
Raungan demi raungan mesin mobil yang melintasi sirkuit mulai memasuki putaran terakhir. Ketepatan pemilihan ban, pergantian gigi dan skill pengemudi yang menguasai mobilnya tampak memacu kecepatan dengan sebaik-baiknya tapi sengit, satu persatu mobil berusaha menyalip, saling berusaha mengecoh lawan satu sama lain dan putaran terakhir ini membuat Dipta yang kelabakan dengan mesin si merah yang belum mencapai puncak performanya melewati track limit demi menyalip Antoni dari arah luar.
Mas Dhika berseru keranjingan. “Dia bakal kena pinalti!”
“Kok bisa?” tanyaku heran, balapan kali ini rasanya biasa-biasa saja, mataku tidak terjatuh terus-menerus pada mobil mas Dhika yang berada di sirkuit.
Mas Dhika mengambil botol air mineral dari tanganku.
“Ya bisa lah, Sha. Ibaratnya lu mau nyusul orang tapi lu pake cara curang!”
“Oh...”
“Harusnya dua Minggu sebelum perlombaan ini gue harus ganti suspensi si merah. Tapi udah terlanjur di jual. Mana si Dipta terima aja lagi tanpa reparasi lanjutan.” katanya pelan lalu minum.
“Terus posisi Dipta gimana nih?”
“Posisinya turun, dari start nomer dua ke urutan belakang.”
“Nggak menang dong?”
“Ya iyalah... Kecuali kalo dia mau ikut lomba di seri lain.”
“Oh...”
“Ah... oh... mulu lu, prepare buat besok.” Mas Dhika merangkulku sambil nyengir. “Apa yang harus gue lakuin setelah pulang ke Jogja lagi, Sha? Cari bukti?”
“Emangnya sanggup terima kenyataan setelah tahu buktinya mas?”
“Selamanya sama kamu gue sanggup.”
Aku memang tidak akan membiarkannya seorang diri menghadapi persaingan ini. Tetapi pencapaian sang perusak masa depan mas Dhika sudah mencapai titik tertinggi, dia mencelakai dan berusaha menewaskan. Betul mas Dhika memang perlu mencari siapa pun dalang di balik semua ini, dia perlu lebih waspada, termasuk aku.
Di garis finis, Dipta menendang-nendang roda ban seraya melepas helmnya sampai terlempar ke aspal saking kesalnya mungkin, pinalti membuat skornya berkurang dan berujung hilangnya naik podium.
Mas Dhika menyeringai lebar. “Gue bilang apa!”
“Udah, jangan ikutan jahat.” kataku sambil mengelus punggungnya. “Mas Fais udah samperin dia tuh, kita tunggu di sini aja. Takutnya Dipta malu terus pulang ke Jogja nggak dapet gratisan lagi kita.”
__ADS_1
“Risol!” Mas Dhika terbahak. Kami menunggu di pinggir lapangan sambil mengobrol dengan beberapa tim Dipta. Mereka bilang, Dipta dari kemarin lumayan berambisi sampai lupa mobilnya dengan mobil barunya punya banyak perbedaan signifikan dari exhaust system dan porting polish head mesin. Semua lebih mahal punya Dipta, tapi ketepatan dalam bermanuver mas Dhika anti melintir.
“Mobil gue dia beli untuk tambah-tambah biaya operasi kaki gue waktu itu, bang. Bokap gue yang jual. Suspensi masih lawas.”
“Gak ada hubungannya sama suspensi lawas, ngab. Dari pergerakannya, dia kelihatan buru-buru dan ragu padahal cuma butuh ngelewatin satu mobil. Rugi kita, ngab.”
“Emang lagi apes dia.” timpalku. “Udahlah, bahaya ngomongin Dipta sekarang, bang. Udah. Lagi kecewa dia, takutnya dendam kalo kita obrolin diam-diam.”
“Cewek mah susah di ajak ngobrol ginian, bang. Tahunya cuma kasian doang, nggak ngerti menang kalah ada untung ruginya!” protes mas Dhika.
Aku menguncupkan bibir. Insiden kegagalan Dipta naik ke podium membuatnya harus melewati beberapa media yang berkerumun dan menanyakan kegagalannya. Berhubung ia tidak mengetahui keseluruhan modifikasi yang dilakukan mas Dhika dan komponen-komponen yang perlu di perhatikan Dipta hanya menyebutkan penyesalan terhadap tim dan penggemarnya serta akan menebus kekecewaan mereka dengan pertandingan berikutnya.
Aku dan mas Dhika hanya tersenyum sembari bergandengan tangan saat menyambut Dipta. Air mukanya yang tampak menyesal memeluk suamiku sekilas.
“Aku gagal bantu kamu, Dhik. Sorry.”
Mas Dhika tersenyum-senyum, senyuman yang mengandung sinisme tingkat tinggi.
“Santai, Dip. Santai. Kita balik ajalah, sesak napas gue lihat mobil-mobil keren.”
Dipta mengiyakan. Aku dan mas Dhika serta-merta tetap bersikap baik kepada Dipta sampai kita pulang ke Jogja dengan selamat.
Kami memutuskan mampir ke sini, rasa penasaran mas Dhika akan penyidikan kasus kecelakaan yang diikuti ayahnya mengharuskan kami langsung mendatangi rumah yang ia rindukan. Katanya begitu sewaktu perjalanan pulang menggunakan kereta.
Om Ray menatap acuh tak acuh foto mas Dhika waktu di sirkuit Sentul.
“Gini aja pamer lu, gak bangga gue.”
“Bodo amat mau bangga apa kagak, yang penting gue bisa gaya di sana.” Mas Dhika mengambil minyak urut dan membalur kakinya sendiri.
“Terlalu banyak jalan gue, pa. Capek.” keluhnya dengan muka lelah. “Mana capek pikiran lagi, tiba-tiba gue ingat kecelakaan kemarin.”
Ekspresi om Ray yang tadinya enjoy mendadak tegang. “Papa udah tutup masalahnya, nggak ada lagi penyidik atau penangkapan tersangka!”
“Aku mau buka usaha, Pa. Bengkel reparasi mobil balap dan keperluan otomotif, aku juga kena denda dari sponsor, setengah dari fee yang sudah keluar!”
“Terus?” seru om Ray seperti mesin knalpot balap. “Mau minta duit papa juga kamu?”
__ADS_1
“Aku mau jual semua mobilku buat modal, sekalian aku perlu waspada dengan orang yang sabotase mobilku kemarin.”
“Elu ya, baru aja pakai kaki palsu empat hari aja udah belagu pingin ini-itu! Sadar diri kamu, Dhik. Meluluhkan Risha aja nggak mampu kamu!”
Aku meringis saat mas Dhika menendang betisku pelan.
“Elu jangan bikin gue kayak suami takut istri, Sha. Nurut sama aku!” katanya sambil mendelikkan mata.
“Iya. Lanjutin lagi deh meeting-nya.” Aku mempersilakan.
Om Ray mengembuskan napas kasar lalu menatap mas Dhika serius. “Lu ingat-ingat aja semua orang yang ikut drag race liar itu. Beberapa ada yang jadi saksi, beberapa ada yang kabur. Lu bisa waspada sama orang-orang itu.”
“Mampus gue, mana kemarin banyak orang-orang baru.” keluh mas Dhika, tangannya mengepal. “Tapi gue masih ingat dari mana mereka semua.”
“Nah lu bisa gentayangan di rumah mereka, Dhik. Lu takut-takutin tuh biar pada takut!”
“Tapi siapa aja yang jadi saksi, Pa? Ingat?”
“Ingat lah, lebih spesifik lu ke kantor polisi aja. Lu punya duit, lu bisa minta bantuan lagi.”
“Mobil gue kemarin nggak dapat asuransi emang?” tanya mas Dhika dengan raut wajah curiga.
Om Ray perlahan mengumbar senyumnya yang konyol. Mas Dhika pun mendadak uring-uringan sambil merajuk seperti bocah laki-laki yang dikerjai ayahnya.
“Gue pakai buat nikahan lu!” jelas om Ray kemudian.
“Balikin lah, enak aja papa. Separuhnya juga boleh. Jangan semua. Kalo nggak aku juga gentayangan di rumah setiap hari!”
“Papa nggak takut!”
Aku mengapit hidungku agar tidak tertawa. Sementara perdebatan mereka masih terus berlanjut hingga tante Dewita pulang dari pasar.
“Elu berdua kalau masih mau nyusahin hidup mama pergi dari sini. Gak lihat-lihat masih pagi udah tengkar! Lapar nih mama.”
Mas Dhika mengerucutkan bibir sambil bersembunyi di balik punggungku.
“Stres gue. Stres.”
__ADS_1
...----------------...