Pernikahan Indah Tak Sempurna

Pernikahan Indah Tak Sempurna
Menuju...


__ADS_3

Aku mengusap bibirku dengan tisu seraya menumpuk piring kotor yang hendak dibereskan oleh pembantu keluarga Ray Atala Wahyudin.


“Jadi bagaimana keputusan keluargamu, Ray?” tanya mama dengan sikap serius setelah makan malam selesai pukul setengah delapan malam.


Tante Dewita menuangkan teh hangat dari teko keramik ke cangkir-cangkir yang di tata pembantu lainnya sembari tersenyum lebar.


“Kamu mirip Risha, Rani. Nggak sabaran!”


Om Ray bersedekap sembari menghela napas. Ekspresinya tampak berpikir keras di tengah diskusi pernikahan kami yang mulai terendus aroma persiapannya. Ketegangan terlihat di wajah mas Dhika, begitu juga ayahnya.


“Kondisi Dhika sebenarnya oke-oke aja, Ra. Cuma... ini, elu tau kan kalo habis nikah ngapain?” Om Ray meringis lebar sambil menatapku dengan ekspresi gemas.


Aku menundukkan kepala sambil menyunggingkan senyum malu.


“Dia ngaku nggak percaya diri. Malu. Takutnya kurang jos terus Risha kecewa.”


“Kok Risha sih om! Gak gitu juga kali, orang Risha malu!”


Mama memejamkan mata mendengar pernyataan itu sebelum memijat keningnya dengan kepala yang menunduk.


“Bukan masalah itu doang, Ray. Seminggu lagi akad, semua udah siap 70%. Masa Dhika yang di pikirin cuma itu doang sih. Akadnya dong, proses ijab nanti dia siap enggak!” protes mama sembari ganti menatap mas Dhika, laki-laki itu meringis geli di dekat ayahnya dengan sungkan.


“Aku jelas siap akadnya, Tante. Nggak ada yang berubah dari niat hati ini. Cuma benar, aku malu, takut Risha kecewa lagi.”


“Kita bicarakan realita aja deh...” sahut mama lugas. “Semua ada perhitungannya, tahap-tahapnya, itu udah jelas. Sekarang kalian duduk berdua deh, tukar cerita enaknya gimana!”


Aku dan mas Dhika sontak saling bertatapan. Bentar, ini maksud mama kami harus membicarakan masalah itu dengan terbuka?


Aku menyunggingkan senyum sembari bersembunyi di balik bahu mama. Gila, logika orang tua susah di tebak saja.


“Nggak harus kan, Ma?” bisikku sangat pelan.


“Harus dong daripada kaget kamu nanti!”

__ADS_1


“Ih, malu. Lihat aja tuh mukanya.” Mama menatap mas Dhika yang tetap nyengir.


“Lebih malu nikahan batal atau diskusi sebentar. Udah gede juga. Nggak ada yang tabu buat kalian!” ucap mama emosional.


“Iya, Sha. Nggak ada yang tabu buat kita. Ngobrol itu yuk berdua.” celetuk mas Dhika.


Om Ray sontak menepis bahunya dengan kasar. “Katanya malu, ini kamu malah malu-maluin!”


“Bercanda doang, Pa. Biar santai gitu.”


“Udah sana cari tempat sepi. Diskusi sampai deal baru ke sini lagi.” ucap Om Ray serius.


“Ke kamarku aja kalo gitu, sepi.” seloroh mas Dhika yang kujawab dengan dengusan.


“Ke rooftop ajalah. Ngadem.”


“Penyiksaan kamu, Ris.” keluh mas Dhika sambil menggeleng. Sementara aku langsung menawarkan rangkulan, membantunya berdiri dan memapahnya menuju anak tangga.


“Udah ke jawab nih, Sha. Malam pertama kita bakal susah.”


Aku memaksakan senyum di wajahku. Benar kata mama tadi sore, laki-laki yang dipikirkan saat menikah slalu menjurus ke nafsu dunia semata. Bukannya bahagia telah mencapai fase terpenting ini setelah beragam cobaan datang silih berganti dan putus nyambung yang berulang kali.


“Berarti nggak usah diskusi dong? Turun aja yuk.”


“Enak aja lu, gak-gak, kita tetap ke atas. Pacaran!”


Sebel. Kendati visi misi kami kadang berbenturan, puncak pemahaman ku tentangnya sudah sampai di fase mengerti.


Aku kembali memapah mas Dhika sewaktu sebelah kakinya menapak anak tangga dan membuka pintu rooftop.


Semilir angin malam yang sejuk, mas Dhika duduk di kursi rotan sementara aku memandangi separuh bulan sambil merenung sebentar sebelum berbalik, menatapnya dengan mataku yang sayu.


“Nggak harus malam pertama kan? Emang harus hari itu juga?” tanyaku segan.

__ADS_1


Mas Dhika mengembuskan napas pelan.


“Sebenarnya nggak harus malam itu juga sih, Sha. Tergantung siap apa nggak. Cuma aku beneran malu, Sha.”


“Malu kenapa?”


“Malu nggak bisa bikin kamu bahagia.”


“Itu doang?”


“Sama... kamu belum pernah lihat bekas operasinya kan? Sama bentuk kakiku sekarang?” ucap mas Dhika sembari melinting celana olahraga. Ia menunjukkan kakinya yang penuh keprihatinan kepadaku.


“Malu kan, Ris. Gue timpang!” ucapnya sedih.


Aku menyunggingkan senyum sembari mengelus kepalanya seperti mengelus kepala bocah yang sedang mengadu kesedihan.


“Emang wajar sih kamu malu mas, cuma aku nggak mikir sejauh kamu.” Aku duduk di sampingnya.


“Aku juga malu tau dan sebenarnya aku cuma males pernikahan kita batal terus jadi gunjingan mas, itu lebih berat sih rasanya, males banget gitu jadi omongan banyak orang.” kataku jujur.


“Tapi aku juga kasian sama kamu, nanti tambah kepikiran. Ribet ya.”


Mas Dhika mengistirahatkan kepalanya di bahuku.


“Gini aja deh, Sha. Kalau kamu mau terima aku seperti ini kita bisa tetap nikah. Tapi aku nggak bisa janjiin kamu banyak hal sekarang.” ucapnya dengan suara gemetar seakan betul-betul sedang mengharu biru benaknya.


“Yang penting kamu nggak nyerah aja, mas. Lainnya mah santai. Orang kata mama banyak cara menuju...” kataku seraya tersenyum aneh sampai mas Dhika mengerutkan keningnya.


“Menuju apa, Sha? Menuju Roma?” tanyanya sok lugu.


Aku mendesah pasrah sambil memalingkan wajah. Ya Tuhan, nggak mungkin kan aku menyebutkan penjelasan mama tadi sore bahwa banyak jalan menuju kesenangan duniawi... Itu memalukan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2