik dan meraih ponselku yang berdering di meja. Nomer yang tidak aku kenal, batinku sambil menaruhnya di meja. Tapi dering telepon kembali terdengar di saat aku mengambil handuk.
“Siapa, Sha?” seru mas Dhika ditengah gemericik air.
“Nggak kenal, gak tau.”
“Di angkat!”
“Ribet lu!” kataku sambil menyambar ponsel. “Selamat siang, bisa saya bantu?”
“Kami dari polisi cyber ingin bertemu dengan saudara Dhika Wahyudin!”
“Baik, Pak. Kami akan segera ke kantor polisi.”
Aku menengok mas Dhika yang sedang keramas sambil bersiul-siul.
“Buruan mandinya, di cari polisi kamu.”
“Wih, mendadak deg-degan gue. Aduh, mampus! Hasilnya gimana kira-kira, Sha?”
Mas Dhika mengelap wajahnya yang basah kuyup dengan tangannya yang berbusa. Matanya yang mendadak pedih membuatnya langsung mengira jawaban atas pertanyaannya adalah apa yang ia rasakan.
“Gak juga lah, kita belum ke sana. Kita belum tahu, makanya sekarang gantian, biar Risha juga sempat sarapan!”
“Gue bikinin mie instan ajalah, bakso sama sawi tadi tinggal cemplung. Lagian kaya orang-orang, habis enak-enak, makan mie jatuhnya lebih enak.” ucapnya sambil meraih handuk yang aku ulurkan.
Pertama-tama mas Dhika mengeringkan kaki palsunya sebelum memakai handuk dengan hati-hati, dia masih belum seimbang, tapi aku yakin dia sudah menerima dengan terus beradaptasi dan terapi.
“Lu mandi agak cepetan ya. Gue penasaran.” ucapnya sambil mencium pipiku.
Aku berdehem sambil melepas selimut kamar di bawah pancuran air. Membiarkan diri ini menerima kesejukan air sumur bor dengan pikiran yang berkelana.
__ADS_1
Mungkinkah Dipta pelakunya? Apakah benih-benih cinta darinya sedang berlomba-lomba balapan menuju sel telur yang berdiam diri di tuba falopi. Apakah aku akan hamil dalam waktu dekat ini? Aku terngiang-ngiang.
...----------------...