
Bergeming di tepi jendela di temani suara kecipak air yang menghantam lantai dengan cepat. Surya bersinar di balik awan mendung ketika sore menjelang menemani kesibukan menuju babak baru yang akan kami lewati nanti malam. Sebuah resepsi pernikahan yang membuatku ketar-ketir berulangkali saat harus memutuskan lanjut atau tidak pesta kami di tengah peristiwa yang mengandung lebih banyak air mata daripada ketegangan silat lidah yang membara.
Kasian mas Dhika sebenarnya, dia pasti malu harus menjamu tamu dengan keadaan itu. Kayaknya nanti perlu koordinasi sama MC biar nggak perlu salam-salaman dengan tamu segudang. Pegel banget pasti kakinya. Mana senyumnya pasti palsu. Ya Allah.
Dadaku sontak serasa sesak sendiri, bukan lagi memikirkan yang dia minta untuk belajar mesra-mesraan apalagi melemaskan otot-otot badan ini demi tidak di sebut kayu. Aku memikirkan perasaannya yang mungkin akan teriris sembilu mendengar kalimat jahat dan mata prihatin dari tamu undangan kami.
Tapi mungkin tidak ya mas Dhika memikirkan hal yang sama? Atau mungkin dia justru bangga, ceria, semringah pacarnya dari SMA menerimanya apa adanya bahkan sudah cacat begitu? Kalau kalian jadi aku kalian gimana? Kalian menebak mas Dhika yang mana?
Aku menegakkan tubuh setelah bersandar di kusen jendela sambil bersedekap ketika suara gemericik air berhenti terdengar.
“Sha..., Risha. Handuknya mana?” seru mas Dhika.
Buset. Aku mencelat dari tepi jendela seraya bimbang. Aku berjalan mondar mandir di depan lemari sambil mengigit kuku jari telunjuk.
“Kalau aku ngasih handuk ke mas Dhika, nanti lihat badannya dong. Uohh... Tidak bisa...” Aku menggeleng kuat-kuat.
“Risha, sayang, kamu di kamar kan?” seru mas Dhika sambil membuka pintu kamar mandi yang mengeluarkan khas, bunyi lonceng yang aku pasang di daun pintu.
Aku membuka pintu lemari dan bersembunyi. Kakiku naik ke tatakan kayu sambil berpegangan dengan kuat pada pinggiran lemari bagian dalam.
“Risha, sayang. Aku bakal kedinginan ini. Buruan cari handuknya.”
Diam, diam, nggak perlu di jawab. Biar aja kedinginan sebentar aja sampai aku siap. Ucapku dalam hati.
“Sha, aku telepon mama lho kalau sampai hitungan tiga nggak ada handuk buat aku!” ancam sambil menggedor-gedor pintu.
Alamak. Mas! Lagian kenapa aku sampai lupa ngasih handuk sebelum mandi.
Aku mendengus jengkel seraya menoleh.
“Sa... tu... Dua... Ti... Ma... Mama...” seru mas Dhika dengan suara baritonnya yang menggema di seluruh kamar.
Aku mencelat dari lemari dan melangkah cepat-cepat ke pintu kamar. Tanganku memutar kunci pintu seraya menghela napas saat mama mengetuknya.
“Kenapa, Dhik? Risha bully kamu?” tanya mama dengan suara panik.
“Risha, nak... kamu jangan macam-macam lho. Belum sehari nikah jangan bikin Dhika trauma. Perjalanan kalian masih panjang. Jangan nakal, jangan ganas-ganas.”
“Kok aku sih, Ma!” sergahku tidak terima. “Kenapa dari tadi Risha yang salah?” kataku jengkel.
“Terus kenapa itu Dhika teriak-teriak? Jangan bikin rumah geger dengan acara kalian berdua ya!”
Aku memutar kunci kamar seraya membuka pintunya sedikit. Mama menatapku, aku menatapnya sambil meringis. Mama mendorong daun pintu tapi langsung melotot saat aku menahannya sekuat tenaga.
“Kenapa, Risha? Menyembunyikan apa kamu?” tanya mama dengan sorot matanya ingin tahu, mama terlihat penasaran sekali dengan apa yang terjadi di dalam kamar sampai ia berjinjit.
“Risha malu, mama.” kataku pelan sambil berjinjit, menghalangi mata mama yang akan menangkap penampakan paling menyeramkan di kamar mandi.
“Kenapa?” tanya mama tanpa memelankan suaranya.
“Risha nggak mau ngasih aku handuk, Ma.” seru mas Dhika di belakang sana.
“Dhika kedinginan di kamar mandi!”
__ADS_1
Ekspresi mama langsung berubah drastis. Mama tersenyum geli sambil menatapku.
“Sengaja kamu?” tukasnya sembari meledekku dengan tatapan mata yang menyipit sengaja.
Aku menarik sudut bibirku. “Masa iya aku sengaja, Ma. Aku lupa.”
”Kasihlah, kasian dia.”
“Malu aku, Ma. Nggak siap. Geli, malu. Sama ngeri juga. Hih.” Aku bergidik.
Mama mengulum senyum seraya menghela napas.
“Di coba pelan-pelan. Udah buruan sana. Nanti berkerut dia.”
“Berkerut?” Dahiku mengernyit. “Apanya, Ma.”
“Kulitnya, Sha. Kasian juga lukanya, Dhika pasti trenyuh lihat itu lama-lama. Pengertian dong!”
“Kenapa Risha yang kena terus sih, Ma. Kenapa nggak mas Dhika aja yang paham.” protesku tidak terima sambil menelengkan kepala.
“Terus harus mama gitu yang ngasih handuk ke Dhika? Jangan gila dong!” ungkap mama dengan berani.
Mas Dhika menyemburkan tawa yang meledak-ledak di kamar mandi sampai aku geregetan ingin membekap mulutnya.
Aku mendengus lalu menoleh kepadanya yang menyembulkan setengah kepalanya.
“Mas sembunyi dulu!” kataku galak.
“Emang kebangetan Risha, Ma. Kasih edukasi terus Ma biar paham.” timpal mas Dhika berapi-api.
Aku menutup pintu kamar seraya berbalik, langkahku tegas diiringi suara mama tersentak kaget dan mengetuk-ngetuk pintu tak sabaran.
“Jangan macam-macam Risha, jangan macam-macam.” Ucapan mama bagai angin lalu, aku menyahut handukku di cantolan baju seraya mendatangi mas Dhika yang ketakutan sampai menutup pintu kamar mandi.
“Buka mas! Buka.” kataku sambil menggebrak pintu. “Aku serahkan handuk ini daripada kulitmu semakin berkerut jelek.”
“Mulus punya gue, nggak berkerut.” sahutnya dari balik pintu seraya terkekeh kecil.
“Bodo amat, pokoknya ini handuknya dan urusan ini selesai. Cepat!”
“Mana bisa.” Mas Dhika membuka pintu kamar mandi seraya menarik tanganku yang terjulur ke arahnya ke dalam mandi.
Aku tergagap seraya memejamkan mata. Mas Dhika yang aku beri kursi untuk memudahkannya mandi pasti sedang bahagia sekarang di singgasana kursi plastik dengan keadaan polos dan ada aku.
Mas Dhika mengusap jemariku sebelum menariknya dengan lembut ke depan wajahnya. Tanganku merasakan embusan napasnya yang hangat sebelum jemariku bersentuhan dengan bibirnya.
Aku merasakan tekstur kulit bibir atasnya yang kasar, berwarna coklat muda dan hangat. Mendadak aku merasa malu dengan keadaan ini, dia pasti mengamati ku penuh candu dahaga.
“Udah.” ucapku pelan.
“Belum.” Mas Dhika menggerakkan tanganku hingga membelai leher dan dadanya yang basah.
Mas Dhika menekan telapak tanganku ke dadanya yang berdetak cepat.
__ADS_1
“Ada patung di depan mataku. Tapi satu yang gue tahu, ada jalan buat kita nanti menuju masa terindah.”
“Apa sih.” keluhku sambil berusaha menarik tanganku dari tubuhnya. Ini ngerayu tidak pada tempatnya, kaki dingin, blower kamar mandi masih berputar. Apa dia nggak kedinginan telanjang seperti ini.
“Aku bisa histeria lho mas.”
Mas Dhika kembali menggerakkan tanganku ke wajahnya.
“Buka matamu dulu, Sha.”
Celaka... Aku menggeleng kuat-kuat. “Pakai dulu handuknya. Jangan gitu, aku nggak akan berubah pikiran sebelum kamu bener-bener pakai handuk.”
“Ya ampun Risha, ngeri banget kamu sama belalai gajah kecilku. Ini nggak bahaya tau.” Mas Dhika menggerakkan tanganku dengan cepat ke bawah, aku menjerit kala itu ada di tanganku.
Mas Dhika terbahak saat aku mengibaskan tangan seraya berbalik dan mencucinya di wastafel.
“Nggak berkerut kan?” tanyanya dengan ceria.
“Nggak, cuma...” Berotot, imbuhku dalam hati. Sekujur tubuhnya merasa geli
“Udah gue tutup nih, nggak usah merem terus. Kek takut timbilan aja lu!”
Aku menoleh perlahan-lahan. Betul sudah di tutup. Aman.
“Aku bantu berdiri terus di pakai sebaik mungkin handuk itu!” ucapku sembari menghampirinya.
Mas Dhika mengangguk lalu tersenyum. “Kamu sudah ternodai, Sha.” katanya saat aku membungkukkan badan seraya merangkulkan tanganku di bawah ketiaknya.
Mas Dhika menyerahkan sebagian bobot tubuhnya ke badanku saat ia mencoba berdiri dengan satu kaki.
Aku memalingkan wajah saat ia membetulkan posisi handuknya.
“Udah, Sha.”
Aku berdehem. “Jangan sampai lepas ya, awas kalau kamu sengaja. Aku juga lepasin kamu!” ancamku sebelum ia berbuat nekad lagi.
“Enggak sayang.” Mas Dhika menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja. “Kamu manis banget tau!”
“Buaya kalau ngerayu memang banyak akalnya.”
“Tapi kamu harus paham, buaya hanya setia pada satu pasangan.”
“Tapi hubungan kita nggak ada sangkut-pautnya sama buaya ya. Ogah juga aku main-main sama buaya!” ucapku saat mengantarnya ke tepi ranjang.
Mas Dhika duduk manis sebelum aku membongkar tas kerilnya, mengeluarkan semua pakaiannya yang membuatku menarik napas dalam waktu lama.
“Pacaran lama sih iya, tapi untuk lihat barang-barang privasi begini ngeri juga aku.” Aku menumpuk barang pribadinya di atas kaus dan celana olahraga panjangnya seraya menyerahkannya.
Pria bertelanjang dada itu tersenyum jengah. “Surga yang aku dambakan sejak lama, Ris. Kamu bikin aku tambah mencintaimu.”
Aku berbalik, yakin seribu yakin dia hanya merayuku sebelum membuka handuk itu. Ih!
...----------------...
__ADS_1