Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Ayo-ayo


__ADS_3

Pak satpam dan pembantu rumah tangga Dipta memberi kesaksian kepada polisi yang bertugas tentang kaburnya Dipta dan tingkah-tingkah anehnya yang selama ini rapat dia sembunyikan pada kami. Dia memajang fotoku yang besar di kamarnya di atas beberapa potong foto kami dari SMA sampai sekarang yang ia gunting dan hanya menyisakan wajahku dan Dipta saja serta wajah mas Dhika yang di coret silang dengan spidol merah.“Kamu harus kalah!”


Pemadam kebakaran mengamankan selusin anjing penjaga yang akan mereka bawa ke shelter pencinta anjing dan ular sanca kembangnya akan di lepas di daerah konservasi hutan lindung.


Petugas ambulance membawa Saskia yang pingsan ke rumah sakit setelah mengetahui kabar sesungguhnya pujaan hatinya.


Niat jelek kami kandas dan memang niat jelek kadang-kadang tidak terlaksana dengan baik karena niatnya juga hanya setengah hati.


Aku dan mas Dhika duduk lemas di ruang keluarga yang biasanya kami bertiga gunakan untuk melakukan hal bersama-sama dengan suka cita persahabatan yang solid sekali. Tapi ternyata di tempat ini Dipta menyembunyikan sakit hatinya yang remuk seorang diri. Kami salah, tidak ingin menjadi benar meski jengkel, marah, benci dengan Dipta yang entah ada di mana sekarang.


“Om nggak bisa cari Dipta di mana?” tanya mas Dhika.


Om Bramantyo memijat pelipisnya. “Biarkan saja dulu, Dhik. Dia aman.”


“Aman gimana om?” seru mas Dhika. “Dia gila lho, psikopat, gimana kalo macam-macam sendirian?” ucapnya dengan nada khawatir.


Om Bramantyo mengembuskan napas. “Kamu tenang ajalah, Dhik. Dia pergi kamu aman.”


“Bukan begitu om, kasus ini termasuk kriminal lho, Dipta perlu di beri hukuman dan efek jera. Dia merugikan kami!”


“Saya ganti, Dhik. Berapa yang kamu mau?” Om Bramantyo menawarkan dengan santai.


Mas Dhika berdecak sebel. “Aku nggak minta ganti rugi uang om! Tapi Dipta di penjara!”


Tante Debby langsung menunduk lemas, terlihat kepalanya menggeleng samar seolah menolak putranya hendak di penjara.


“Kita usahakan cari Dipta di luar negeri dan membawanya ke jalur hukum.” ucapnya lemah.


“Kami mau bukti bukan janji!” sahut mas Dhika tegas lalu menghela napas dengan kasar. “Bagaimana pun Dipta salah tapi sahabat kami, kami pasti akan memberi keringanan tapi hukum tetap jalan!”


“Sayang kamu sama Dipta?” tanya om Bramantyo.


“Eh.” Mas Dhika angkat tangan. “Kalo gue nggak bisa bohong om, gue emang sayang sama Dipta, nggak bisa gue pungkiri.” Mas Dhika menunduk kemudian, “dia teman baik gue, tapi Risha jodohku.”

__ADS_1


Om Bramantyo mengambil kertas dan menulis perjanjian di atas materai yang bisa kami gunakan untuk menuntut pengadilan ketika Dipta sudah di temukan nanti.


”Sah ini om, pakde?” tanya mas Dhika. Menatap pakde dan om Bramantyo bergantian.


“Saya tidak mungkin mengotori firma hukum saya dengan kebohongan, Dhika! Itu sah, kamu bisa menuntut kami di pengadilan dan saya tidak akan melakukan banding!”


“Bagus.” Mas Dhika membaca surat itu dengan seksama lalu melipat dan menyimpannya di tasku.


“Kita pulang, Sha. Kaki gue udah mau meledak rasanya, capek banget.” keluh mas Dhika sambil menegakkan kruk jalannya. Dia berdiri lalu menatap om Bramantyo dan Tante Debby yang berusaha menguatkan diri.


“Om dan Tante jangan coba-coba melindungi Dipta atau saya sendiri yang akan membuat kakinya seperti ini. Permisi.”


Aku mengikuti mas Dhika keluar rumah bersama dengan turunnya para polisi yang membawa barang bukti.


“Kami menemukan obat terlarang dan minuman keras. Chat mengenai penyerangan terhadap kalian juga sudah kami amankan.”


Mas Dhika mengiyakan. “Saya akan mengikuti proses hukum yang berlangsung sebagai korban, tetapi sepertinya penangkapan tersangka tidak akan mudah pak. Harus ke luar negeri segala ini.”


Mas Dhika nampak mempertimbangkan keputusannya dengan berat.


“Saya sebenarnya perlu bukti kalo dia benar-benar ke luar negeri mas.”


“Soal itu gampang mas, kedatangan dan kepergian orang dari dan ke Indonesia ada datanya. Kami akan membantu.”


Mas Dhika setuju, kami pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan dan mengesahkan surat yang kami bawa di sana demi ketentraman batin yang berputar-putar laksana angin ****** beliung.


Esok harinya. Aku sudah selesai mengepak pakaian kami ke koper dan wadah hang masih ada di sini setelah pindahan dan beristirahat di dapur. Dipta masih ada kemarin, dengan wajah bermuka duanya ia senang membantu kami sambil bercerita tentang keinginannya jika menikah nanti dia akan menemani istrinya belanja dan membantunya membereskan rumah. Secuil hatiku yakin keinginannya itu mulia jika yang dia inginkan bukan aku dan secuil hatiku lagi ia seolah menyindir mas Dhika.


Selesai membuat kopi dan sarapan, aku membangunkan mas Dhika. Mendung menyelimuti sebagian wilayah kota ini ketika kami sedang ngopi di belakang rumah. Lelah membuat kami malas dan enggan bekerja apalagi melanjutkan rencana kami pindah ke kota Bandung dalam waktu dekat.


“Kita mau gimana mas?” tanyaku sambil menyirami tanaman dengan selang air.


Mas Dhika yang berwajah lelah, kusut dan kecut karena semalam kakinya nyut-nyutan menguap lebar-lebar seraya mengusap wajahnya.

__ADS_1


“Tidur dengan AC alami bikin badan gue pegal-pegal, Ris. Ntar kita cari tukang tambal jendela.”


Mas Dhika menyeruput kopinya. Tetapi kopinya tidak berefek samping, dia masih ngantuk saja padahal ini sudah jam sembilan.


“Terus kita jadi pergi ke Bandung?”


“Nggak ke mana-mana, di sini aja. Insyaallah aman.” katanya tanpa niat atau beban. Tetapi kemudian dia menyeringai lebar.


Aku menarik sudut bibirku, bohong dia, mas Dhika trauma. Dia takut hal-hal buruk kembali terjadi pada kami, dia takut aku tidak bahagia justru setelah menikah, dia takut kehilanganku. Semalam sambil menangis dia berkata sumpah serapan untuk Dipta, tapi juga harapan baru untuk sahabatnya itu agar dibukakan pintu hidayah dan kesadaran oleh pemilik semesta.


“Pumpung Dipta pergi, kita juga pergi aja mas. Dia akan sulit cari jejak kita, tapi perlu di catat, kita jual mobil dan hp plus nomernya biar dia nggak bisa lacak keberadaan kita.” bisikku hingga membuatnya merinding.


“Elu bisa nggak bisik-bisik gini lagi? Gue suka nih.”


“Apa sih!” Aku menabok bahunya. “Kita masih dalam masa pusing-pusingnya. Mas nggak usah aneh-aneh ya.” ucapku seraya mencubit hidungnya.


Mas Dhika menahan pergelangan tanganku seraya menempelkan telapak tanganku di pipinya.


“Justru itu, banyak yang bilang aneh-aneh bikin pusing ilang. Bisa di coba, Sha. Sapa tau manjur.” rayu mas Dhika cengengesan


Aku berseru lalu membantunya berdiri. “Tapi emang nggak ada salahnya buat di coba sih mas, yuk-yuk. Biar sekalian capeknya. Biar besok tinggal menuai hasil.”


“Gitu dong, inisiatif ngerayu. Gini kan gue juga semangat, siapa tau kelak anak gue yang jadi pembalap!”


Aku tertawa, tetapi ketika kami memasuki kamar. Gorden yang berkibar-kibar tertiup angin kencang dan menampakkan jendela kamar yang bolong membuatku tertawa.


“Udah di teras belakang rumah aja, kagak ada yang tau, Sha!”


“Ya kali mas! Nggak.”


“Gak papa. Udah ayo, ayo...” seru mas Dhika sambil ganti menarik tanganku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2