Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Menangkapmu


__ADS_3

Aku dan mas Dhika memutuskan melaporkan tindakan tidak menyenangkan ini ke polisi setempat. Sekalipun itu Dipta, aku sudah tidak peduli, dia harus di penjara! Dendamnya sudah merembet ke mana-mana termasuk ke aku—mungkin juga sebentar lagi keluarga kami dalam bahaya jika ia dibiarkan saja!


“Kalo sampai pelakunya orang yang sama, kami benar-benar capek, Pak. Baru juga masalah kemarin kami selesaikan secara kekeluargaan, sekarang dia berulah lagi!” ucapku sambil menunjuk kaki mas Dhika.


“Hampir mati dia, Pak. Hampir gagal nikah kami. Masa iya kami mati di tangan sahabat kami sendiri. Itu nggak mungkin, kami mau jalur hukum! Gak ada itu damai-damaian!”


Polisi sentra pelayanan kepolisian terpadu ‘SPKT’ yang mengetik laporan kami mengangguk. “Kami akan melakukan cross check bukti rekaman hp mas Dhika dan cctv setempat serta mobil yang digunakan tersangka untuk melalukan penangkapan.”


Aku dan mas Dhika mengangguk. ”Boleh kami minta pengawalan pulang, Pak?” tanya mas Dhika tanpa sungkan. “Satu-satunya harapan biar selamat di jalan, Pak. Siapa tau dia masih mengincar kami.” imbuhnya dengan suara khawatir.


“Boleh-boleh. Saya antar ke petugas patroli.” Polisi SPKT mendorong kursi mundur seraya berdiri. Dia memanggilkan polisi patroli bernama Edi yang langsung memandu kami pulang ke rumah dengan selamat.


Tak disangka, pasir dan batu-batuan yang akan digunakan untuk memperindah taman kami berserakan tak karuan di teras rumah. Semua kaca rumah kami pecah. Aku tercengang tak bisa berkata-kata. Ujian pernikahan macam apa ini?


Mas Dhika menggeram sambil menendangi pasir dan batu-batuan hingga menghantam pintu dengan sangat kesal.


“Kalo kayak gini cara lapornya gimana, Pak?” tanya mas Dhika. “Dipta kayaknya beneran psikopat, Sha. Bener-bener kaki empat dia. Brengsek!!! Mana ini janji bapak ibunya yang bakal jaga ketat dia.”


“Saya hubungi teman di kantor, mas. Jauh-jauh dari tkp dulu.” ucap Edi.


Aku terduduk di pinggir taman lalu menghubungi mama. “Datang ke sini, Ma. Risha butuh mama.” kataku setelah mama mengangkat telepon.


Mas Dhika duduk perlahan-lahan di sampingku seraya merangkul bahuku.


“Gue harus datangi Dipta langsung, Sha. Dia kayaknya belum puas menuntaskan sakit hatinya!”


“Bahas nanti aja mas, yang jelas kalo cuma duel sama Dipta aku bisa biar nggak sia-sia sabuk hitamku di kamar!” kataku sambil menyembunyikan wajah di di lipatan tangan.


“Kayaknya Dipta lebih punya masalah sama aku sekarang daripada kamu, mas. Dia marah sama kejadian kemarin!”

__ADS_1


“Gue usahakan kasus ini sampai ke pengadilan!” Mas Dhika menghela napas sambil mengusap punggungku. “Kamu nggak usah takut, banyak-banyak berdoa ya.”


“Ya kamu juga mas!” sahutku. “Kamu banyakin tobatnya, jangan cuma Risha doang.”


“Emosian mas anaknya, marah-marah terus kerjaannya.” gurau mas Dhika. Edi yang tampaknya seusia kami meringis..


“Masalah apa to mas sebenarnya? Punya musuh?” tanya Edi setelah memanggil rekan kerjanya.


Mas Dhika bercerita panjang lebar sampai rasanya aku ingin makan setiap omongannya tentang kami bertiga agar kenyang dan mendapatkan kekuatan untuk marah-marah.


“Risha...” Motor mas Farid yang khas menyelonong masuk ke rumah, mama menghampiriku sambil melepas helm.


“Ya Tuhan.” Mama memelukku dan Dhika bergantian. “Kalian ada yang luka?”


“Hatiku Ma yang luka.” jawab mas Dhika dengan mimik sedih. “Mau honeymoon lho kita. Eh...” Ia nampak mengingat sesuatu.


“Apa jangan-jangan Dipta nguping kita mau honeymoon, Sha? Atau dia enggan kita bahagia? Ma... kita harus gimana?”


”Jadi menurut mama wajar orang tuanya minta kita gak ninggalin Dipta?”


“Gak sih.” Mama menunjukkan mimik tidak suka. “Tapi kalian dibutuhkan untuk observasi dengan ahli kejiwaan Dipta sebagai sahabat, temui orang tuanya saja tanpa sepengetahuan Dipta. Dia pasti malu dan tertekan karena ini lho sebenarnya dia. Ada pergolakan batin di sana.”


Aku dan mas Dhika saling tatap, nggak tahu harus bagaimana terlebih saat pusing-pusingnya sirene polisi terdengar. Mengacaukan keheningan malam di perumahan pinggir sungai ini dan membangunkan para tetangga yang baru beberapa.


Mas Dhika melaporkan kejadian tersebut, Edi dan aku menjadi saksi. Sementara mas Farid dan mama meminta maaf kepada para tetangga dan menyuruh mereka membubarkan diri. Selang setengah jam yang penuh drama pelik, kami memutuskan untuk menginap di rumah mama. Dipta tidak berani dengan mama, aku yakin, seperti mas Dhika, Dipta menghormati mama karena mungkin mamalah jawabannya!


“Kayaknya mama harus yang ngasih masukan ke Dipta deh.” kataku di meja makan, keesokan paginya.


Mama menaruh garpu dan sendoknya ke tempat semula, batal menyantap bubur kacang hijau. “Kenapa emang? Kamu nggak sanggup?”

__ADS_1


“Dipta itu mau jadi seperti mas Dhika, jadi pasti dia anggap mama orang tua yang perlu dihormati untuk mendapatkan kesan.”


“Betul itu, Ma.” sahut mas Dhika. “Minimal walau nggak dapat Risha, mamanya jadi!”


“Ngaco kamu, Dhik!” seru mama berapi-api. “Mama aja sebenarnya takut sama Dipta.”


Mas Dhika tertawa dengan santai seolah tiada beban. “Pakde udah buat jadwal pertemuan dengan pak Bramantyo, kita mau ke sana hari ini, Ma. Sekalian ke kantor polisi.”


“Gini amat masalah kalian! Makan deh biar nggak sakit.” suruh mama.


Aku dan mas Dhika berlomba-lomba menghabiskan sarapan kami dan pamit pergi.


“Kita langsung ke rumah Dipta aja mas. Mau aku labrak dia.” ucapku seraya mengambil jalan pintas.


“Yakin kamu, Sha? Makan bubur kacang hijau doang sama gorengan tiga kuat menghadapi Dipta?”


“Kuatlah...” Aku menyeringai dalam hati, wong sebenarnya aku mau labrak dia dengan cara baik dan lembut. Setidaknya cara itu kalau tidak berhasil ya sudah. Kami akan menggunakan saran mama.


“Sekarang aku turun, mas ikut aja tapi diam apapun yang Risha lakukan.”


“Ih jadi curiga gue.” Aku menghampirinya pos satpam yang tidak ada orangnya. Aku memanggil-manggilnya, menekan bel rumah berulang kali. Tetapi hanya suara anjing yang menggonggong yang terdengar.


Penasaran, aku memanjat pagar rumahnya dengan hati-hati untuk memeriksa keadaan di dalam.


“Sha, Risha. Turun kamu, nanti jatuh kakinya sakit!” seru mas Dhika sambil menarik-narik ujung celanaku.


“Sialan!!!” ucapku mangkel sambil mencengkeram ujung pagar. “Mobil semalam ada di sini mas, tapi anjingnya besar-besar. Banyak lagi. Telepon teman polisi kamu! Cepat.”


“Ya kamu turun dulu, Sha. Aku ngeri kamu di kira maling nanti.” katanya memancing alam sadarku untuk kembali normal.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2