
Dengan beragam emosi yang berkecamuk di dada. Aku yakin mas Dhika bahkan aku sendiri tidak sanggup mengambil keputusan yang tepat dalam waktu singkat ini.
Desakan dari vendor pernikahan yang membantu jalannya pernikahan kami nanti berulang kali mengirim pesan menanyakan keputusan akhir pernikahan impian kami.
Aku menyetir mobil dengan cemas, dengan lutut yang tak segera berhenti bergetar aku mencegah diriku berteriak.
Kabar buruk itu yang menimpa kami rupanya sudah keluar dari ranah pribadi keluarga kami dan menyebar ke segala penjuru bagai virus covid 19 yang sempat merenggangkan jarak kami, kamu, dan semua mahkluk hidup.
“Nikah apa kagak ini. Kenapa aku jadi emosional gini sih.”
Aku menghubungi asisten rumah tangga di perempatan jalan untuk mencarikan souvernir sekenanya dan beragam seserahan secara online sebagai jaga-jaga kalau pernikahan kamu lanjut terus.
Lampu hijau menyala. Mobil yang kukemudikan mengantri di loket parkir rumah sakit. Nampak di depanku seperti mobil Tante Dewita. Sedan hijau metalik yang tak luput dari modifikasi putranya.
Aku menyunggingkan senyum sembari menerima karcis parkir dan membuntuti sedan itu mencari lahan parkir yang lengang.
Tante Deswita keluar dari mobil, tatapannya menangkap kedatangan mobilku. Ia menunggu sambil bersandar di badan mobil. Senyumnya merekah dan lewat lambaian tangan ia memintaku untuk bareng ke dalam.
Aku membetulkan jilbabku sembari melangkah ke arahnya.
“Siang, Tant.” Aku mencium punggung tangannya.
Tante Deswita membalas dengan mencium kedua pipiku seraya memasang wajah bercanda.
“Libur kamu? Apa bolos kerja?” tanyanya sembari merangkulku.
“Kerja setengah hari, Tant. Mana bisa bolos.”
Tante Dewita menggelengkan kepala sambil menggandengku.
“Makasih lho kamu sudah mau jemput Dhika, udah jelas nih mobil dan kedatangan mama bakal nganggur pulangnya.”
Aku hanya tersenyum sembari terus berjalan di dalam parkiran basemen diiringi suara blower ke arah elevator.
Hari ini aku cukup berbahagia, mas Dhika sudah diperbolehkan pulang setelah tiga Minggu menetap di rumah sakit. Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya untuk menstabilkan kondisinya sebelum keluar dari gedung ini dengan alat bantu jalan dan kursi roda sebelum menggunakan kaki palsu. Luka bagian dalam masih riskan jika harus mengalami tekanan.
“Tante urus administrasi dulu, Sha. Di sana ada Aga sama papa. Samperin aja.”
Aku mengangguk sembari berpisah dengan Tante Dewita. Elevator membawaku ke lantai lima.
__ADS_1
Di lorong yang sudah tak asing ini aku menyapa perawat yang mengenalku sebagai tunangan mas Dhika dengan senyuman.
Perawat Dina menemani langkahku sembari mendorong troli instrument tingkat dua yang menimbulkan suara.
“Akhirnya pulang, Mbak. Bakal kangen saya ngobrol sama sampean.” ucap perawat yang hendak mengontrol pasien di samping ruang inap mas Dhika. Pasien pengidap demam berdarah dan kolesterol tinggi.
“Santai aja Mbak, nanti aku kasih nomer hp ku.” Candaku sembari menepuk pundaknya.
“Saya jemput dulu pembalap liar yang memporak-porandakan tujuan hidup kami, Mbak. Selamat bekerja.”
Perawat Dina mengangguk dan mengetuk pintu ruang inap sementara aku perlu mengatur napas sebelum bertemu sepasang mata yang sering menunduk lesu.
“Masuk aja, Ris. Sini... Udah nungguin kamu tuh si rese.” seru kak Aga dari ambang pintu. Di tangannya, ia menenteng tas besar laundry bergambar love-love yang semarak warnanya. Putih, ungu, merah muda, hijau dan kuning.
Aku mengulum senyum sembari mendekat. Sementara aku masuk ke ruangan itu kak Aga mohon pamit.
“Siang, om.” kataku terlebih dulu menyapa Om Ray, ayah mas Dhika.
“Risha... Risha... Nanti malam datang ke rumah kamu sama mama. Bicara soal pernikahan kalian!” Om Ray menepuk puncak kepalaku.
“Bagus deh om, Risha juga udah gak sabar.”
“Manisnya, beruntung papa bakal punya mantu sekeren kamu, Ris...” Om Ray menoleh ke putranya. “Awas kamu kalau sampai nyakitin Risha. Habis kamu di tangan papa, Dhik!” Om Ray bersumpah kemudian dengan serius.
“Ya kali aku nyakitin Risha, Pa. Dia lari aja aku nggak bisa kejar! Gimana cara menyakitinya!”
Aku mengembuskan napas sembari tersenyum pedih ke arahnya.
“Ngapain juga di kejar kalau aku lari aja enggak mas. Mikirlah..” Selorohku sembari memakaikan topi di kepalanya.
“Udah ayo cabut. Aku bosen di sini terus.”
Om Ray memakai tas ranselnya, ia mengedarkan pandangannya seolah sedang meneliti barang bawaan keluarga ini sebelum mengiyakan dengan anggukan.
“Papa juga bosen ke sini terus, Ris. Ngurus begajulan satu ini bikin kantong tipis. Mana mobilnya jadi rosokan.”
“Tinggal potong jatah warisan aja apa susahnya, Pa? Pelit.”
“Ya kali potong jatah warisan, Dhik. Kakek nenekmu aja masih idup. Warisan belum turun dodol...” balas Om Ray sembari menonyor kepalanya.
__ADS_1
Mas Dhika mengeluarkan tawanya yang serak seraya menoleh ke arahku yang mendorong kursi rodanya.
“Ngeri amat kamu bakal punya mertua kayak papa, Sha. Dikatain cendol aing.”
“Salah kamu sendiri kali mas bahas-bahas warisan. Emang enak balasannya lebih pedes dari seblak level setan.”
Mas Dhika menguncupkan bibirnya sembari menurunkan topinya sampai menutupi sebagian wajahnya.
“Dengar papa, Dhik. Urusan rumah sakit belum kelar, kamu jangan cari gara-gara lagi dengan ngambek atau pun males terapi! Papa jual semua mobil modifikasi kamu.”
“Lho... lho bentar pa. Maksudnya apa ini?” seru mas Dhika di dalam lift yang membawa kami turun sampai ke lantai basemen.
Om Ray nampak mengulum senyum sembari bersikap pura-pura tidak mendengar.
Tangan mas Dhika menjangkau lutut ayahnya dan mencubitnya.
“Pa! Maksudnya apa sama mobil-mobilku?” bentaknya tidak sabar.
“Papa jual dong buat tambah-tambah biaya rumah sakit.”
Mas Dhika memukul roda kursi roda sembari mengomel panjang pendek serupa bocah yang kehilangan mainan paling berharga baginya.
“Itu mobil kesayanganku, Pa. Dari jaman kuliah. Masa di jual, ke siapa?” katanya dengan nada patah hati.
Om Ray tampak mengingat-ingat dengan keras sebelum menjawabnya. Sementara aku membuka pintu mobil untuk mas Dhika duduki.
“Antar aku ke rumah Dipta, Sha. Aku mau ketemu mobilku.” ucapnya setelah Om Ray menutup pintu penumpang dan memasukkan kursi roda anaknya ke mobilku.
Aku menghidupkan mesin mobil sambil menggerutu dalam hati.
“Kayak gini kok ngaku belum sehat dan kehilangan kepercayaan diri.”
Aku melepas rem tangan dan menggerakkan persneling mobil seraya meliriknya tajam.
“Awas kalau nikahan kita batal gara-gara kamu malu.”
“Enggak, Risha. Suer. Tapi mobilku yang merah harus kembali gimana pun caranya.”
“You better be prepared for our wedding!” Aku menelan pedal gas dan membuatnya berseru kegirangan.
__ADS_1
“Cewek gue marah... Haha...”
...----------------...