
Setelah pengambilan gambar selesai dan mengikuti sesi wawancara dengan wartawan otomotif yang meliput gagalnya mas Dhika mewakili kota Yogya di ajang balap Sentul Drag Race. Mas Fais menjamu kami dengan acara makan malam privasi dengan hidangan lezat, lalu di akhiri dengan minum kopi.
“Gue bilang ini bukan untung rugi, Dhik. Gue jamin pak James bakal ngerti kondisi lu sekarang. Kita hanya tuntut setengahnya aja. Cuma untuk ikut lomba lagi, kayaknya kita nggak bisa back up lagi. Lu cari sponsor lain.” Mas Fais menepuk pundak mas Dhika setelah berdiri. Dia pergi keluar dari ruang tunggu yang biasa di gunakan tim pembalap bersiap-siap.
Mas Dhika menghela napas. “Mulai dari awal lagi gue, Sha. Ngemis cari sponsor dan kontrak pembalap.” Mas Dhika menatap kaki palsunya.
“Kadang gue mau benci sama ini, kadang gue sering maki-maki keadaan ini sendirian karena gue takut elu marahi. Tapi gue sekarang bener-bener pengen maki orang.” ucapnya dengan begitu emosional.
Aku menghabiskan tom yam di mangkuk seraya menghabiskan jus mangga. Kenyang terkadang membuatku lebih bersabar daripada mengomelinya.
“Maki aja aku mas, boleh kok.” tawarku tenang.
“Anjing, bangsat! Hidup gue hancur, ngap. Ancur.”
PLAK!
Tanganku melayang bebas ke wajahnya dengan mata mendelik. Dadaku panas karena mas Dhika seperti memarahiku juga.
“Gak gitu kali marahnya, ngawur kamu!” kataku galak.
Mas Dhika memaki sekali lagi sambil memegangi pipinya yang merah. Napasnya yang memburu semakin ngegas-ngegas.
“Sialan, Risha Risol. Katanya boleh. Bohong lu! Mana namparnya pakai tenaga dalam lagi. Sakit dodol!” ucap mas Dhika, gemas dan jengkel berpadu dalam suaranya.
Aku nyengir sambil menyingkirkan tangannya dari pipi dan mengecupnya dengan cepat.
“Udah nggak sakit kan?” tanyaku sambil menatapnya.
Mas Dhika menahan senyum tapi tetap saja terlihat jengkel.
“Lagi dong, biar nggak bales dendam gue nanti.”
“Konyol. Udah yuk pulang.” Aku meraih kruk dah tas ranselku. ”Besok kita harus tampil cantik dan gagah, kita buktikan pada semua orang kita mampu melewatinya.” seruku penuh semangat.
“Harusnya gue yang gaplok elu, tapi gue juga nggak berani sih.” gerutu mas Dhika sambil menggandengku. “Elu doain yang jahat sama gue biar kena balas ya, Sha.”
__ADS_1
“Apa sih! Nggak boleh gitu mas. Dosa, biar karma cari jalannya sendiri.” seruku seraya memandangi sekeliling. Suasana masih ramai di tengah udara dingin kita Bogor, masih banyak persiapan yang di lakukan pihak penyelenggara dan servis kendaraan yang dilakukan mekanik-mekanik handal dari tim sponsor.
“Mau lihat persiapannya?” tawarku.
Mas Dhika mengerjapkan mata seraya berusaha tak acuh.
“Males, mending ke hotel. Lihat film sambil ngelus-elus rambut kamu. Enak nggak capek.”
Mas Dhika meninggalkanku yang keranjingan meledek suasana hatinya yang berubah-ubah. Tetapi benar hanya Tuhan yang tahu bagaimana suasana hati hambanya.
Aku berlari kecil mendahuluinya seraya menjulurkan lidah.
“Tapi jangan film balapan lagi! Bosen.”
“Terus mau lihat apa?”
Aku menjulurkan tangan. “Film yang romantis, atau film kartun? OMG...” Aku menyambar kesempatan tersebut. “Risha udah lama nggak lihat film kartun mas.” seruku histeris.
“Nanti lihat kartun, nanti lihat kartun.”
Mas Dhika mendesis tajam sambil melepas tanganku tiba-tiba. “Udah mau kepala tiga kelakuan masih kayak bocah, pantes susah di ajak senang-senang dunia dan akhirat!”
Mas Dhika menggerutu seraya menoleh sekilas. Menatap semarak malam sebelum pesta drag race yang di jamin meriah besok pagi.
“Tunggu gue, gue pasti akan kembali apa!” ucapnya penuh tekad.
Aku merangkulnya di bawah langit malam yang dingin. Aku menyukai semangatnya yang tak luntur karena keyakinan dalam hati melipat gandakan motivasi.
***
Keesokan paginya. Sirkuit Sentul tak dijumpai matahari pagi. Gerimis turun secara perlahan tapi tidak menyurutkan semangat para pembalap untuk mengadu kebolehan di tempat yang tepat dengan membawa kis—kartu izin start—lisensi yang wajib di miliki pembalap dari ikatan motor Indonesia.
Aku membuka payung putih transparan dan merapatkan diri pada mas Dhika.
Dengan pakaian balapnya yang sengaja di pakai untuk mengenang pertandingan hari ini, mas Dhika tetap dengan bangga memperlihatkan dirinya di tengah keramaian yang sedang berlangsung di sirkuit dan tribun penonton.
__ADS_1
“Gue mau foto dulu di garis start gadis payung, di dekat mantan mobil gue.” selorohnya dengan senyum jahil.
Aku berdehem dan alangkah muak aku dengan sebutan gadis payung. Si dia ada di sini, menatap mas Dhika dengan tatapan mencemooh sambil memayungi pembalap asal Medan.
“Kenapa sih gadis payung harus pakai baju-baju seksi mas? Bahannya panas lagi.” gerutuku sambil berjalan.
Mas Dhika yang jalannya masih timpang dan pelan-pelan menoleh ke tribun penonton, penggemarnya bersorak, menyemangatinya dengan yel-yel andalan.
“Sorry, bro. Gue pensiun dini.” ucapnya dengan toa yang di pinjam dari mas-mas panitia yang kebetulan lewat. “Doain gue aja sama bini lekas punya bayi dan usaha gede.”
“Amin, woy, amin...” balasan mereka dengan serempak.
Mas Dhika mengacungkan jempolnya lalu mengembalikan toa kecil itu dan optimis mendatangi Dipta yang sedang pemanasan fisik.
“Dip, numpang foto-foto bentar ya. Biar emak bapak gue bangga.” selorohnya, di berhasil menguasai diri dari rasa curiga sementara semalam dia mengigau risau.
Dipta menekuk kaki kirinya ke belakang dan menariknya perlahan-lahan. “Sepuasmu, Dhik. Kalo bisa izin aja ke panitia kamu ikut aku balapan.”
“Nggak lah ogah, gue mau nemenin Risha aja lihat balapan. Lebih enak, nggak deg-degan, nggak perlu fokus-fokus amat lagi. Nikmat banget hidup gue sekarang, Dip.” ucap mas Dhika sambil bergaya di depan mantan mobilnya.
Aku mengambil fotonya, dan beberapa wartawan otomotif yang berdiri di luar pembatas sirkuit juga mengabadikan momen konyol ini. Om Ray pasti makin geregetan ini sama anaknya. Bukannya tobat masih aja.
“Keluar jalan, Dip. Udah mau di mulai.” seru mas Fais.
“Mantap!” Mas Dhika mengacungkan kedua jempolnya dengan mimik jenaka. “Lu yang serius, bro. Jangan lupa jadi juara, biar gue kecipratan bonusnya.” imbuhnya seraya menepuk pundak Dipta dan berlalu.
Aku menatapnya lekat-lekat, mencari cerih kebohongan dan kejahatan sambil tersenyum.
“Semangat, Dip. Jangan lupa doa dulu.”
Ia mengangguk dan tersenyum kecut. “Doain aku juga ya.”
Aku mengangguk cepat-cepat dan mengikuti mas Dhika keluar sirkuit.
Di samping mas Fais dan banyak orang dari beragam pendukung, mas Dhika menghela napas di tengah suara mesin balap yang menderu-deru dan sebagian mengeluarkan asap.
__ADS_1
”Gue harap sih Dipta menang mas. Tapi dia lupa pembalap yang terbaik adalah pembalap yang bisa memahami sejauh mana kemampuan mesin dan dia belum memahami sepenuhnya mesin si merah!”
...----------------...