
Hari berganti hari, seolah waktu akan berlari. Kejar sesal di hati... Seandainya ku dapat mawas diri, kini ku takkan menyesali...
...Bunga Citra Lestari - Tersanjung....
...----------------...
Aku menoleh kepada dokter dan perawat yang baru masuk ke ruangan ini. Aku melemparkan senyum seraya hendak menyingkir dari tepi ranjang pasien untuk memberi ruang bagi dokter dan perawat memeriksa kondisi mas Dhika tetapi tangannya menahan cardigan rajutku sembari menggelengkan kepala.
“Di sini aja, Ris. Plis.”
“Maaf, Dok.” ucapku rikuh sembari meraih tangannya, “Aku nggak ke mana-mana mas. Udah malu.” Aku berusaha melepas tangannya tapi di cegah sang dokter yang mengangguk samar.
“Di temani saja, Mbak. Kami hanya akan mengecek suhu badan, tensi dan kontrol luka. Tidak berniat memisahkan kalian.” ucap sang dokter seraya tersenyum sambil memasang ear pieces ke telinga dan menempelkan diaphragm ke dada mas Dhika yang memakai baju rumah sakit berwarna biru muda.
Aku menyaksikan wajah mas Dhika murung ketika stetoskop itu memeriksa suara jantungnya, lambungnya, pernapasannya, aliran dalam darah arterinya dan pembuluh balik.
“Deg-degan ya mas?” goda sang dokter sembari melepas ear pieces-nya dan menggantungkannya di leher.
Mas Dhika mengangguk. “Takut Risha pergi.” ucapnya seraya menggenggam tanganku lebih erat. Sementara aku jadi malu. Dia kebangetan jujurnya, cetusku dalam hati.
Sang dokter mengamatiku lalu tersenyum iba. “Di temenin dong Mbak, biar nggak tegang pacarnya. Kasian.”
“Dia tunanganku, Pak. Bukan pacar.” ralat mas Dhika spontan hingga membuatku terdiam jengah.
“Di temani dong Mbak tunangannya, biar jantungnya tidak deg-degan dan proses penyembuhan lebih cepat.” ralat dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi itu seraya mengedip-edipkan mata ke arahku.
__ADS_1
Aku mengangguk. “Iya... Dok... Risha temani.”
Perawat yang memeriksa tensi mas Dhika tersenyum jengah.
“120/90, Dok.” ucapnya sembari menaruh alat tensi darah digital di troli instrumen susun dua di samping obat-obatan yang kupikir akan menjadi obat mas Dhika.
Dokter tadi memeriksa tetesan infus dan transfusi darah sembari mengangguk.
“Nah, ini tandanya mas Dhika perlu istirahat. Boleh kan Mbak Risha pasiennya bobok sebentar. Nggak lama kok...”
Aku mengangguk lagi, memainkan peranku dengan baik. Memang sebaiknya mas Dhika istirahat, tidur. Biar aku juga bisa mengistirahatkan pikiranku dan kakiku sementara waktu sebelum menghadapi pelbagai
“Aku nggak pergi ke mana-mana mas. Sumpah, nanti kamu bangun aku masih ada di sini.” kataku menegaskan saat ia menggelengkan kepala, nampak risau jika mungkin dia tidur, aku menghilang dari sorot matanya.
“Janji?” Sorot matanya gusar dan berusaha menarik tanganku dan menaruhnya di dada.
“Paling aku ke kantin, toilet, atau musala. Nggak hilang di telan bumi kok.” candaku seraya tersenyum.
“Kedengarannya enak banget.” Mas Dhika memanyunkan bibirnya. Sungguh, aku bersyukur yang terluka parah hanyalah kakinya, badannya ke atas nyaris hanya luka dan lebam ringan.
“Yang tenang, nggak usah mikir berat-berat. Oke. Telepon aku kalau nggak ada di sini.” Aku menaruh ponsel pribadiku ke meja.
Mas Dhika dengan teramat enggan melepas tanganku sembari menghela napas.
“Jangan jauh-jauh, Sha.”
__ADS_1
Ya ampun, dia nggak ingat sebulan sebelum batal di jemput maut dia pernah bilang sama aku. Jauh-jauh dulu kek satu hari apa seminggu Sha... Sebel aku ketemu kamu terus dari SMA! Itu pun sembari menonyor keningku.
Aku mencibirnya dengan menjulurkan lidah sembari mundur beberapa langkah, membiarkan sang dokter mengatur infus pump dan menyuntikkan obat di injection site yang menjadi bagian infus berbahan karet elastis yang berfungsi sebagai tempat penusukan jarum suntik untuk pemberian obat intra vena.
“Mas Dhika, kalau ngantuk bobok aja. Nanti ruang ini saya kunci dari luar wes biar Mbak Risha nggak hilang. Setuju.” ucap sang dokter seakan paham dengan kondisi hati pasiennya.
Dengan semangat yang terlihat spontan mas Dhika mengangguk. “Iya... Iya...”
Aku mendengus. Kena batunya kan sekarang membohongi kepercayaanku, lagian ngawur sebulan lagi nikah untuk apa ikut dark race, dia pikir fast and furious yang dia tonton seribu kali dalam setiap serinya tidak butuh persiapan matang?
Secuil dalam hatiku mendadak benci dengan tingkahnya kemarin, tetapi naluriku yang sudah menempati posisi paling atas di keadaan ini tidak ingin membiarkan seorang diri menghadapinya.
Aku mengelus rambutnya sementara kesibukan sang dokter yang mencatat hasil visit di buku rekam medis menjadikan tempat ini hening.
Mas Dhika terus menatapku dengan sorot matanya yang mulai sayu. Senyumnya yang menawan ia berikan dengan malas-malasan.
Aku tersenyum tipis sambil menyaksikannya semakin lama semakin tak kuat menahan matanya tetap terjaga. Mas Dhika terpejam seketika. Dan perawat yang melihatnya sudah di bawah pengaruh obat membuka selimut putih yang sejak tadi menyembunyikan kaki mas Dhika yang membuatku penasaran.
Aku menarik napas dalam-dalam saat dokter Ortopedi dan Traumatologi menatap iba padaku sambil memeriksa hasil operasi kemarin. Kaki mas Dhika benar-benar hilang separo, Ya Allah... Nelangsa banget ini dan tanpa bisa kucegah aku menyentuh perban yang membalut kakinya. Dadaku perlahan terasa perih dan tak satupun anastesi mampu menyembuhkan rasa sesak menusuk tak terperikan di sini.
“Masih bisa bahagia kan, Dok?” tanyaku dengan mata nanar menatapnya dokter pria berambut uban dan berkacamata itu yang wibawanya dan ketekunannya terlihat dari setiap gerakannya.
“Masih.” Dokter itu tersenyum sembari membetulkan selang drain yang mengalirkan cairan dan darah pada luka dan selang kateter urine. ”Nanti kamu saya undang ke webinar atau seminar tentang kiat dan tips merawat pasien pasca operasi amputasi. Datang ya...”
Aku mengiyakan dengan sungguh-sungguh dengan anggukan.
__ADS_1
...----------------...