Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Teror


__ADS_3

Malam berikutnya. Diterangi bulan sabit yang cerah, mas Dhika menyunggingkan senyum di depan kawan-kawannya di tempat tongkrongan favorit kami di kafe tengah kota.


Di ruang semi terbuka, aroma tembakau dari shisha yang dihisap oleh teman-temannya bercampur dengan aroma kota dan bisingnya suara kendaraan bermotor yang melintasi kafe ini.


“Gue udah nggak bisa lagi jadi ketua komunitas ini. Untuk itu ada di antara kalian yang mau ganti posisi ini?” ucap mas Dhika tenang meski tanpa kehadiran Dipta di sini.


Mas Dhika memangku sepiring kentang goreng lengkap dengan saus dan mayonaise pedas. “Gue rasa kalian udah tau kenapa. Tapi gue tetap bisa kok ngasih masukan dan kritik tentang balapan dan otomotif.” Ia kembali menyunggingkan senyum seraya melahap kentangnya.


”Tapi kemungkinan nggak dalam waktu dekat ini. Gue mau honeymoon sama Risha ke Bali.” ucapnya berselimut dusta.


Aku mengangguk pun menimpali dengan kebenaran, “Pumpung kakinya udah mendingan geng. Jadi mundurnya mas Dhika untuk istirahat bukan serta-merta membubarkan, kalian masih bisa jalanin komitmen dan konsistensi komunitas ini seperti biasanya dengan ketua baru. Dipta mungkin, atau mas Alif?”


“Kalo biasanya wakil ketua jadi ketua. Mending Dipta aja, Ris. Aku cuma seneng ngikut.” sahut mas Alif lalu cengar-cengir. “Aku nggak pinter, cuma gaya-gaya aja ikutan balapan.”


“Ya kalian bahas aja Dipta mau enggak, lagian apa dia nggak hubungi kalian?”


Pria-pria yang memiliki tatanan rambut dan pakaian yang berbeda-beda menggeleng pelan sambil bertatapan.


“Dia udah jarang chat sih setelah kamu kecelakaan kemarin, dengar-dengar saksi yang ketangkap pada ngomong Dipta masuk ke mobilmu?”


“Jadi di antara kalian nggak ada yang ikut ke sana?” tanyaku heran.


“Nggak, Ris. Kita aja nggak di ajak, itu sama komunitas lain. Teman-teman baru Dipta katanya.”


“Oh...” Aku menerima piring dari mas Dhika yang sudah habis isinya.


“Jadi intinya gitu aja ya, gue udah nggak bisa balapan lagi. Gue mau seneng-seneng dengan cara lain, kalian kalo ketemu Dipta ajakin aja jadi ketua.”


“Bro...” Mas Alif meraih kruk jalan mas Dhika dan menyerahnya. “Jadi bener dugaan itu? Dipta dalangnya?”


“Gue gak bisa benerin itu atau nyangkal itu bro, waktu itu gue baru kencing di belakang pohon. Bisa jadi, mungkin gara-gara gue kencing sembarangan nggak permisi, penunggu pohon itu marah! Noh, yang suka kencing sembarangan hati-hati.” gurau mas Dhika sambil berusaha berdiri.

__ADS_1


Aku tersenyum, mitos seperti itu masih sangat kental di beragam daerah termasuk di Jogja. Jadinya aku harap, penjelasan mas Dhika dan rahasia Dipta masih terjaga. Setidaknya kalau pun mereka bingung, mereka bisa cari kebenarannya.


“Pamit gue bro.” Mas Dhika memeluk kawan-kawan gengnya satu persatu yang tampak iba ketika memandang kaki palsunya.


“Kalian harus tetap solid, yang pasti setia kawan!”


Aku tersenyum sedih saat mas Dhika melambaikan tangan ke arah teman-temannya sebelum lalu ke arah parkiran mobil.


“Siap kamu, Sha?” tanya mas Dhika sambil membuka pintu mobil.


Aku yang juga membuka pintu mobil menatapnya.


“Siap untuk apa?”


“Jalan-jalan di akhir pekan lihat ke kiri dan ke kanan.” serunya dengan menyanyikan lagu Shaggydog.


Aku mendengus. “Kalo gue ya lihat ke depan, nyetir gue!” ucapku meniru gaya bahasanya.


“Elu lucu deh, makin dewasa makin eror.”


Aku menutup mobil dengan keras. “Kita belanja dulu sebelum pulang, jaga-jaga kalau di tempat honeymoon barang-barangnya mahal.”


Ganti mas Dhika yang terkekeh geli. “Terserah elu aja, Sha. Yang penting elu nggak punya beban pikiran.”


Mobil kami perlu beberapa saat keluar dari parkiran kafe sebelum ikut memadati keramaian jalan malam Minggu.


“Habis belanja keliling kota dulu, mas. Sebelum aku ngajak kamu balapan di tol nanti.” kataku dengan cengiran maut.


“Eh-eh..., nggak usah, Sha...” Mas Dhika geleng-geleng kepala. “Aku mau kita biasa-biasa saja ngebutnya, nggak usah balapan. Emang mau balapan sama siapa! Orang asing?”


“Ya jelas dong mas.”

__ADS_1


“Khawatir aku, Sha. Gak usah... Gak usah.”


“Itu yang aku rasakan setiap kamu izin balapan mas!” Aku menginjak rem dan menekan klakson setelah tiba-tiba ada mobil hitam besar menyalip dan menghalangi jalan.


“Mereka punya masalah apa sih.” gerutuku mangkel sambil menekan-nekan klakson terus. “Untung nggak nyosor bumpernya!”


Mas Dhika menyipitkan mata, dia mengambil ponsel di tas weistbag-nya lalu merekam perjalanan kami yang mendadak di penuhi emosi. Mobil hitam besar itu terus menghalangi mobilku bahkan ketika aku hendak menyalip.


“Wah bener mas, dia cari gara-gara sama kita!” kataku geram. “Dia kenal sama kita, Mas!”


“Gue udah kirim video ke teman polisi, kamu coba ikutin aja mereka terus putar balik tanpa aba-aba!”


”Kalo nabrak orang gimana?” kataku jengkel, tempat dudukku menjadi kursi panas.


“Di kira-kira beloknya, Sha. Ada hubungannya balapan sama rumus fisika kecepatan, jarak dan waktu! Kamu ingat rumusnya?”


“Boro-boro mas Dhika Wahyudin! Dikata ini praktek langsung apa!” Aku memeriksa spion, sepi... jarak antara mobil dan motor saling berjauhan dengan kecepatan sedang.


“Seingatku di depan ada kantor polisi mas, kita cari perlindungan di sana.”


“Terserah kamu, Sha! Tapi alangkah baiknya kamu bisa nyalip mereka biar sekalian ketangkap!” seru mas Dhika emosi.


Aku mengambil ancang-ancang untuk menyalip. Tetapi nampaknya keadaan ini sudah di baca pengendara mobil tersebut. Seseorang muncul dari sunroof mobil dan melemparkan sekantong telur ayam dan pasir bergantian seraya menghantam layar kaca mobilku. Aku menjerit dan spontan menginjak rem mobil ketika pandanganku tidak jelas.


“Bangsat!” Maki mas Dhika. “Gue yakin itu Dipta.” Mas Dhika menekan tombol hazard lalu menarik rem tangan.


“Kamu rekam kejadian barusan mas?” tanyaku dengan suara gemetar.


“Iya... Iya...” Mas Dhika mengelus bahuku seolah menenangkan. “Kamu gunain air wiper, aku keluar beli air!”


Aku cuma bisa mengangguk dan mengistirahatkan kepalaku di stir mobil.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2