
Berada di kedai kopi klasik modern yang menjadikan beragam jenis kendaraan baik dari level tradisional sampai ke kategori internasional—becak, sepeda, beragam jenis motor unik sampai ke mobil Volkswagen dan Harley Davidson misalnya—aku dan Dipta duduk di ruang tanpa asap rokok.
Ornamen-ornamen kecil lainnya yang bertemakan klasik Jawa seperti wayang Pandawa Lima yang menjadi latar belakang panggung hiburan dan hiasan-hiasan nyentrik lainnya menambah kesan estetik kedai kopi yang terletak di pusat kota ini. Tapi yang paling nyeleneh bagiku adalah ‘kiso’ wadah pengangkut ayam hingga tak mengherankan kedai kopi yang memiliki bangunan cukup luas dengan banyaknya ruang-ruang estetika menjadikan tempat ini banyak di minati banyak kalangan.
“Nggak di minum kopimu, Sha?” tanya Dipta setelah beberapa saat pesanan kami datang.
Aku menatap caramel coffee cream yang tampak enak di seruput, rasanya pasti seperti biasanya tetapi di tempat favorit mas Dhika yang kerap mengangumi setiap kendaraan bermotor di tempat ini lalu berandai-andai suatu saat nanti akan memiliki salah satu dari deretan motor Harley Davidson yang di display tidak ada keberadaannya cukup membuatku terpikirkan. Sedang memikirkan apa dia sekarang? Pasti galau, lapar, bingung, ngantuk dan pegel-pegel sama sepertiku.
“Kepikiran Dhika?”
Aku menepis tangan Dipta saat ia menyentuh bahuku.
”Don't touch me!” kataku geram sambil menatapnya galak. “Kamu ya! Bukan muhrim!” imbuhku sambil menudingnya sinis.
Dipta tertawa seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kebayang gimana malam pertama kamu sama Dhika, Sha. Pasti babak belur dia.”
Sebagai sahabat lama, aku, mas Dhika dan Dipta sering nongkrong bersama. Tidak pernah ada masalah besar dari SMA sampai detik ini. Rahasia-rahasia yang tersimpan antar persahabatan ini pun sudah lumrah terbagi secara alami bagai membagi contekan kala ujian datang.
“Dia udah babak belur dari dalam, jadi mending jenguk dia deh kamu, Dip. Ajak lihat pameran otomotif kek, ke bengkel biasanya biar pikirannya pindah dari kaki atau bentar...” Aku menyamankan posisi dudukku seraya menatapnya serius.
“Mas Dhika mau buka usaha bengkel dan otomotif, kamu bantu dia gih. Kasian mikir sendiri.”
Dipta mengambil kopinya yang berupa americano latte dari meja kayu seraya meneguknya perlahan-lahan.
“Gak mungkin lah Sha aku tiba-tiba mengajukan bantuan, dia belum cerita. Takutnya ntar di kira meremehkan intelektualnya. Lagian ya semenjak kakinya hilang dia udah jarang say hello di grup komunitas.” jelas Dipta seraya menguap.
Aku mendengus, betul itu mas Dhika, walaupun dia asyik menjadi teman dan apa saja yang dia emban kemarin, soal intelektual dan karateristik dalam membangun keinginan dia sukar menerima masukan. Keras kepalanya begitu tinggi. Tetapi ternyata tidak hanya di rumah, hal itu juga mempengaruhi pertemanannya. Ada yang pasti pergi, ada yang ragu lagi dan mulai meremehkannya. Hanya Dipta yang pasti berkawan baik dengannya.
“Coba silaturahmi ke rumah, jenguk dia, Dip. Mentang-mentang kemarin udah sering ke rumah sakit sekarang kendor lagi!”
__ADS_1
“Aku ngasih waktu kalian buat uwu-uwu... Nggak mungkin dong kemarin-kemarin aku jenguk kalian, ganggu ntar. Salah lagi.” Dipta menyalak lalu mengambil caramel coffee creamku.
“Minum deh, habisin. Terus pulang, lagi beres-beres rumah baru kan? Aku bantu sekalian, lagi nganggur ini.”
“Bagi-bagi pembantu saja sini, aku terima.” kataku seraya menyunggingkan senyum dan menerima kopiku.
Dipta menggeleng. “Janganlah, aku lebih khawatir rumahmu ada pembantu asing. Mending bawa orang dari rumahmu apa Dhika.”
“Nggak mungkin, kita cuma punya satu pembantu rumah.”
“Ya udahlah ya, terima aja dulu begitu. Sekarang pake dulu tenaga gratisan dari aku.”
“Oke kita pulang.”
Aku menyeruput caramel coffee creamku sampai habis dan mendadak perutku terasa kenyang.
Di parkiran, Dipta menyalakan satu batang rokok yang baru diambilnya dari kotak rokok.
“Kamu duluan, Sha. Aku ngekor.”
Aku mendorong pintu gerbang seraya menyuruh Dipta masuk lebih dulu ketimbang mobilku yang parkir di bahu jalan.
“Tunggu bentar!”
Aku memasukkan mobilku sebelum membuka pintu rumah. Mas Dhika masih di sofa, tidur dengan wajah kelabunya yang terlihat sembab.
Aku membelai pipinya sementara Dipta menunggu di ambang pintu sembari bersedekap.
“Bangun mas, di samperin Dipta tuh.”
“Gak usah di ganggu, Sha. Biar istirahat.” ucap Dipta acuh.
__ADS_1
Melihat betapa lelah dan kusutnya wajah mas Dhika sepertinya dia memang butuh istirahat.
“Masuk, Dip. Aku turunin barang-barangku dulu dari mobil baru bisa ngopi lagi kamu.”
“Aku bantuin sekalian sini biar cepat kelar.”
Alhasil kami berdua memang bergotong royong, Dipta menurunkan satu sak beras 25kg dan galon, aku menurunkan yang tidak berat-berat.
Aku menatap Dipta yang sungguh-sungguh membantu kami dengan tulus tapi secuil hatiku tercubit sesuatu yang terasa pedihnya.
Harusnya mas Dhika yang bawa-bawa itu, dia pasti seneng banget bisa menikmati hal-hal yang dia impikan sebelum menjadi bapak-bapak sungguhan.
Kami menaruhnya di dapur yang baru ada kulkas doang, kompor tak ada, apalagi peralatan masaknya. Ampun, kegiatan rumah tangga ini sepertinya belum usai, aku perlu memberi peralatan masak dan makan mana tadi uang mas Dhika di debit card-nya hanya tersisa dua juta.
Aku menghela napas sambil mengeluarkan minuman kemasan dan makanan ringan.
“Minum ini dulu, Dip. Sekalian aku mau keluar lagi, titip mas Dhika ya.”
Dipta menarik penutup minuman kaleng dengan kuat. “Bolehlah, mau cari perabotan pasti?” tukasnya yang aku jawab dengan anggukan kepala.
“Besok udah kerja aku, hari ini harus beres setidaknya urusan dapur.”
“Semangat ya.” Dipta tersenyum hangat sambil memainkan alisnya.
Aku mendengus sambil melemparinya pakcoy yang lantas mengenai dadanya.
“Kalo niat bantuin nih sayuran pada di masukin kulkas, yang lain juga di atur di rak atas. Bisa nggak?”
“Bisalah, udah kamu tenang aja. Buruan beli biar sekalian capek.”
Aku menatapnya serius seraya melambaikan tangan. Aku akan mengambil kesempatan dari orang baik sepertinya dengan memanfaatkannya sekarang.
__ADS_1
Di sofa, aku menghampiri mas Dhika untuk membelai rambutnya dan pipinya.
“Aku pergi lagi mas, ada yang kelupaan.” pamitku, dan dengan iseng aku mencium punggung tangannya sebelum aku menyadari bibirnya menyunggingkan senyum.