
Langit biru, burung berkicau, aroma aerosol peony dan berry bills bercampur dengan pewangi lantai.
Aku mematikan kipas angin yang digunakan untuk mempercepat proses pengeringan lantai seraya membawa sarapan pagi untuk mas Dhika yang sedang menunggu di samping kolam ikan koi di taman belakang rumah.
“Kopi dan roti bakar setiap hari. Hebat banget kamu, Sha.” ucapnya satire.
Aku tersenyum seraya meraih toples pakan ikan dan mengelap tangannya dengan tisu basah.
“Mbak Martini yang masak berat-berat. Risha males kalo pagi-pagi udah ribet di dapur.” akuku sambil duduk di sampingnya. Mengambil piringku sendiri, roti bakar selai blueberry dan keju.
Mas Dhika mengembuskan napas kasar. “Terus siapa yang masak nanti di rumah baru? Jajan terus? Eh buset... boros dong, Sha.” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Aku mengulurkan roti bakar ke arah bibirnya. “Gak jajan tiap hari juga mas, Risha kerja kok, Risha nggak akan minta uang jajan ke kamu terus.” janjiku sungguh-sungguh.
“Kenapa? Takut ngerepotin aku?” ucapnya seraya mengigit roti bakar dengan mata yang menjureng tajam. “Jangan meremehkan aku, Sha. Boleh kok elu minta uang jajan ke gue, cuma tau diri ya. Gue lagi mau buka usaha.”
“Iya.” Aku menyuapinya lagi sampai rotiku habis dan mas Dhika tersenyum puas. Ia menatapku seraya ganti menyuapiku dengan roti bakarnya yang full keju.
Pipiku mengembung sampai kesusahan mengunyah sementara matanya mulai berbinar-binar jail saat mendesakkan potongan terakhir ke mulutku yang penuh.
Aku mencubit pahanya, mas Dhika terkekeh sambil mengulurkan kopinya. “Biar melek sampai malam!”
Aku lari ke dalam rumah untuk mengambil air putih seraya menghampirinya lagi.
“Kalo Risha tersedak terus susah napas gimana? Mas mau tanggung jawab?” kataku memarahinya.
“Jelas mau, Sha. Masa enggak.” Mas Dhika meraih tanganku di pinggang kanan seraya menciumnya.
__ADS_1
“Apa lagi yang kamu mau dariku?” tanyanya serius.
Aku menggeleng, sudah cukup urusan semalam membuatku ngeri dan malu sekali. Aku takut mengecewakan mas Dhika dengan ucapanku atau penolakanku tentang penyatuan ragawi yang masih belum jadi-jadi, tapi mulutku juga susah mengeremnya jadi aku enggan berharap..
“Nanti Risha masak setiap hari, terus aku maunya mas juga sabar menghadapiku yang malu-malu ini.”
Mas Dhika mengangguk bijak. “Gue tahu itu, gue usahakan untuk memberi yang terbaik bagi urusan kita berdua. Cuma Sha, udah seminggu kita nikah masa iya masih malu? Yang bener dong, sabar ku udah tipis!”
Aku tersenyum malu-malu. “Boleh nggak kalau lampunya di matiin aja? Terus nggak tatap-tatapan?”
“Alamak, terus gimana caranya gue melihat kemolekan tubuhmu Risha kalo harus gelap-gelapan!”
Aku yakin mas Dhika diserbu perasaan mangkel dan gemas yang berkepanjangan hingga ia mengamatiku dengan seksama dengan napas yang memburu.
Aku duduk di sampingnya, di bawah cahaya matahari pagi yang hangat aku menyunggingkan senyum.
“Kalau mas mau lihat, lihat aja, tapi aku merem. Nggak mau lihat tatapan mas yang pasti kelihatan mupeng dan ambisius.”
Aku tergelak seraya menggeram gemas. Sumpah nggak cuma satu kali dua kali dia ngelawak seperti ini. Sering dan aku menerimanya.
Mas Dhika memanasi mesin mobilku sementara aku mulai mengeluarkan koper-koperku, tas dan kardus-kardus berisi beberapa bahan pecah belah yang di siapkan mama.
“Capek banget ya Allah.” Aku menyandarkan tubuh di badan mobil.
“Aku ambilkan minum, Sha.” kata mas Dhika seraya menutup bagasi.
Aku berjingkat dari badan mobil seraya menggeleng. “Gak usah mas, nggak perlu. Aku bisa sendiri.” ucapku sambil lalu. Aku nggak mau menyusahkan mas Dhika barang sekecil saja perhatiannya. Tetapi saat aku kembali ke halaman rumah sambil membawakan air putih ia cemberut sambil melipat kedua tangannya.
__ADS_1
“Gue tahu kakiku cuma satu, cuma plis Sha, jangan anggap aku seperti orang sekarat.” katanya muram.
Aku menunduk dan menghela napas. “Bukan gitu maksudku mas, aku cuma nggak mau bikin repot kamu. Bikin kamu capek. Jangan mikir macem-macem.”
“Ya kalo hal yang mudah terima aja, Ris. Aku juga mau ngasih perhatian ke kamu walaupun kesannya sepele dan kamu bisa. Tapi bagi aku sekarang...” Mas Dhika menyentuh kakinya yang menggantung dan terbungkus celana jins biru tua. “Itu berarti.” ucapnya seraya menundukkan kepala.
Aku diserbu perasaan salah, ini bagaimana sih. Niatnya perhatian lho aku, niatnya baik, tapi ternyata masih di anggap tidak baik.
Aku mengulurkan air minumnya. “Iya deh, Risha minta maaf, aku juga janji yang sepele-pele boleh mas Dhika ribet sendiri, yang berat-berat enggak.”
“Itu pinter, jadi angkat-angkat galon kamu, aku yang bayar. Adil kan?”
Aku mendengus jengkel seraya mengangguk pasrah. Sialan, suami macam apa itu minta istri angkat-angkat galon. Emang dasar Dhika Wahyudin kurang asem!!!
Mas Dhika terkekeh-kekeh waktu aku berpaling dan masuk ke dalam rumah untuk memanggil mama yang baru olahraga di kamarnya. Senam sehat.
“Ma, mau pamit.”
“Udah semua? Mau mama bantu gak?”
“Udah semua, tinggal cabut.”
Mama mengambil jilbab instannya di kasur seraya memakainya sebelum keluar kamar. Ia tersenyum heran menatap mantunya yang merokok dengan santai.
“Pantes ya, Allah ngasih cobaan berat itu ke kamu, Dhik. Kamu kelihatan enjoy saja tuh sekarang.”
Mas Dhika mengembuskan napasnya. “Mau gimana lagi mama Rani, sedih terus kagak ada gunanya. Mending enjoy begini, nggak bikin mama sama Risha kepikiran.”
__ADS_1
“Bagus dong mama suka deh kamu bisa enjoy. Good luck buat rumah tangga kalian.”
Aku masuk ke dalam mobil setelah mencium pipi mama diikuti mas Dhika yang menerima wejangan dari mama sebelum masuk ke mobil.