
Di antara hari spesial dan suasana hati yang berkecamuk. Kupandangi mama tanpa percakapan kata-kata. Kami pun bisu tersekat dalam pesona aura pengantin baru, pagi ini, hari Jumat.
Sudah sejak lama angan-angan yang kuinginkan jadi kenyataan. Hari ini, dalam beberapa jam lagi menikahlah aku dengan mas Dhika di masjid islamic center UAD sesuai harapan yang kami diskusi kala melewati bangunan yang terletak di jalan ring road selatan, Banguntapan, Tamanan, Yogyakarta itu.
“Kita akad di masjid itu dong mas, sanggup nggak kamu?”
“Emang boleh? Masjid kampus itu banyak mahasiswanya!” ucap mas Dhika waktu itu sambil menekan pedal gas dan menyalip bus antar kota dengan si merah.
“Boleh aja, temanku akad di sana.”
“Ya elah, ikut-ikutan teman ternyata.” Mas Dhika tertawa meledek seraya sekilas menatap menara masjid yang berhias bulan sabit dari spion mobil.
“Atur deh, Ris. Mau akad di bulan pun aku sanggup asal kamu yang bayar biayanya.” guraunya sembari tersenyum lebar.
“Hari Jum'at, biar makin seneng kamu.”
“Ih tumben... Sekalian numpang salat Jum'at kamu, biar nggak nakal melulu.” balasku sembari mencubit lengannya.
Mas Dhika menjulurkan lidah seraya meledekku dengan mengatakan aku hobi ceramah.
Kala itu memang iya aku hobi ceramah. Mimpinya jadi pembalap membuatku sengaja di abaikan. Lingkaran pertemanannya pun lebih condong ke sisi negatif. Asli, cita-citanya membuatku khawatir, tapi alih-alih protes, sekalinya di ajak ke sirkuit balap atau melihatnya latihan aku seratus persen semangat dan mendukungnya. Gila banget kan cinta ini?
“Cantik banget deh anak mama. Papa pasti pangling lihat kamu.”
Aku tersipu kala mama memasang mahkota pengantin yang memiliki selendang putih transparan di kepalaku.
“Papa pasti nyesel ninggalin kita cepat-cepat, Ma... Papa kan paling semangat pinjam mobil balapnya mas.”
Mamaku tersenyum gemas. “Untung deh Dhika masih selamat, kalau nggak, udah balapan sama papa di surga sana.”
“Ah mama...” keluhku seraya mengerucut bibir.
__ADS_1
“Semoga keputusan Risha tetap nikah sama mas Dhika bukan awal dari masalah baru yang lebih besar ya, Ma.”
“Ngurus Dhika sekarang bukan ngurus Dhika kemarin, Ris. Pergulatan batin dia lebih besar dan riskan. Kamu banyak sabar dan enjoy aja. Nikah bagi perempuan adalah ibadah panjang. Beda sama laki...”
Mama tersenyum setelah menasihatiku, kemudian mama nampak memperhatikan penampilanku sembari merapikan sekali dua kali gaun pengantinku.
“Udah beres, Sha. Tinggal pakai parfum sama sepatu terus ke depan. Kita berangkat.”
Hanya butuh semenit untuk melakukannya perintah mama, selebihnya cukup lama aku mematut diri di cermin sembari mengatur napas. Jantungku rasanya berdetak kencang sampai rasanya dadaku ikut bergetar.
Nikah juga kamu sama ketua OSIS rese, Sha. Si tukang perintah dan si paling ganteng di hidupmu.
Aku menghela napas sambil mencengkeram tepi meja.
“Di pikir-pikir lagi gila juga kamu, Sha.” kataku pada cermin.
“Dek, udah kali ngacanya. Udah cantik banget kamu. Aduh... Ayo keluar.” seru mas Ferdi dari ambang pintu.
“Males ah, ntar mewek harus make up lagi. Kelamaan!” dengusnya sambil bergerak mundur.
Aku mengerucut bibir sambil mengikutinya keluar rumah. Keluarga mama dari Jakarta dan keluarga papa yang asli Jogja sudah berkumpul. Mereka tersenyum prihatin padaku.
“Hebat banget cucu Oma, keren parah.” puji Oma dari Jakarta sambil menggandeng tanganku. “Ambil risikomu, Nak. Kelak kamu akan menemukan arti cinta sesungguhnya.”
“Ah Oma, Risha nggak boleh nangis tau.” kataku sembari mengeratkan genggamannya. “Doain ya Oma, hari ini lancar.”
“Siap, itu pasti, Nak.”
Pak RT kemudian mengajak kami berdoa bersama sebelum masuk ke dalam mobil.
Aku menghela napas, mengembuskannya, melakukannya berulang kali sambil mengelap telapak tanganku yang berkeringat dingin di saputangan.
__ADS_1
Mama menepuk-nepuk punggung tanganku dengan lembut.
“Istighfar, Sha. Jangan sampai pingsan.”
“Mas Dhika kira-kira sekarang gimana ya, Ma?” tanyaku gugup. “Kira-kira dia semangat nggak, Ma?”
“Semangat nggak semangat, dia tetap harus datang. Kalau seandainya tidak datang, kita samperin ke rumahnya. Bawa sekalian pegawai KUA!” ucap mama tegas.
“Bener ya, Ma.”
Mas Farid menoleh dari kursi penumpang di samping pengemudi.
“Takut banget gagal nikah, Sha. Kenapa, udah ngebet di belai?” Alis mas Farid bergerak-gerak.
“Ma, Abang tuh. Bikin malu.” Aku menyembunyikan wajahku yang merona dengan menjerengkan sapu tangan di depan wajah. Sementara laju mobil yang diiringi patwal polisi semakin dekat ke masjid islamic center UAD.
Aku mengembuskan napas panjang dengan mulut untuk terakhir kalinya seraya berusaha menata perasaan ini lebih bijak. Selang setengah jam kemudian, kami tiba di tempat akad.
Mas Farid membantuku turun dari mobil karena gaunku cukup ribet dengan kain yang bertumpuk-tumpuk sebelum aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lahan parkir tempat ini.
“Belum datang, Ma.” keluhku dengan sorot mata meredup. “Apa mas Dhika mendadak ragu, Ma?” ucapku resah.
“Mama telepon, Ray!”
Aku mengikuti rombongan yang di pandu mas Farid ke pelataran masjid yang memiliki dua menara dan kubah bercat emas selagi mama menepi. Tetapi selagi aku bergulat dengan keresahan. Suara knalpot mobil yang menderu-deru otomatis membuatku berbalik.
Konvoi mobil balap yang di hiasi buket bunga di bagian kapnya satu persatu memasuki lahan parkir dan berbaris rapi.
Aku tersenyum lepas saat mas Dhika keluar dari mobil balapnya nomer 7 dengan bantuan tongkat penyangga jalan.
...----------------...
__ADS_1