
Setelah tiga hari ikut-ikutan mas Dhika melihat balapan liar yang berlangsung setiap malam sampai ikut-ikutan kabur dengan jantung berdebar-debar karena terjadi patroli pamong praja aku mulai mengeluhkan tingkahnya yang mulai terpancing untuk ikut balapan saat menguji motor dengan menggebernya dengan di bengkel sambil bergaya seperti pembalap saat berusaha menyalip rekannya dengan badan membungkuk.
“Risha bakal pulang ke Jogja kalo mas diam-diam keluar rumah terus ikut trek-trekan!” ancamku sambil menodongkan kunci sepuluh di depannya.
“Risha bakal ngadu ke mertua biar dimarahin! Terus Risha nggak mau goda mas lagi, nggak ada itu pakai baju tidur yang bikin Risha mirip tahu yang dijaring kain tipis!”
Mas Dhika menyeringai sambil mematikan stop kontak motor. Ia berdehem-dehem sambil turun dari motor lalu meraih kunci sepuluh yang aku pegang.
“Nggak ada yang nyuruh elu pakai baju tidur tipis dan seksi Risha sayangku, nggak ada.” Mas Dhika menggelengkan kepala dengan muka cengengesan. “Gue nggak nyuruh dan kalo elu nggak mau lagi nggak masalah, aku kasian sama kamu malah. Kedinginan, sering di gigit nyamuk, merasa malu... Terus...”
Tapi...
Aku menguncupkan bibirku sambil berbalik. Melewati tumpukan ban baru dan rak oli ke luar bengkel.
“Aku cuma mau bikin kamu seneng kok, merasa disayangi, dicintai, punya hiburan pribadi daripada lihat-lihat cewek lain!” gerutuku mangkel.
Mas Dhika melemparkan kunci sepuluh ke tumpukan kunci lainnya hingga menimbulkan suara nyaring.
“Sha... Risha.” panggilnya sambil mengejarku dengan langkah timpang dan hati-hati. “Sha, sayang! Stop!” ucapnya dengan nada tegas.
Aku berhenti lalu berkacak pinggang. “Sekali nggak balapan, nggak balapan! Nggak boleh, aku nggak bisa hidup tanpamu!” kataku serius.
Mas Dhika memelukku dari belakang lalu mengusap perutku dengan lembut. “Aku cuma gaya-gayaan, bukan terobsesi lagi, Risha.”
“Bener, sungguh? Ini bagian dari acara ngidamku lho mas, kamu harus menurutiku!”
“Aku yakin bisa, Risha. Tapi aku nggak bisa nggak lihat balapan. Balapan adalah bagian dari duniaku, karena balapan bikin aku Lebih hidup dan semangat.”
Aku berdehem. “Kalo cuma lihat aku nggak bakal larang!”
”Makasih. Tapi apa kamu ngasih izin anak manis kita nanti jadi pembalap? Minimal waktu kecil jadi pembalap push bike gitu?”
__ADS_1
Aku mengembuskan napas seraya mengangguk pasrah. “Asal kamu sportif jadi bapak dan suami. Boleh-boleh aja.”
“Maksudmu?” Mas Dhika mengistirahatkan kepalanya di bahuku. “Sportif gimana?”
Aku mengigit bibir bawahku seraya menoleh. Aku sedikit ragu ingin mengucapkan atau tidak. Tapi ya, aku tetap mengucapkannya aku serius. “Kamu ada waktu buat aku, nggak cuma untuk anak manis kita dan bengkelmu ini.”
“Tar bentar...” Mas Dhika pindah ke depanku lalu menangkup kedua pipiku. Dia menatapku sambil mengedip-edipkan mata. “Maksudnya gue harus adil gitu antara kamu dan anak kita?”
“He'em. Aku yakin mas Dhika pasti sayang banget sama anak manisku terus lupa sama aku. Kamu abai.”
Mas Dhika menyemburkan tawa seraya mencondongkan tubuhnya, ia mengulum bibirku dengan lembut. Bibirnya terasa seperti oli atau memang aroma yang tersebar di sini hanyalah bau oli dan asap motor.
Mas Dhika menarik dirinya lalu tersenyum manis. “Nggak mungkin aku lupa sama kamu, Sha. Aku butuh kamu selamanya untuk menyempurnakanku.”
“Bener mas cuma butuh aku doang untuk menyempurnakan diri? Nggak butuh aku karena kamu cinta banget sama aku?”
Mas Dhika nampak tercengang lalu melirik ke kanan kiri seolah ragu untuk meresponku.
“Hi.” Mas Dhika meringis. “Bicara cinta rasanya geli, Sha. Berasa gue mau bilang cinta pertama kalinya ke kamu. Geli, deg-degan.” Mas Dhika kembali tergelak seraya meraih tanganku dan berlutut.
“Ya Allah, udah umur segini ngomongin cinta. Ampun dah. Tapi gue mau bilang sama kamu. Penting. Dengar dulu.”
Aku berusaha melepas tangannya, tapi mas Dhika tetap kekeh menggenggamnya dengan setengah maksa.
“Gue mau ngomong sesuatu ke elu, elu nggak usah sok alim bentar deh. Ini tangan gue gak najis ya.”
Aku terkejut mendengarnya, itu kata-kata mas Dhika sebelum nembak aku di tepi jalan!
“Ya udah ngomong-ngomong aja, tapi nggak usah gini. Aku malu, Dhik! Kamu ngapain sih.” seruku gugup dan jengkel.
“Gue suka elu marah-marah terus sama gue, Sha. Gue suka sama elu. Gue jatuh cinta.”
__ADS_1
Aku mendelik dan meraih tanganku dengan cepat seraya menyembunyikannya ke belakang badan. “Malu ih bilang begitu di sini, nggak ada tempat lain apa? Nggak punya malu kamu!”
“Mau di kafe dekat sekolah apa KFC?” tawarnya sambil berdiri. Dia terlihat bersemangat. “Tapi kamu terima gue kan? Gue pingin kamu jadi pacarku.” Mas Dhika menyeringai.
“Aku enggak cinta sama kamu.” kataku jujur. “Aku nggak bisa terima.”
Mas Dhika waktu itu cemberut parah, dia meraih helmnya yang nangkring di spion motor.
“Ya udah gue antar pulang sekarang dan lupain kata-kataku barusan.” ucapnya lesu.
Aku mendengus sambil bersedekap. ”Kalo cinta kenapa nggak usaha lagi, suka-suka doang kamu, nggak mau usaha lebih giat.” Aku berseru dan naik ke atas motornya.
“Beliin ayam, ntar kulitnya kamu kasih ke aku semua. Baru kamu ngomong lagi tapi nggak usah pegang-pegang tanganku!”
Di waktu sekarang, Mas Dhika menyunggingkan senyum paham lalu mengajakku ke kedai ayam cepat saji setelah membeli mawar merah sembilan kelopak bunga.
Dengan bangga ia memberinya padaku di tengah suasana kedai makan ayam goreng cepat saji yang ramai.
“Aku butuh kamu karena aku cinta banget sama kamu, Sha... Aku akan melakukan apapun buat kamu termasuk memberikan ayam gorengku sepenuhnya ke kamu sampai ke tulang-tulangnya.” ucap mas Dhika sambil menyerahkannya ayam gorengnya.
Aku tidak terhibur karena setelah memberikannya kepadaku, mas Dhika membelinya lagi dengan tambahan burger dan spaghetti.
”Kalo dulu aku nggak mampu beli tiga porsi, sekarang, cinta adalah porsi kedua setelah makan dan kebutuhan harian, Sha. Nggak perlu cemburu juga sama anak sendiri. Aneh kamu tuh! Masih ragu lagi dengan cinta ini.”
Aku menggeser spaghetti dan burgernya ke depanku. ”Kalo gitu kamu udah paham kan kebutuhan harian dan makanku bertambah? Jadi nggak perlu protes punyamu aku makan!”
“Demi kesejahteraan bersama, mas Dhika mah nurut-nurut saja, Sha. Sok atuh di makan Risha. Biar kenyang, biar nggak marah-marah.”
Aku mendesis tajam dan memukul keningnya dengan mawar merah pemberiannya.
“Bilang cinta doang apa susahnya, malah repot begini dan sampai ke mana-mana! Dasar ego pria nggak berubah-ubah.” seruku sambil menyuapinya spaghetti dan burgernya sampai habis. Sampai dia bersendawa karena kenyang dan bahagia.
__ADS_1
...----------------...